Berita Batu Hari Ini

Eksotisme Kampung Wisata Anggrek Dadaprejo Kota Batu Mampu Gerus Angka Pengangguran, Omzet Miliaran

Eksotisme sejati dalam Kampung anggrek ini juga ada di kemampuan gerakan warga itu yang mampu mengurangi angka pengangguran secara mandiri .

|
Penulis: Dya Ayu | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Dya Ayu
Pengunjung saat melihat keeksotisan bunga anggrek di Kampung Anggrek DD Orchid Nursery Kelurahan Dadaprejo Kecamatan Junrejo Kota Batu. 

Sebelum berhasil menjadi petani anggrek yang sukses dengan omzet miliaran seperti saat ini, ia telah bergulat dengan kesulitan dan banyak penolakan dalam membangun usaha budidaya anggreknya ini.

Ia sempat mendaftar kerja setelah lulus kuliah tahun 2005 silam, namun selalu ditolak.

Ia pernah mencoba peruntungan bekerja ditempat catering, usaha ternak sapi perah dan menjadi kuli, namun tak ada yang berhasil.

Hingga akhirnya ia menekuni hobinya di bidang tanaman anggrek.

Bagi Dedek tanaman anggrek selain indah karena bunganya yang eksotis juga secara harga cenderung stabil sejak dulu hingga saat ini.

"Awalnya cari kerja sana sini tidak dapat, akhirnya menekuni hobi tanaman hias anggrek ini. Modal awal Rp 25 ribu. Sekarang alhamdulilah omzet pernah mencapai Rp 2 miliar dalam sebulan bersama kelompok tani. Itu omzet saya paling tinggi, saat Pandemi Covid-19. Kalau saat ini sekitar Rp 300-400 juta per bulan. Kami juga ikut pameran dan ekspor ke luar negeri," kata Dedek Setia Santoso kepada Suryamalang.com, Kamis (22/2/2024).

Dedek lantas menceritakan sebelum Kelurahan Dadaprejo banyak petani anggrek dan menjadi Kampung Wisata Anggrek seperti saat ini.

Awalnya ia mengawali pelatihan budidaya tanaman anggrek dengan hanya diikuti lima warga saja.

Dari lima warga yang mengikuti pelatihan padanya, hanya satu orang warga yang berhasil sedangkan 4 orang lainnya gagal.

Dari kegagalan itu, Dedek mencari penyebab kegagalannya.

Kegagalannya terjadi karena proses menanam tanaman anggrek memerlukan waktu yang lama, sehingga diperlukan kesabaran dan keuletan.

Mulai menanam sampai berbunga, diperlukan waktu 2 tahun lebih. 

"Selain itu anggrek tidak bisa dimakan, dan warga bingung untuk jualnya di mana, akhirnya tidak banyak yang berhasil saat itu. Tapi setelah berjalannya waktu tahun 2017 di desa ini mulai bertambah menjadi 25 petani, dan sekarang total sudah 120 lebih petani mitra di desa kami," ujarnya.

Selain memberi pelatihan kepada warga di Kelurahan Dadaprejo hingga memiliki kelompok tani, Dedek juga memberikan pelatihan soal anggrek pada siswa serta mahasiswa yang magang ditempatnya dari SMA/SMK maupun perguruan tinggi.

Diharapkan setelah selesai magang para siswa dan mahasiswa tersebut dapat budidaya tanaman anggrek sendiri dan bisa berjualan lewat online.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved