Kampus Malang Raya

Tim ITN Malang Survei Mitigasi di Lokasi Banjir Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur

Tim dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang melakukan survei kebencanaan ke lokasi banjir di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kaltim.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli A
itn
Kondisi banjir di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur. Tim dari ITN Malang melakukan survei kebencanaan di daerah itu. Mahulu dilanda banjir sejak Senin-Jumat (13-17/5/2024). 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Tim dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang melakukan survei kebencanaan ke lokasi banjir di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur.

Mahulu dilanda banjir sejak Senin sampai Jumat (13-17/5/2024). Banjir tersebut disebabkan curah hujan yang sangat tinggi dan puncaknya pada Rabu (15/05/2024)ndengan kategori hujan sangat lebat. Kedatangan tim ITN sebagai tindak lanjut kerjasama antara pemkab setempat dengan PTS di Malang ini.


"Tim survei ITN Malang saat banjir sedang ada di sana. Menurut tim, banjir besar melanda hari Rabu 15 Mei, pukul 17.00 WITA. Kami mewakili sivitas akademika ITN Malang tentunya turut prihatin, dan semoga masyarakat yang terdampak lekas mendapat penanganan yang maksimal," kata Ratri Andinisari SSi MSi PhD, Wakil Bidang Penelitian, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), ITN Malang dalam rilis humas ITN Malang,  Selasa (21/5/2024).

 

Menurut Ratri, dalam kerjasama itu, salah satunya mengenai penataan wilayah berbasis mitigasi bencana. ITN menerjunkan empat surveyor ke Mahulu untuk mencari data seputar banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan lain-lain. Anggota tim yang turun adalah alumni ITN Malang yakni Gudino Lovato Soares, Angel Jouvancha, Ilham Pamungkas Widodo dan M Akbar Alkhatami.


Datang dalam kondisi banjir malah menjadi kesempatan bagi tim survei untuk mendapatkan data dengan kondisi riil Mahakam Ulu saat terjadi banjir. Seperti survei ke beberapa titik dan mengirimkan data ketinggian banjir pada malam tersebut. Yaitu di  titik depan Rumah Makan Marissa (sebelah pelabuhan) pukul 21.52, ketinggian banjir 85 cm. Pukul 23.00 ketinggian naik lagi sampai mencapai 2 meter pada pukul 05.00.


Kegiatan survei akan dilakukan per kecamatan. Sehingga saat terjadi banjir kemarin tim akhirnya bergerak cepat melakukan survei langsung per kecamatan. Menurut Ratri, simulasi mitigasi bencana banjir bisa dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder. Seperti mencari data historis banjir di kecamatan-kecamatan berupa ketinggian banjir di tahun-tahun sebelumnya.


Juga frekuensi kejadian banjir dan parameter lainnya yang nantinya dihubungkan dengan data curah hujan dan korelasinya dengan kejadian bencana lainnya, seperti tanah longsor. "Awalnya kami ingin mengumpulkan data sekunder. Untuk kecamatan atau wilayah yang belum ada data tim mengukur dari bekas banjir pada dinding bangunan dan sebagainya. Ada data-data yang harus diambil ke lapangan secara langsung," alumnus doktoral National Central University (NCU), Taiwan ini.


Karena saat disana terjadi banjir, mereka sekalian mengukur ketinggian banjir dengan tetap memperhatikan keselamatan. Menurutnya, dokumen penataan berbasis mitigasi bencana tersebut berguna dalam mensimulasikan potensi bencana banjir yang akan terjadi di Mahakam Ulu dalam kurun waktu tertentu. Informasi ini dibutuhkan untuk memutakhirkan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Mahulu. 


  • Menurutnya, kegiatan ini merupakan sebuah kajian. Semakin banyak data historis banjir yang didapat maka akan semakin banyak parameter yang ikutkan, maka simulaisnya semakin akurat. "Hasil kajian ini nantinya akan digunakan oleh Dinas PUPR Mahulu dalam melihat daerah mana saja yang akan terpapar bencana dalam jangka waktu 20 tahun kedepan. Setiap 20 tahun harus ada RTRW baru, dengan pembaharuan 5 tahun sekali," ujar Ratri. 
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved