Berita Malang Hari Ini

Analisis Dosen Unmer Malang Gen Z Berburu Kuliner di Pasar Tradisional: Mereka Mudah Bosan

Earlike Sani, menyebutkan fenonema anak muda kembali menyukai pasar tradisional di Kota Malang berburu kuliner karena Gen Z mudah bosan.

|
SURYAMALANG.COM/Purwanto
Aktivitas warga saat nongkrong dan ngopi di pasar tradisional Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Dosen Pariwisata Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Earlike Sani, menyebutkan bahwa fenonema anak muda kembali ke pasar untuk berburu kuliner karena Gen Z adalah orang yang mudah bosan.

"Sekarang ini berubah-ubahnya fenomena sangat cepat sekali. Apalagi yang mendominasi adalah Gen Z."

"Gen Z ini kan orang mudah bosan ya. Waktu awalnya desa wisata, kunjunganya membeludak sampai 2000-5000 per bulan," kata Earlike Sani kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (29/8/2024).

Setelah itu larinya ke mana? Karena sekarang desa wisata mengeluh turun kunjungan wisatanya. Lalu kunjungan ke warkop juga turun.

"Saat pandemi lalu kan warkop menjamur. Sekarang fenomenanya banyak yang tutup karena ditinggalkan pelanggannya. Larinya ke mana? Nah, sekarang itu sepertinya bosan dengan yang itu. Tapi mungkin masih ada yang datang. Tapi sekarang FOMO-nya kembali ke alam atau back to nature ke pasar sebagai kearifan lokal sekarang ini," tandasnya.

Pasar yang dulu kesannya kumuh, sekarang ini sudah beda. Di mana pasar tradisional beralih ke pasar modern dengan kondisi yang sudah bersih. Ada kopian, makanan juga enak-enak.

Jadi ada yang lari ke sini. Media sosial juga memberi peran. Di mana fenomena sekarang adalah orang-orang upload dulu sebelum dimakan.

"Kadang ngeselin pas mau makan, makanan divideo atau difoto dulu buat status for eating di media sosial. Maka orang-orang kan tahunya itu dan gak ngerti rasanya," kata dia.

Akhirnya dicoba oleh yang lain/masyarakat. Dan akhirnya ramai.

"Maka ketika kami ada acara dengan Kementrian Pariwisata, kami ajak orang-orangnya nongkrong di Pasar Klojen."

"Mereka senang sekali. Menikmati kopi sore hari, kesannya melihat Kota Malang yang alami tanpa ditutup-tutupi. Nikmat sekali. Setiap hari minum ke situ dan mereka sudah bosan diajak ke kafe-kafe."

"Inilah sisi orisinalnya. Bukan yang dimodifikasi atau masih otentik. Sambil ngopi, ngeteh, lihat orang jalan, lalu lintas," gambarnya.

Kadang sambil ngopi di pasar melihat orang main catur, saling bercerita. Akhirnya keramah-tamahan itu tergali di situ.

"Apalagi manusia kan mahluk sosial ya. Senang berhubungan dengan orang lokal. Itu dicari. Fenomena itu menjadikan pasar kembali ramai."

"Apalagi di pasar, makanan-makanan itu tidak kalah dengan kafe-kafe. Bisa jadi rasanya lebih enak dan harganya terjangkau," terang dia. Karena itu usaha kuliner itu jadi kebutuhan dan tidak pernah mati.

Namun yang ia amati, gayanya yang berubah mengikuti trends.

"Mengikuti pasar kemana inginnya. Kalau dulu sempat booming yang elit adalah kafe yang high class, sekarang ini malah ke alami. Lebih ke arifan lokal, blusukan."

"Gak cuma makanan, pemimpin sekarang juga lebih down to earth mengikuti arah itu," katanya.

Dijelaskan, dalam kuliner itu, ada istilah gastronomi. Gastronomi bukan hanya makanan, tapi mengetahui lebih dalam tentang makanan itu. Mulai dari kandungannya, budaya, sejarahnya.

Di Malang ini sudah diputuskan oleh Kemenparenkraf bahwa bakso sebagai gastronominya. Sempat ada perdebatan apakah bakso, cwi mie atau bakwan.

Akhirnya diputuskan bakso sebagai gastronomi sebagai kuliner malang. Tentang fenomena keramaian di pasar itu, peran pengelola pasar harus mengedepankan kebersihan atau higienitas.

Di makanan itu ada lisensi halal. Sedang sanitasi higienitas juga harus diperhatikan pengelola kedai.

Bahkan ketika mendirikan usaha, untuk memenuhi  perizinannya bahkan sampai diperhatikan kemana pembuangan limbahnya, masakan berminyak dibuang kemana dan lainnya.

"Jika punya izin usaha/warung/depot, akan diperiksa sedetil itu. CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) harus diperhatikan," katanya.

Ia menyebut sempat heboh di Malang, dimana di salah satu makanan ada uget-ugetnya danan viral di Malang.

"Kadang yang lalai itu pengelola/usaha makanan itu. Ketika ramai sudah melalaikan sanitasi higiensnya."

"Mungkin satu hari yang datang banyak. Sehingga membuat stok banyak. Ketika tidak habis, dijual keesokan harinya. Itu berpengaruh pada kualitas makanan."

"Karena jika tidak memperhatikan kebersihan, maka ada lalat atau cara mencuci sayur yang kurang bersih sehingga ada ulatnya. Jadi ini perlu diperhatikan pengelola kedai," kata dia

Juga buat pengelola pasar karena dulu kan hanya lapak biasa tapi sekarang jadi tempat jualan makanan. Apalagi kalau pagi dipakai pasar, malam buat jualan makanan.

"Seperti di Pasar Klojen meski sudah dipisah-pisah penjual makanan dan lainnya, tetap harus diperhatikan sanitasi higienitasnya dan CHSE."

"Sebab lalat itu kan tidak tahu terbangnya kemana. Bisa jadi habis dari sayuran ke lainnya. Dan tidak bisa menghalanginya. Maka makanan harus ditutup," kata dosen ini.

Kalau zaman dulu, ada etalase kaca di warung.

"Sekarang kedainya kan seperti open kitchen. Bagus sih dari sisi estetik kalau warungnya kecil."

"Tapi yang jauh lebih lebih riskan adalah jika makanan dijual tanpa penutup. Itu yang akan dihinggapi lalat atau serangga yang berbahaya," pungkasnya.

 

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved