Rabu, 22 April 2026

Rakernas Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia Digelar di Universitas Brawijaya Malang

Universitas Brawijaya (UB) Malang menjadi tuan rumah seminar dan Rakernas Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) pada 6-7 Januari 2025.

SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
RAKERNAS - Selama dua hari bertempat di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB) Malang ada Rakernas Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) pada 6-7 Januari 2025. Setidaknya ada dua isu yang diangkat dalam pertemuan tersebut. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Universitas Brawijaya (UB) Malang menjadi tuan rumah seminar dan Rakernas Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) pada 6-7 Januari 2025.

Menurut Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi SSos MAB PhD, Rakernas membahas dua Isu dalam pertemuan itu.

"Isunya ada dua yaitu terkait kelembagaan di mana di nomenklatur sebelumnya ada Ditjen Pendidikan Tinggi Vokasi yang kemudian sekarang geser ke Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah," jelas Mawardi kepada wartawan di sela kegiatan.

Dr Beny Bandanadja ST MT sebagai Direktur Kelembagaan Ditjen Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek terkait nomenklatur itu.

Isu kedua adalah terkait topiknya, yaitu "Akselerasi Inovasi Yang Inklusif dan Berkelanjutan Menuju Pendidikan Tinggi Yang Berdaya Saing Global.

Pertemuan juga mengundang pakar IT Dr Ono W Purbo yang memberikan materi bagaimana teknologi itu bisa dikembangkan untuk kepentingan yang lebih luas.

"Ono W Purbo, orang IT selama ini berjuang agar IT bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat," ujar dekan.

Tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan tinggi vokasi adalah branding pendidikan vokasi.

"Jika mengacu pada negara maju, posisi mahasiswa yang memilih vokasi dibanding akademik, hampir 50 persen."

"Dan di sektor pekerjaan, lulusan vokasi relatif memiliki pendapatan yang hampir sama atau lebih tinggi dari lulusan pendidikan akademik."

"Tapi kondisi ini 'njomplang' dalam konteks Indonesia. Jumlah pendidikan tinggi vokasi tidak lebih dari delapan persen dibanding pendidikan akademik," tutur dia.

Dan pendidikan vokasi dipandang sebagai kelas dua di Indonesia. Padahal di level menteri dan wamen juga menyampaikan bahwa pendidikan vokasi adalah solusi dan SDM di Indonesia.

"Maka tantangannya adalah membuat branding atau public opini pada vokasi sebagai pendidikan solutif di Indonesia," pungkasnya.

Rektor UB Prof Widodo berharap pendidikan vokasi memiliki link and match dengan industri. Tapi juga harus disupport pengembangan inovasi teknologinya dan yang dasar.

Sehingga pengembangan vokasi, idealnya menyatu dengan pendidikan akademik dan tak terpisah-pisahkan agar pengembangan risetnya nyambung dari hulu sampai hilir.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved