Tabung LPG 3 Kg Langka
Pelaku UMKM di Kota Malang Tegaskan Rela Harga LPG 3 Kg Naik Sedikit Asalkan Mudah Didapat
Selain lebih cepat karena tak jauh, secara tidak langsung beli LPG 3 Kg di pengecer juga membantu mengangkat perekonomian dari toko-toko pengecer
Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, MALANG - Kebijakan pemerintah pusat terhadap distribusi serta penjualan elpiji 3 kilogram terus berubah-ubah.
Seperti diketahui sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melarang penjualan gas melon tersebut lewat pedagang eceran.
Namun tidak lama kebijakan itu kembali berubah, setelah Presiden Prabowo menetapkan bahwa elpiji 3 kilogram dapat diperjualbelikan oleh pengecer.
Tetapi sebutan pengecer itu diubah dan dijadikan sebagai sub pangkalan.
Salah satu pelaku UMKM kuliner di Kota Malang yang bergerak di bidang kafe kopi, Didik Sapari mengatakan, bahwa selama ini lebih memilih beli elpiji 3 kilogram buat tempat usahanya di toko-toko pengecer.
"Kalau saya selama ini, membeli elpiji di toko-toko pengecer biasa. Selain lebih cepat karena tak jauh dari kafe saya, secara tidak langsung juga membantu mengangkat perekonomian dari toko-toko pengecer ini," jelas Didik, Minggu (9/2/2025).
Dirinya pun mengakui, bahwa harga elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer sedikit lebih mahal dibandingkan langsung membelinya di pangkalan.
Sebagai informasi, Harga Eceran Tertinggi (HET) elpiji 3 kilogram di pangkalan sebesar Rp 18 ribu, namun ketika sudah sampai di tingkat pengecer bisa menjadi Rp 20 hingga Rp 21 ribu.
"Intinya sebagai pelaku UMKM, pengennya yang cepat. Dalam arti lebih mahal sedikit (di tingkat pengecer) tidak apa-apa, asalkan stok elpijinya selalu tersedia,"
"Kan tidak mungkin juga sampai menutup tempat usaha sementara waktu, hanya untuk sekedar mencari elpiji yang murah. Dan kami sebagai UMKM, tentunya hanya mampu membeli yang elpiji 3 kilogram," ungkapnya.
Di samping itu, ia juga menilai selisih harga elpiji 3 kilogram di tingkat pangkalan maupun pengecer juga tidak seberapa. Artinya, masih di ambang batas kewajaran.
"Selisihnya antara pangkalan dan pengecer juga tidak banyak. Dan tidak sampai terlalu berefek ke Harga Pokok Penjualan (HPP) di tempat usaha saya," tambahnya.
Ia menerangkan, bahwa di tiap tempat usaha kafenya selalu menyiapkan 3 tabung elpiji 3 kilogram.
Terdiri dari 2 tabung dipakai untuk usaha produksi dan satu tabung sebagai cadangan.
"Di tempat usaha saya, saya selalu memakai dua kompor. Sehingga, butuh 2 elpiji 3 kilogram plus satunya buat cadangan," imbuhnya.
Di sisi lain, ia juga berharap pemerintah pusat lebih memperhatikan keterkaitannya dengan distribusi elpiji 3 kilogram bagi pelaku UMKM.
"Harapan saya sebagai pelaku UMKM terkait distribusi maupun ketersediaan elpiji 3 kilogram, yaitu memilih enak. Dalam arti enak itu maksudnya mudah didapat. Mahal sedikit tidak apa-apa, asal selali tersedia," tandasnya.
Pengecer LPG Kota Batu Kembali Berjualan Usai Daftar jadi Sub Pangkalan, Kiriman Tak Tentu |
![]() |
---|
Tak Ada Lagi Antrian LPG 3 Kilogram di Kota Batu, Warga Lega Pasca Presiden Batalkan Kebijakan |
![]() |
---|
Curhat Emak-Emak di Kota Malang Sempat Sulit Beli Gas LPG 3 Kg, Tapi Kini Normal Lagi |
![]() |
---|
'Pecat Bahlil' Unek-unek Buruh Semprot Menteri ESDM Buat Aturan LPG 3 Kg Ngawur, Presiden Turun Lagi |
![]() |
---|
UPDATE Harga LPG 3 Kg di Pengecer dan Pangkalan, Tanpa Subsidi Rp 42.750 Aslinya Rp 12.750 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.