Surabaya
Bensin Sawit Hasil Penelitian ITS Bisa Jadi Sumber Energi Terbarukan
ITS terus memperkuat inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit
Penulis: sulvi sofiana | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit dikembangkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
- Teknologi ini memungkinkan crude palm oil (CPO) diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai alternatif energi
- Benwit atau bensis sawit dikembangkan menggunakan metode catalytic cracking, yakni proses pemecahan molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul lebih kecil yang setara bahan bakar
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperkuat inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit.
Teknologi ini memungkinkan crude palm oil (CPO) diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai alternatif energi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional di tengah tantangan krisis global.
Guru Besar Teknik Material dan Metalurgi ITS, Prof Hosta Ardhynanta, menjelaskan bahwa bensin sawit atau Benwit dikembangkan menggunakan metode catalytic cracking, yakni proses pemecahan molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul lebih kecil yang setara bahan bakar.
“Kami mengembangkan teknologi pengolahan minyak mentah kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak dengan metode catalytic cracking,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (7/4/2026).
Ia mengungkapkan, riset Benwit telah melalui tahapan panjang.
Penelitian awal berlangsung sekitar tiga tahun, sementara riset inti berjalan selama dua tahun dengan dukungan berbagai pihak.
“Penelitian ini kami lakukan mulai dari skala laboratorium hingga skala mimik (prototipe),” jelasnya.
Baca juga: Sosok Kuok Group Pemilik Wilmar Kembalikan Uang Rp11 Triliun Kasus Korupsi, Raksasa Sawit Dunia
Dalam proses pengembangannya, riset ini melibatkan sekitar 20 mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai S1, S2 hingga S3, serta lintas departemen di ITS.
“Cukup banyak mahasiswa yang terlibat, terutama dari S2 dan S3, dan ini lintas departemen,” tambahnya.
Menurut Prof Hosta, pemilihan kelapa sawit sebagai bahan baku didasarkan pada potensi besar Indonesia sebagai produsen CPO.
“Minyak sawit jumlahnya sangat besar dibandingkan tanaman lain."
"Sebagian besar bahkan belum dimanfaatkan optimal, sehingga potensinya sangat besar untuk bahan bakar,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Benwit berbeda dengan bahan bakar nabati lain seperti bioetanol maupun biodiesel.
“Kalau bioetanol atau biogasolin lain bahan bakunya dari etanol, sementara ini langsung dari CPO sawit,” terangnya.
Dari sisi efisiensi, konversi CPO menjadi bahan bakar mencapai 50 hingga 55 persen tanpa menghasilkan limbah yang terbuang.
| Aturan Baru SPMB 2026: Nilai TKA Jadi Syarat Jalur Prestasi, Kuota Sekolah Swasta Ikut Diperluas |
|
|---|
| Cara Kirim Paket Lewat Bus Trans Jatim: Kini Buka Layanan Ekspedisi dan Masih Gratis |
|
|---|
| Beli LPG Untuk Rumah Tangga Kini Dibatasi Maksimal 10 Tabung, UMKM Wajib Punya NIB Urusnya Mudah |
|
|---|
| 600 Jukir di Surabaya Diberhentikan Gegara Ogah Dukung Program Parkir Digital |
|
|---|
| Dukung Sekolah Rakyat, Sektor Pendidikan Jadi Kunci Penting untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/BENSIN-SAWIT-Tim-peneliti-Institut-Teknologi-Sepuluh-Nopember-ITS-bensin-biogasoline.jpg)