Kamis, 9 April 2026

Surabaya

Bensin Sawit Hasil Penelitian ITS Bisa Jadi Sumber Energi Terbarukan

ITS terus memperkuat inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit

Penulis: sulvi sofiana | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/sulvi sofiana
BENSIN SAWIT - Tim peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menunjukkan pemakaian bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit untuk kendaraan bermotor sebagai energi terbarukan di depan lobby Research Center, Selasa (7/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit dikembangkan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
  • Teknologi ini memungkinkan crude palm oil (CPO) diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai alternatif energi
  • Benwit atau bensis sawit dikembangkan menggunakan metode catalytic cracking, yakni proses pemecahan molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul lebih kecil yang setara bahan bakar

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperkuat inovasi energi terbarukan melalui pengembangan bensin biogasoline berbasis kelapa sawit atau Benwit.

Teknologi ini memungkinkan crude palm oil (CPO) diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) sebagai alternatif energi sekaligus mendukung ketahanan energi nasional di tengah tantangan krisis global.

Guru Besar Teknik Material dan Metalurgi ITS, Prof Hosta Ardhynanta, menjelaskan bahwa bensin sawit atau Benwit dikembangkan menggunakan metode catalytic cracking, yakni proses pemecahan molekul besar dalam minyak sawit menjadi molekul lebih kecil yang setara bahan bakar.

“Kami mengembangkan teknologi pengolahan minyak mentah kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak dengan metode catalytic cracking,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (7/4/2026).

Ia mengungkapkan, riset Benwit telah melalui tahapan panjang.

Penelitian awal berlangsung sekitar tiga tahun, sementara riset inti berjalan selama dua tahun dengan dukungan berbagai pihak.

“Penelitian ini kami lakukan mulai dari skala laboratorium hingga skala mimik (prototipe),” jelasnya.

Baca juga: Sosok Kuok Group Pemilik Wilmar Kembalikan Uang Rp11 Triliun Kasus Korupsi, Raksasa Sawit Dunia

Dalam proses pengembangannya, riset ini melibatkan sekitar 20 mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai S1, S2 hingga S3, serta lintas departemen di ITS.

“Cukup banyak mahasiswa yang terlibat, terutama dari S2 dan S3, dan ini lintas departemen,” tambahnya.

Menurut Prof Hosta, pemilihan kelapa sawit sebagai bahan baku didasarkan pada potensi besar Indonesia sebagai produsen CPO.

“Minyak sawit jumlahnya sangat besar dibandingkan tanaman lain."

"Sebagian besar bahkan belum dimanfaatkan optimal, sehingga potensinya sangat besar untuk bahan bakar,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Benwit berbeda dengan bahan bakar nabati lain seperti bioetanol maupun biodiesel.

“Kalau bioetanol atau biogasolin lain bahan bakunya dari etanol, sementara ini langsung dari CPO sawit,” terangnya.

Dari sisi efisiensi, konversi CPO menjadi bahan bakar mencapai 50 hingga 55 persen tanpa menghasilkan limbah yang terbuang.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved