Minggu, 10 Mei 2026

Wisata Kicau Mania Malang Raya

Penasaran Berujung Prestasi dan Ladang Cuan, Ini Kisah Harijono Pembudidaya Perkutut Lomba di Malang

Penasaran Berujung Prestasi dan Ladang Cuan, Ini Kisah Harijono Pembudidaya Perkutut Lomba di Malang

Tayang:
Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Kukuh Kurniawan
BURUNG PERKUTUT - Harijono saat menunjukkan sepasang burung perkutut miliknya yang pernah ditawar hingga Rp 160 juta (di dalam sangkar), Minggu (21/9/2025). Meski ditawar tinggi, ia tidak melepasnya karena ada kebanggan bisa memiliki burung dengan rekam jejak sering juara. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Berawal dari rasa penasaran hingga akhirnya berujung prestasi dan ladang cuan, itulah kalimat tepat untuk menggambarkan sosok Harijono, breeder (pembudidaya) burung perkutut bangkok khusus lomba di Kabupaten Malang.

Saat ditemui di rumahnya yang juga sebagai tempat budidaya bernama Balqist Bird Farm di Jalan Urahasura, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, berbagai macam piala dari berbagai lomba berjejer rapi.

Terlihat juga, ada sebanyak 12 kandang berukuran besar serta 30 lebih sangkar berisi burung perkutut bangkok berada di halaman.

Harijono mengaku tak menyangka, bisa menggeluti dunia burung hingga meraih juara di berbagai lomba.

Padahal mulanya, berawal dari rasa penasaran melihat burung perkutut khusus lomba bisa laku terjual hingga ratusan juta.

"Dulu di medio tahun 2000-an, saya bekerja sebagai tenaga pemasaran di salah satu perusahaan."

"Kebetulan, ada salah satu pelanggan saya memiliki pekerjaaan sebagai breeder burung perkutut lomba dan bisa laku terjual mahal," ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (21/9/2025).

Baca juga: Ratusan Kicau Mania se-Malang Raya Adu Kualitas Burung di Gantangan Paco DFlash

Dari situlah, ia pun mendalami dan berguru langsung kepada peternak tersebut.

Dan sebagai pemula, ia harus belajar terlebih dahulu mengenali suara serta irama yang dihasilkan burung perkutut.

"Dalam lomba, yang dinilai suara dan iramanya. Kalau bahasa awamnya, mirip seperti orang bernyanyi begitu juga dengan burung perkutut," tambahnya.

Setelah belajar cukup lama, ia pun mulai mengasah ilmunya secara mandiri. Mulai dari budidaya hingga mengikuti berbagai perlombaan.

"Tahun 2010, merupakan tahun perdana saya meraih juara dan diraih lewat burung perkutut yang saya namakan Fatin."

"Dari situlah, akhirnya semakin berkembang," ungkap pria berusia 55 tahun tersebut.

Dirinya mengaku, bahwa beternak burung perkutut bangkok khusus lomba susah-susah gampang.

Karena belum tentu perkutut juara bisa menghasilkan anakan atau keturunan yang sempurna.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved