Sabtu, 16 Mei 2026

Wisata Kicau Mania Malang Raya

Sosok Muhammad Kusolihudin, Breeder yang Cari Merpati Hias sampai Jakarta

Muhammad Kusolihudin telah menjadi jawara di beragam kontes burung merpati hias.

Tayang:
SURYAMALANG.COM/Rifky Edgar
BURUNG MERPATI - Muhammad Kusolihudin, breeder Merpati Hias Impor di Kota Malang saat menunjukkan merpati koleksinya di daerah Kacuk, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Dari hobi berbuah menjadi prestasi. Itulah yang menggambarkan sosok Muhammad Kusolihudin. Breeder merpati hias impor ini telah menjadi jawara di beragam kontes burung merpati hias.

Sedari kecil, pria yang akrab disapa Udin ini telah hobi memelihara burung. Udin tertarik pada merpati hias saat kuliah pada awal 1990-an.

Kala itu merpati hias masih tergolong langka, namun Udin bersemangat mengoleksi berbagai jenis merpati hias. Udin mendapatkan burung-burung ini dari pedagang yang berjualan di Pasar Comboran dan Pasar Burung Splendid. "Dulu ada orang berjualan merpati di Comboran. Saya datang ke sana hampir setiap pekan. Kalau ada jenis baru, pasti saya beli," kata Udin kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (17/9).

Selain burung merpati, Udin juga memelihara sejumlah burung berkicau, seperti cucak ijo sampai kalcer. Memanfaatkan lorong sempit di samping rumahnya yang terletak di Jalan Satsui Tubun Gang 4 Nomor 19 Kota Malang, Udin mulai beternak burung merpati. "Namanya hobi, akhirnya saya semakin tertarik dan fokus budidaya merpati hias," ungkapnya.

Lambat laun, Udin makin berkembang di dunia merpati hias. Udin mulai upgrade dan fokus mengembangkan merpati hias impor berkualitas mulai tahun 2020. "Untuk merpati hias impor berkualitas ini saya berburu ke Jakarta Pigeon Center. Harganya memang mahal, tapi kualitasnya terjamin karena bukan hasil silang sembarangan," ujarnya.

Udin pun mulai fokus memelihara berbagai jenis merpati impor dari Jerman, Inggris, sampai Belanda. Beberapa koleksinya antara lain English Nun, German Nun, Old Dutch Cappucine, dan jenis lainnya yang memiliki standar penilaian ketat mulai dari bentuk tubuh, warna bulu, sampai detail marking.

Udin rutin mengikuti kontes di berbagai daerah hampir setiap dua-empat bulan sekali, mulai dari Kertosono, Surabaya, Lamongan, Mojokerto, Yogyakarta, Kota Batu, sampai Kediri. Hasilnya, deretan piala berhasil dibawa pulang.

"Kalau merpati hias, penilaian utamanya visual. Jadi, standar internasionalnya benar-benar detail, mulai dari kuku, bulu paha, sampai postur tubuh. Ini berbeda dengan lomba burung kicauan yang lebih menilai suar," urainya.

Udin menekankan pentingnya pemahaman genetika agar kualitas tetap terjaga. Sebagai lulusan pertanian di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Udin pun menerapkan konsep genetika dalam perjodohan merpati. "Kalau salah breeding, kualitas bisa turun drastis. Postur jadi kecil, marking rusak, dan akhirnya tidak sesuai standar. Jadi, butuh pengetahuan, bukan sekadar hobi," tegasnya.

Dari hasil breeding itu, beberapa anakan merpatinya bahkan sering juara dan laku dijual dengan harga tinggi. "Kalau burung sering juara, harganya bisa sampai Rp 5 juta per ekor. Kalau harga standar antara Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Sedangkan merpati biasa di pasar mungkin hanya Rp 50.000," terangnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved