Kamis, 7 Mei 2026

Kota Malang

Dinkes Kota Malang Temukan Takjil Mengandung Bakteri E.Coli dan Rodhamin B

Dinkes Kota Malang terus meningkatkan pengawasan keamanan pangan, khususnya di pasar takjil yang mulai marak di berbagai wilayah

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Benni Indo | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
PASAR TAKJIL - Suasana Pasar Takjil di Taman Krida Kota Malang saat Ramadan 1447 H, Minggu (22/2/2026). Dinkes Kota Malang mengimbau warga berhati-hati membeli jajanan di pasar takjil karena ada temuan bakteri E.coli dan Rodhamin B yang dapat memicu kanker dalam waktu lama. 
Ringkasan Berita:
  • Dinkes Kota Malang terus meningkatkan pengawasan keamanan pangan, khususnya di pasar-pasar takjil yang mulai marak di berbagai wilayah saat Ramadhan
  • Kabid Kesmas Dinkes Kota Malang, drg M Zamroni, menyampaikan bahwa pengawasan dilakukan lintas sektor dengan melibatkan Puskesmas serta tenaga sanitarian di tingkat bawah

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang terus meningkatkan pengawasan keamanan pangan, khususnya di Pasar Takjil yang mulai marak di berbagai wilayah saat Ramadhan.

Peningkatan pengawasan ini dilakukan seiring ditemukannya banyak makanan takjil yang tidak sesuai dengan standar kehigienisan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kabid Kesmas) Dinkes Kota Malang, drg M Zamroni, Senin (2/3/2026), menyampaikan bahwa pengawasan dilakukan lintas sektor dengan melibatkan Puskesmas serta tenaga sanitarian di tingkat bawah.

“Saat Ramadhan banyak berdiri pasar takjil. Sebagai konsumen, masyarakat perlu memperhatikan aspek kesehatan."

"Karena itu kami lakukan pengecekan di berbagai titik,” ujarnya kepada SURYAMALANG.COM.

Pemeriksaan dilakukan sejak 18 Februari hingga 1 Maret 2026 di 19 pasar takjil.

Selama periode tersebut, petugas telah memeriksa ratusan jenis makanan.

Pemeriksaan Makanan

Sebanyak 101 sampel diperiksa terkait bakteri Escherichia Coli (E.Coli), 73 sampel diuji kandungan boraks, 72 sampel diperiksa formalin, 69 sampel diuji rodhamin B, 25 sampel diperiksa metanil yellow.

Dari hasil uji tersebut, ditemukan 10 sampel mengandung bakteri E.coli yang tidak memenuhi persyaratan atau sekitar 9,9 persen.

Selain itu, dari 69 sampel yang diuji rodhamin B, terdapat 4 sampel dinyatakan positif.

“E.coli bisa menyebabkan keracunan. Meski demikian, jenis E.coli 0157 yang dapat menyebabkan diare berdarah tidak kami temukan,” jelas Zamroni, Senin (2/3/2026).

Sementara itu, uji terhadap boraks dan formalin menunjukkan hasil negatif.

Tidak ditemukan kandungan kedua bahan berbahaya tersebut pada sampel yang diperiksa.

Zamroni menjelaskan, rodhamin B merupakan zat pewarna sintetis yang seharusnya digunakan untuk tekstil, bukan pangan.

Konsumsi jangka panjang zat ini berpotensi memicu kanker, merusak ginjal, serta mengganggu sistem pernapasan.

Baca juga: Waspadai Makanan dan Minuman Berwarna Mencolok saat Berburu Takjil di Bulan Ramadhan

“Biasanya bisa dicurigai dari warna yang sangat mencolok atau tidak wajar. Kalau baunya aneh, itu juga patut diwaspadai,” katanya.

Selain warna dan bau, bentuk makanan yang terlalu menarik namun tidak lazim juga perlu dicermati.

Dalam proses pengawasan, petugas bahkan melakukan uji organoleptik dengan mencicipi sampel secara langsung sebelum diuji laboratorium.

Terhadap pedagang yang produknya dinyatakan tidak memenuhi syarat, Dinkes Kota Malang melakukan pendekatan persuasif berupa edukasi keamanan pangan serta meminta penggantian bahan dengan yang lebih aman.

“Kami sampaikan ke penjual, lalu kami edukasi. Setelah itu akan kami periksa ulang untuk memastikan edukasi berjalan,” tegasnya.

Pengawasan ini akan terus berlangsung hingga berakhirnya aktivitas pasar takjil selama Ramadhan.

Selain pengawasan lapangan, Dinkes Kota Malang juga melakukan pembinaan kepada para penjaja makanan, termasuk pelaku usaha restoran dan dapur SPPG.

Mereka dilatih sebagai penjamah makanan agar memahami standar higiene dan sanitasi.

“Kami akan terus edukasi masyarakat agar mampu memilah dan memilih makanan yang sehat."

"Keamanan pangan ini tanggung jawab bersama,” pungkas Zamroni.

Baca juga: DPRD Kota Malang Siap Perbaiki Perda Kota Layak Anak, Soroti Bahaya Gadget dan AI bagi Generasi Muda

Rahmawati, warga Pandanwangi yang pernah beli jajanan takjil di Jalan Sulfat menceritakan bahwa ia sangat berhati-hati memilih makanan di pasar.

Ia tidak membeli makanan yang warnanya mencolok.

“Memang yang saya tahu sejauh ini kalau warnanya mencolok itu patut diwaspadai,” ujar Rahmawati.

Untuk memastikan keamanan, Rahmawati seringnya membeli makanan yang dikukus ataupun dibakar.

Pilihannya banyak di pasar takjil, yang dikukus bisa berupa ubi jalar, sedangkan yang dibakar bisa ayam atau ikan.

“Tapi kalau gorengan seperti pisang goreng, singkong goreng, saya pikir sudah wajar dan patut dibeli juga,” imbuhnya.

Sebagai konsumen, Rahmawati juga ingin mendapatkan edukasi mengenali makanan tidak sehat dari bentuk atau aromanya.

Sejauh ini, ia tidak pernah mendapatkan edukasi seperti itu melalui sosialisasi baik di tingkat RT maupun kelurahan.

“Sejauh ini baca-baca sendiri di internet, kalau sosialisasi langsung belum pernah,” ujar Rahmawati. 

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved