Rabu, 13 Mei 2026

Kota Malang

Soal Wacana Penutupan Prodi, Warek UB : Bukan Hal Tabu tapi Tak Bisa Dilakukan Tergesa-gesa

Universitas Brawijaya (UB) Malang angkat bicara tentang wacana penutupan prodi di perguruan tinggi yang tidak relevan dengan kebutuhan industri.

Tayang: | Diperbarui:
SURYAMALANG.COM/Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
WACANA PENUTUPAN PRODI : Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof Dr Ir Imam Santoso MP menyampaikan pandangannya terkait wacana penutupan prodi. 

Jika disetujui Senat Akademik Fakultas, maka usulan diteruskan kepada Rektor.

Selanjutnya, Direktorat Inovasi Pembelajaran dan Pendidikan (DIPP) akan melakukan review sebelum Rektor meminta pertimbangan Senat Akademik Universitas.

Prof Imam menilai, keputusan terkait penutupan prodi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena dampaknya sangat luas, baik bagi institusi maupun kebutuhan sumber daya manusia nasional.

“Harus dinilai secara komprehensif dampaknya secara institusional maupun kontribusinya bagi pembangunan yang makin kompleks dan membutuhkan SDM handal,” jelas Prof Imam.

Baca juga: UB Malang Gandeng UNESCO untuk Selamatkan Mata Air dan Siapkan Gerakan Kampus Peduli Lingkungan

Kebutuhan Nyata di Masyarakat Jadi Indikator 

Direktur DIPP UB, Ir Ishardita Pambudi Tama ST MT PhD IPU ASEAN Eng menegaskan, pembukaan maupun penutupan prodi sejatinya sangat dipengaruhi kebutuhan masyarakat dan performa program studi itu sendiri.

Menurutnya, saat UB membuka prodi baru, salah satu indikator utama yang dilihat adalah ada tidaknya kebutuhan nyata di masyarakat, bukan sekadar keinginan dosen atau institusi.

“Kalau di luar negeri, penutupan prodi merupakan hal biasa jika memang diperlukan,” ujar Ishardita.

Ishardita mencontohkan pengalaman saat menempuh studi doktoral di Australia, di mana sejumlah prodi ditutup karena performanya kurang baik.

Dosen dan tenaga kependidikan kemudian dialihkan ke program lain yang lebih berkembang.

Meski demikian, jelas Ishardita, proses tersebut dilakukan melalui evaluasi panjang dan pertimbangan menyeluruh, bukan keputusan mendadak.

Karena itu, yang terpenting bukan sekadar mempertanyakan prodi ditutup atau tidak, tetapi bagaimana evaluasi dilakukan secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

UB sendiri, lanjut dia, rutin meninjau performa prodi melalui penerapan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).

Evaluasi dilakukan untuk memastikan lulusan tetap sesuai kebutuhan industri, lembaga riset, maupun dunia pendidikan.

“Jika relevan, tentu risiko untuk ditutup akan sangat minimal. Pengelola program studi harus selalu memperhatikan apa yang dibutuhkan masyarakat,” tandasnya.

Jumlah Lulusan dengan Loker Jadi Pertimbangan

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna dalam wawancara dengan SURYAMALANG.COM menyebut, apa yang dimaksud pihak Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi perihal Prodi tidak relevan itu berkaitan dengan jumlah lulusan dan perbandingan lowongan kerja atau bidang kerjanya.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/4
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved