Breaking News:

Kabar Yogyakarta

'Kesaktian' Badui Taklukan Ratusan Monyet, Pantes Sultan Hamengku Buwono X Heran, Lihat Faktanya

'Kesaktian' Badui Taklukan Ratusan Monyet, Pantes Sultan Hamengku Buwono X Heran, Lihat Faktanya

Penulis: Frida Anjani | Editor: Dyan Rekohadi
Kolase TRIBUNJOGJA/Bramasto Adhy dan TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO
'Kesaktian' Badui Taklukan Ratusan Monyet, Pantes Sultan Hamengku Buwono X Heran, Lihat Faktanya 

SURYAMALANG.COM - Berikut fakta-fakta saat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X terheran dengan kesaktian orang suku Badui saat menaklukan ratusan ekor monyet

Perasaan heran Sultan Hamengku Buwono X terjadi saat dirinya menyaksikan sendiri kesaktian orang suku Badui dari Provinsi Banten saat menaklukan dan menangkap ratusan monyet di wilayahnya. 

Perasaan heran akan kesaktian orang suku Badui itu Sultan Hamengku Buwono X sampaikan pada saat agenda kerjannya berkunjung di daerah Yogyakarta

1. Berawal Dari Laporan Warga

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X masih heran pada 'kesaktian' orang-orang suku Badui dari Banten dalam hal menangkap monyet atau kera ekor panjang (Macaca fascicularis).

Hal itu dia ungkapkan saat menerima pengaduan dari perwakilan masyarakat di tiga desa di Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Sultan Hamengku Buwono X membuka sesi tanya jawab dengan perwakilan masyarakat dalam kunjungan kerja ke Desa Rejosari Kecamatan Semin.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X ( Batik) Saat Kunjungan ke Desa Rejosari, Kecamatan Semin, Gunungkidul Senin (22/7/2019)
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X ( Batik) Saat Kunjungan ke Desa Rejosari, Kecamatan Semin, Gunungkidul Senin (22/7/2019) (Kompas.com/MARKUS YUWONO)

Seorang perwakilan dari Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) Desa Pundungsari, Sudiyono, menceritakan, selama beberapa tahun terakhir warga yang mengelola lahan di pegunungan Desa Pundungsari dan Karangsari hingga beberapa wilayah lainnya tidak bisa menanam tanaman karena hampir setiap hari didatangi monyet ekor panjang.

Saat ini warga hanya menanam pohon keras, seperti jati. Sementara untuk palawija sudah tidak berani.

"Keranya (monyet) menyebar, lalu masyarakat di sekitarnya kesulitan untuk menghalau, banyak lahan yang tidak bisa ditanami karena diserang (monyet) ekor panjang," katanya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved