Tempo Doeloe

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno. Oleh : M Dwi Cahyono, dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM).

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 
SURYAMALANG.COM/achmad amru muiz
ARSIP - Peserta festival egrang di Kota Batu menampilkan pakaian tradisional Jawa, Rabu (19/8/2015). 

Cublak-cublak suweng
Suwenge ting kelender
Mambu ketundung gudel
Tak empol lera-lere
Sopo nggowo ndelikake
Sir-sir-pong dele gosong 2X

Oleh : M Dwi Cahyono, dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM)

Mulai Senin, 7 Oktober 2019 hingga sepekan berikutnya, bertempat di Ibu Kota Negara Republik Indonesia (RI), Jakarta, dihelat Pekan Kebudayaan Nasional (PKN). Salah sebuah menu budaya penting yang disajikannya adalah gelaran beragam permainan tradisional pada kawasan Car Free Day di Jalan Sudirman. Dalam bahasa Jawa Baru, sebutan untuknya adalah "dolanan bocah", yang di kawasan sub-kultur Arek dinamai dengan "Dolinan Arek".

A. Terminologi "Dolanan Bocah"

Kata jadian dalam bahasa Jawa Baru "dolanan" pada sebutan "dolanan bocah" berkata dasar (linggo) "dolan", yang berarti : bermain-main, atau berjalan-jalan buat senangkan hati. Kata jadian "dolanan" menunjuk kepada: barang mainan (Mangunsuwito, 2013: 276). Istilah ini juga hadir sebagai kosa kata serapan [dari bahasa Jawa] dalam kosa kata bahasa Indonesia, yang juga berarti: pergi untuk bersenang-senang. Adapun kata jadian "dolanan" menunjuk pada (a) bermain- main, (b) mainan (KBBI, 2002: 272). Dalam arti ini, istilah "dolan" ataupun "dolanan" berkenaan dengan "kesenangan", dilakukan untuk tujuan "menyenangkan hati (rekreatif)".

Tetnyatalah bahwa kata "dolan" telah terdapat di dalam bahasa Jawa Tengahan, yang secara harafiah berarti: kawan sepermainan, atau menunjuk pada: binatang kesayangan. Adapun jata jadiannya, yaitu "dodolan", "adodolan", berkenaan dengan: bermain (Zoetmulder, 1995:224).

Istilah ini disebut dalam Kidung Malat (8.149, 16.60). Sebutan lain yang dekat dengannya adalah "men" (samdhi dalam dari "ma+in"), yang berarti : menghibur (bergembira, mengasyikkan) diri, bermain (Zoetmulder, 1995: 667). Kata jadiannya adalah "amen". Istilah- istilah itu terdapat dalam pustaka Wirataparwa (32, 96), Udyogaparwa (118), Sumanasantaka (59.1, 90.3, 113.6), Abhimanyuwiwaha (52.23), Tantupanggelaran (104), Tantri Kediri (58), Kutaramanawa (148), Kidung Harsyawijaya (2,38, 2 143, 4.30, 6.91, 26.3), Kidung Sunda (3.49), Kidung Malat (7.35, 14.18), Wasengsari (7.42), dan Tantrikanabdaka (1.81).

Selain itu disebut dalam prasasti Jawa (vN 8.5B.3, vN 3.A.8, serta OJO 36 susi I dan 43 susi II. 16) maupun dalam prasasti Bali (For 88f.VIIa 2). Permainan atau pelakunya diistilahi "menmen", sedangkan tempat untuk menghibur diri dinanai "pemenan".

Kata Jawa Kuna dan Jawa Tengahan "men (main)" diserap ke dalam bahasa Indonesia juga sebagai "main", yang antara lain berarti : (a) melakukan permainan untuk menyenangkan hati, atau (b) melaksanakan perbuatan untuk bersenang, (c) mempertunjukkan tontonan, dsb. KBBI,2002: 697).

Kata jadian "bermain" mengandung arti: melakukan sesuatu untuk bersenang-senang. Sesuatu yang dipakai untuk bermain, barang yang dipermainkan, mainan, dan hal bermain disebut "permainan".

Halaman
1234
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved