Tempo Doeloe

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno. Oleh : M Dwi Cahyono, dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM).

Editor: yuli
SURYAMALANG.COM/achmad amru muiz
ARSIP - Peserta festival egrang di Kota Batu menampilkan pakaian tradisional Jawa, Rabu (19/8/2015). 

Robert dan Sutton Smith (1971:46) klasifikasikan permainan menjadi dua golongan besar, yaitu:

(1) permainan untuk bermain (play), dan

(2) permainan untuk bertanding (game).

Ada tiga sifat permainan untuk bertanding : (a) bersifat fisik (game of skill), (b) bersifat siasat (game of stategy), (c) bersifat untung-untungan (game of chance).

Pada jenis pertama, suatu permainan dilaksanakan semata buat bermain (playing), bahkan bermain-main. Permainan ini umumnya bersifat pribadi, yaitu buat dinikmat sendiri oleh pelakunya. Berbeda dengan jenis yang kedua, di mana permainan itu dilakukan sebagai uji sesuatu, untuk mendapatkan posisi unggul (pemenang).

Adapun ditilik dari jenisnya, ada yang berupa (a) pengoperasian atan bermain (mainan), (b) menyanyi -- baik dengan atau tanpa disertai alat bermain dan gerakkan tertentu, (c) adu ketangkasan, keterampilan ataupun kepiawaian, (d) melaksanakan kegiatan dengan pola atau tata cara tertentu -- dengan atau tanpa ada pemenangnya, (e) memainkan aksi yang akrobatik, muslihat mata (misalnya : sulapan atau disebut juga "sunglap"), tebak-tebakan, bahkan terdapat sajian tertentu yang mempergunakan magi, mistis, hipnotis (psikologi bawah sadar), atau cara-cara luar biasa.

Pada dasarnya, permainan disajikan untuk mempertontonkan sesuatu, sehingga bila ada sentuhan seni (artistik) di dalamnya, maka bisa dimasukkan sebagai "seni pertunjukan" dalam arti luas.

Permainan bersifat "universal", di manapun atau kapanpun permainan senantiasa ada. Setiap etnik maupun sub-etnik yang ada di Indonesia memiliki permainannya sendiri, yang terkadang merupakan permainan masa lampau yang mampu bertahan hidup hingga kini --baik tanpa ataupun dengan sejumlah perubahan.

Permainan yang demikian diistilahi dengan "permainan etnik tradisional", yang menjadi bagian folklore Nusantara. Hal demikian, tanpa terkecuali ada di Jawa, yang dinamai dengan "dolinan Jawa tradisional".

Berikut dikemukakan (1) permanian Jawa masa lampau (archais) seperti diberitakan oleh sumber data susastra kuno dari masa Hindu-Buddha, dan (2) permainan tradisional Jawa yang berasal dari pasca Hindu-Buddha, yang jejak tradisinya masih dijumpai hingga sekarang.

1. Permainan Arkhais Masa Hindu-Buddha

Meski tidak amat banyak, dalam sumber data tekstual masa lalu dijumpai sejumlah istilah yang sangat mungkin menunjuk kepada beragam permainan arkhais. Salah satu di antaranya adalah permainan akrobatik, seperti tergambar pada arca kecil (tinggi 20 Cm) koleksi Wolff dari Surabaya atau mungkin dari Mojokerto, yang memberi kita gambaran tentang seorang wanita yang melakukan gerakan akrobatik.

Kaki, tubuh, maupun tangannya dilengkungkan, dengan kedua tangan menyentuh alas -- yang berbentuk kura-kura. Kepala berada di depan bawah, di antara dua tangannya sehingga rambut tergerai. Busana yang dikenakan bersahaja, bahkan tubuh bagian bawah cuma mengenakan cawat dan ikatan pinggang.

Berkenaan dengan itu, W.F. Stutterheim (1932 :271-273) mempertanyakan "apakah arca ini menggambarkan adegan akrobatik masa Jawa Kuna?" Gerakan tubuh yang demikian dalam bahasa Jawa Baru diistilahi "ngayang, atau kayang".

Pada permainan "damparan", pemain acap lengkungkan tubuhnya serupa itu, bahkan dengan posisi demikian bisa sambil berlajan. Permainan ini bercirikan akrobatik, yang memperlihatkan aspek "kehebatan atau virtousitas" (Sedyawati, 1981/1982: 70-73).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved