Tempo Doeloe

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno. Oleh : M Dwi Cahyono, dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM).

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 
SURYAMALANG.COM/achmad amru muiz
ARSIP - Peserta festival egrang di Kota Batu menampilkan pakaian tradisional Jawa, Rabu (19/8/2015). 

Pada dasarnya, permainan disajikan untuk mempertontonkan sesuatu, sehingga bila ada sentuhan seni (artistik) di dalamnya, maka bisa dimasukkan sebagai "seni pertunjukan" dalam arti luas.

Permainan bersifat "universal", di manapun atau kapanpun permainan senantiasa ada. Setiap etnik maupun sub-etnik yang ada di Indonesia memiliki permainannya sendiri, yang terkadang merupakan permainan masa lampau yang mampu bertahan hidup hingga kini --baik tanpa ataupun dengan sejumlah perubahan.

Permainan yang demikian diistilahi dengan "permainan etnik tradisional", yang menjadi bagian folklore Nusantara. Hal demikian, tanpa terkecuali ada di Jawa, yang dinamai dengan "dolinan Jawa tradisional".

Berikut dikemukakan (1) permanian Jawa masa lampau (archais) seperti diberitakan oleh sumber data susastra kuno dari masa Hindu-Buddha, dan (2) permainan tradisional Jawa yang berasal dari pasca Hindu-Buddha, yang jejak tradisinya masih dijumpai hingga sekarang.

1. Permainan Arkhais Masa Hindu-Buddha

Meski tidak amat banyak, dalam sumber data tekstual masa lalu dijumpai sejumlah istilah yang sangat mungkin menunjuk kepada beragam permainan arkhais. Salah satu di antaranya adalah permainan akrobatik, seperti tergambar pada arca kecil (tinggi 20 Cm) koleksi Wolff dari Surabaya atau mungkin dari Mojokerto, yang memberi kita gambaran tentang seorang wanita yang melakukan gerakan akrobatik.

Kaki, tubuh, maupun tangannya dilengkungkan, dengan kedua tangan menyentuh alas -- yang berbentuk kura-kura. Kepala berada di depan bawah, di antara dua tangannya sehingga rambut tergerai. Busana yang dikenakan bersahaja, bahkan tubuh bagian bawah cuma mengenakan cawat dan ikatan pinggang.

Berkenaan dengan itu, W.F. Stutterheim (1932 :271-273) mempertanyakan "apakah arca ini menggambarkan adegan akrobatik masa Jawa Kuna?" Gerakan tubuh yang demikian dalam bahasa Jawa Baru diistilahi "ngayang, atau kayang".

Pada permainan "damparan", pemain acap lengkungkan tubuhnya serupa itu, bahkan dengan posisi demikian bisa sambil berlajan. Permainan ini bercirikan akrobatik, yang memperlihatkan aspek "kehebatan atau virtousitas" (Sedyawati, 1981/1982: 70-73).

Sejumlah permainan disebut dalam sumber data susastra. Kakawin Arjunawiwaha (14.4-7) misalnya, menyebut adanya permainan catu, yaitu permainan dadu secara berkelompok oleh para gadis di alam Kaindran.

Permainan lainnya dinamai "kilusu ruyung", yaitu alat bermain dari kayu pohon enau (ruyung) yang lemas (kilusu) (Zoetmulder, 1995: 501, 967), yang dimainkan oleh beberapa gadis yang menemani Rukmini di suatu taman. Sayang tak diperoleh informasi tentang cara memainkannya.

Relief Arjuna dan Siwa pada candi Surawana (Surowono), Kediri, Jawa Timur. Di sini tampak Arjuna dan Siwa yang menyamar sebagai pemburu tengah bertengkar perihal siapa yang telah memanah babi hutan.
Relief Arjuna dan Siwa pada candi Surawana (Surowono), Kediri, Jawa Timur. Di sini tampak Arjuna dan Siwa yang menyamar sebagai pemburu tengah bertengkar perihal siapa yang telah memanah babi hutan. (wikipedia)
Halaman
1234
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved