Tempo Doeloe

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno. Oleh : M Dwi Cahyono, dosen Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM).

Sejarah 'Dolanan Bocah', Ragam Bentuk dan Fungsinya Pada Masa Jawa Kuno 
SURYAMALANG.COM/achmad amru muiz
ARSIP - Peserta festival egrang di Kota Batu menampilkan pakaian tradisional Jawa, Rabu (19/8/2015). 

Perihal permainan dan pertandingan juga diberitakan dalam kakawin Sutasoma (127.13). Berita lainnya didapatkan dalam Kidung Sri Tanjung (1.7), yang ceritakan mengenai anak-anak yang memainkan cikal, yaitu suatu permainan yang menggunakan buah pohon cikal (Entada pursaetha, Rumph. Vpl.4) yang berbentuk bulat ceper (Zoetmulder, 1995:174).

Menurut Prijono (138:157), konon permainan ini terdapat di Jawa Tengah dengan nama "bengkat". Pada bagian lain dari susastra ini (5.58) dikabarkan adanya anak-anak yang memainkan anepa[h], yang sayang sekali tidak disertai keterangan mengenai bentuk permainannya.

Masih di dalam Kidung Sri Tanjung (5.58), terdapat permainan lain yang dinamai dengan "agundu", yakni permainan dengan menggunakan buah bulat pohon bendo, yang dalam konteks permainan ini buah gundu dimasukkan ke dalam lobang, seperti pada permainan butir kelerang (neker) yang dinamai dengan "wok-wokan".

Pada Kidung Sunda (2.85) sebutannya adalah "gandu", yang ketika dimainkan gandu dalam keadaan berputar. Dahulu tatkala kelereng belum lazim dipergunakan, bola bundar itu bisa berupa biji klerak.

Ada tiga macan permainan gundu, yaitu (a) memasukkan gundu ke dalam lobang kecil pada permukaan tanah (wok-wokan), (2) arahkan biji gundu "gaco" ke deretan gundu lian (cirak), atau (3) tembakkan secara tepat ke buah gundu lainnya pada jarak tertentu (tujon).

Mainan yang demikian masuk dalam kategori permainan untuk bertanding. Selain itu, Kidung Sri Tanjung menyebutkan adanya "permainan api" (Prijono 1938, I : 29-30).

Kidung Panji Anggraeni (Poerbatjaraka, 1969:10) menginformasikan adanya permainan "kecek" yang menggunakan uang logam sen (kece) oleh Semar bersama anak-anak. Permainan dengan memakai uang logam (koin) yang demikian masih dikenal sekarang, dengan cara melempar uang logam ke atas dan menebak gambar apa yang ada di sisi atas ketika uang itu jatuh di tanah.

Permainan lain, yang disebut "bubungkul", diberitakan dalan Kidung Sunda (3.50). Menurut C. C. Berg (127:26) adalah semacam permainan anggar dengan memakai tongkat oleh sejumlah anak laki- laki dalam posisi membentuk pagar melingkar.

Selain itu, susastra ini menyebut permainan "apelengkungan", yang oleh Berg (127:126) diterjemah dengan permainan tusuk-tusukan (steel speed), atau kemungkinan lain berbentuk kedua tangan dua pemain dipertemukan dalam formasi yang melengkung dan beberapa pemain lainnya masuk melewatinya -- seperti p
permainan "jamuran" sekarang.

Ada juga permainan yang dinamai "walangan". Kata "walang" adalah nama binatang. Permainan dengan menggunakan media binatang walang dilakukan dengan meminta gerakan walang, misalnya pada walang kadung.

Pemain menyebut istilah tertentu, lalu meminta agar walang membuat gerakan yang sesuai dengan kata yang diucap itu. Apabila benar demikian, maka permainan ini adalah salah satu di antara tidak sedikit permainan yang menjadikan binatang -- utamanya insekta, sebagai binatang mainan, seperti jangkrik, kwangwung, kupu-kupu, capung, dsb.

Anak-anak pada masa lalu gemar memainkan binatang, baik untuk jenis permainan untuk bermain atau permainan untuk bertanding.

Permainan lainnya kategori permainan untuk bertanding adalah "susudukan", yang secara harafiah berarti tusuk-tusukan, yakni permainan perkelahian pura-pura menggunakan tiruan keris atau tombak.

Dalam bentuk yang lain, permainan ini nengingatkan pada permainan tombak atau lembing tumpul di dalam gladi (olah) keprajuritan, yang dinamai "watangan" (Kidung Ranggalawe 4.1-3). Kadang ditambah istilah "parampogan" menjadi kata gabung "watang parampogan", yakni suatu adu tanding, dimana seekor harimau dibunuh oleh sejumlah orang menggunakan tombak.

Permainan untuk bertanding ini juga diinformasikan dalam kitab "Ying-yai Sheng-lan" karya Ma Juan tahun 1416, mengenai pertandingan yang dinumpainya di Jawa. Pada acara ini, seekor harimau dibunuh beramai-ramai menggunakan banbu runcing, dengan musik pengiring genderang.

Rampogan Macan di Blitar, antara tahun 1870 - 1892. Fotografer: H. Salzwedel
Rampogan Macan di Blitar, antara tahun 1870 - 1892. Fotografer: H. Salzwedel (Tropen museum)

Perihal permainan susudukan juga dberitakan pula dalam Kidung Hasyawijaya (4.43b), yang digelar ketika berlangsung upacara tahunan Galungan, antara para ksatria Singhasari VS Daha (Berg, 1931: 121-122).

Serupa dengan itu diberitakan dalam Kidung Ranggalawe (3.21, 4.12). Di bagian lain dari kidung Ranggalawe (3.21) disebutnya dengan "rarastea atanding", yang diselenggarakan di Daha antara para prajurit Daha versus Tumapel pada pasta tahunan Galungan.

Hal serupa disebutnya dengan "atanding" (Kidung Sunda 4.12)". Nagarakretagama (87. 1- 2) memakai sebutan "kanjar" untuk suatu pertandingan yang serupa, yaitu permainan untuk bertanding dengan mempergunakan senjata tajam dalam Festival Bulan Caira di Lapangan Bubad.

Permainan di atas tidak dilakukan oleh anak- anak, memainkan oleh orang dewasa, tepatnya para ksatria.

Permainan jenis ini adalah "prang pupul", yakni permainan perang-perangan yang memakai tongkat untuk melukai, serupa dengan apa yang kini disebut dengan "tiban atau ujung". Terdapat juga permainan adu tinju yang dinamai "prep", serta adu tarik yang disebut "matali-tali" -- sekarang diistilahi dengan "tarik tambang".

Permainan ini diberitakan di dalam kitab Sumanasantaka (113.90), yang disajikan pada acara pernikahan Aja dan Indumati.

Ada pula permainan/lomba adu lari (sasarama), yang diselenggarakan di pusat pemerintahan kerajaan Daha untuk menyambut kedatangan Raden Wijaya (Pararaton, bagian IV).

Selain itu ada pula lomba yang diselenggarakan oleh raja Drupada sebagaimana diberitakan oleh kitab Adiparwa, yakni lomba membentang busur panah (Juynboll, 1906: 179). Pertandingan lainnya berupa lompat api, yang diberitakan oleh Sumanasantaka (113.9).

Permainan lain, yang juga untuk orang dewasa, cenderung bersifat perjudian. Dalam prasasti Kakurungan (VIb.3) diberitakan bahwa ketika dilangsukan acara Sang Hyang Ajna Prasasti di Desa Kakurungan diselenggarakan "judi taruh (nita), perjudian tertentu (judi), dan permainan dadu (parih-parihan)" selama sepekan.

Begitu pula Prasasti Canggu (IXa.3), yang menyebut permainan "sabung ayam (angadwa sawung) , nita dan perjudian (judi)" selama sepekan pada acara serupa.

Perjudian lain yang diberitakan oleh Kidung Malat (56) adalah "cuki" (sekarang disebut "ceki")", yaitu suatu permainan dengan memakai kartu di atas papan, yang menurut istilah Tiong Hoa kartu tersebut dinamai *cek" (Zoetmulder, 1995:180).

Kata jadian "acuki" dipergunakan untuk menyebut permainan cuki (ceki). Pada susastra itu, cuki dilakukan oleh para istri Panji di suatu pagi. Hingga beberapa dasawarsa lalu, permainan ceki acapkali pula dilakukan oleh wanita-wanita Jawa.

2. Permainan Lama dan Jejak Tradisinya

Pada masa sekarang ada sejumlah permainan, yang merupakan permainan dari masa lampau yang berlanjut hingga masa kini -- dengan atau tanpa modfikasi. Tak mudah untuk tentukan bilamana dan dari manakah asal kelahirannya, meskipun dapat diprakirakan bila berasal dari masa lalu di Jawa.

Permainan yang demikian ada yang merupakan kreasi warga lokal, dan ada pula yang merupakan pengaruh dari luar lokalitasnya, bahkan ada pula yang muasalnya dari mancanegara dengan disertai beberapa perubahan seperlunya.

Oleh sebab lintas masa atau lintas generasi, maka termasuk dalam kategori "permainan tradisional". Begitu pula, lantaran tumbuh-berkembang pada lingkungan kerakyatan, maka acapkali disebut "permainan rakyat".

Permainan dakon -- sebutan lain "congklak" -- adalah salah satunya. Perminan ini sangatlah mungkin merupakan permainan rayat agraris. Adanya apa yang disebut "lumbung" di ujung kanan-kiri dakon menjadi pertunjuk mengenai itu.

Harris Hotel & Conventions Malang kembali menghadirkan Menu Sego Dakon dalam menu Juni 2019 sampai Agustus 2019.
Harris Hotel & Conventions Malang menghadirkan menu Sego Dakon pada Juni - Agustus 2019. Alat permainan tradisional, dakon, dialihfungsikan untuk menyajikan makanan.

Sumber data arkeologi memperlihatkan adanya bongkah batu dengan permukaan atas rata dan dilengkapi dengan beberapa cekungan yang mengingatkan kepada dakon, sehingga mendapat sebutan "watu dakon".

Artefak dari tradisi megalitik ini konon digunakan sebagai media pengihitungan musim dalam tentukan waktu tanam. Pada senumlah warga etnik -- semisal di Sulawesi, ada tradisi permainan dakon pada malam hari (Jawa "leklekan"), yaitu ketika ada orang meninggal.

Permainan anak Jawa yang dinamai "cublek-suweng" -- yang disertai dengan penyanyian lagu tentang itu, diyakini sebagai tinggalan dari era Kewalian, yang konon difungsikan sebagai media syiar Islam -- seperti juga pada tembang "Ilir-ilir" ciptaan Sunan Bonang.

Memang, suatu permainan acap disertai dengan nyanyian, seperti permainan "jamuran, slapdur, yo ngguwak kucing gering, ndok-ndokan", dsb.

Lagu atau tembang dolanan yang dinyanyikan tersebut terkadang memuat terbakan, semisal tembang "Bapak Pucung".

Pada mainan yang "setengah mistis" menyerupai "Jailangkung", yaitu "Ni Diwut" pun memiliki lagu mainannya sendiri. Bisa juga disertai dialog antar permain, seperti pada permainan "luk-luk wing".

Dengan tambahan lagu (tembang), dialog pendek atau punggunaan media (mainan) tertentu, maka dolanan bocah menjadi lebih menarik, dinamis, bahkan ada sentuhan artistik.

Pada prinsipnya permainan anak musti bersifat "accessible", artinya dapat dimainkan oleh anak, meski untuk dapat memainkan atau memiliki keunggulan dibanding pemain lainnya butuh adanya ketekunan dalam berlatih, kecerdikan, kecermatan, kehati-hatian, kekompakan, dsb.

Prasyarat yang demikian utamanya untuk jenis permainan untuk bertanding, seperti "enthik, wok-wokan, damparan, gobak sodor, jumpritan, benteng-bentengan, gedrik, seprengan (lompat tali), egrang, sepatu bathok, terompah panjang (theklek dowo -- dimainkan secara kolektif), kekehan, yoyoan,, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Permainan yang demikian itu menarik perhatian dan mendorong pelibatan diri anak, baik perorangan atau berkelompok, karena tidak hanya seru, lebih dari itu memberi kepuasan batin bagi anak yang memperoleh kemenangan, dan sebaliknya ada "hukuman ringan" bagi mereka yang kalah -- misalnya pada permainan "gendong-gendongan".

Benda yang didapatkan lantaran memperoleh suatu kemenangannya dalam "bermain untuk bertanding", seperti butir-butir kelereng dalam permainan "wok- wokan, cirak, tujon", permainan "umbul wayang", permainan "jepretan karet gelang", permainan adu kuat "ali-ali isi salak" ataupun "ali-ali buah miri", dsb. telah cukup memberi kepuasan hati.

Terkadang, areal bermain hingga cukup jauh dari rumah, dengan pergi "ngluruk". Ada orangtua anak yang kurang suka terhadap permainan demikian, karena menganggap "berbau judi", terlebih benda- benda itu musti dibeli, sehingga menimbulkan keborosan.

Oleh karena dilarang orangtua, tidak jarang anak pergi diam-diam, curi-curi kesempatan, serta sembunyikan barang mainannya. Itulah yang oleh warga Malang disebut "mbethike arek". Terkadang pula, lantaran permainan-bertanding, dua orang anak atau lebih terlbat perkelahian kecil (gelut), dan akhirnya melibatkan orangtuanya.

Di antara permainan yang ada, terlihat adanya imitasi dari perang-perangan dan cari-kejar-tangkap, seperti pada permainan "bentengan, anggar, jompritan, jelungan, bedil-beilan (bedil banyu, bedil bambu, bedil dibis), tulup-tulupan (peluru dari biji kacang hijau) ", dsb.

Malahan ada permainan yang membutuhkan persiapan panjang, seperti permainan "layangan", yang membutuhkan persiapan mulai dari (a) nggawe layangan, (b) nggelas benang, (c) ngundho layangan, (d) sambitan, hingga (d) nggodak layangan pedot.

Pendek kata, ketika musim layangan tiba, maka hari-hari anak disibukkan (umek) oleh layangannya. Itu pulalah yang kadang membuat "sewot" orangtua, lantaran anaknya tidak indahkan (mbanggel) terhadap larangannya.

BAGONG - Sebanyak 50 layang-layang berbagai bentuk menghiasi langit Dusun Mlati, Desa Simongagrok Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Minggu (6/10/2019).
BAGONG - Sebanyak 50 layang-layang berbagai bentuk menghiasi langit Dusun Mlati, Desa Simongagrok Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto, Minggu (6/10/2019). (febrianto ramadani)

Demikian banyak permainan rakyat tradisional, masih terlampau panjang untuk ditulis semua. Meski demikian, apa yang terpaparkan di atas cukup memberi gambaran tentang kekayaan dan keragaman, baik jenis, bentuk, ataupun fungsi permainan rakyat, yang acap dinamai "dolanan bocah".

Unsur sebutan "bocah" itu tetnyata tidak merupakan batasan mutlak, karena boleh jadi permainan itu dimainkan oleh orang yang dari usianya tak lagi masuk dalam kategori "anak-anak".

Memang pada dasarnya, terlepas dari usianya, semua orang ingin punya mainan dan bermain, sehingga lantaran malu memainkan mainan anak-anak, maka orangtua beralih kepada permainan lain, seperti main judi, main perempuan, main mata, main valas, main suap, main narkoba, main jabatan, dsb. yang tentu jauh lebih berbahaya daripada "main perang-perangan"-nya anak, dan ternyata tidak merasa malu untuk menainkannya. He he he ....

C. Ragam Fungsi Dolanan Bocah

Terlepas bagaimana bentuk dan cara memainkan serta muasalnya, yang terang dari waktu ke waktu, malahan dari masa ke masa, senantiasa didapati permainan anak.

Hal ini menjadi petunjuk bahwa pernainan anak dipandang penting, karena memberi kegunaan atau berfungsi nyata. Meskipun dinamai "dolanan" atau "mainan", namun tidak semata-mata berfungsi :

(a) rekreatif (hiburan atau kesenangan, bahasa Jawa "sukan-sukan"), namun sekaligus memiliki

(b) fungsi edukatif (pendidkan),

(c) sportif (keolahragaan, ketangkasan, dan ketrampilan),

(d) sosiologis (kemasyarakatan, yakni mempererat ikatan sosial),

(e) ekolologis (wahana penyadaran untuk bijak-arif terhadap lingkungan), termasuk juga fungsi

(f) relegio-maagis.

Dengan perkataan lain dolanan bocah memiliki keragaman bentuk dan fungsi, berada dalam lintas masa, serta tersebar di berbagai wilayah Nusantara. Mainan rayat bagi anak-anak yang masuk dalam kategori "tradisional" merupakan warisan budaya (heritage), aset kultural "tak benda (intangible)" -- kecuali alat mainannya, sehingga patut dilestarikan dan dimanfaatkan bagi khalayak.

Tidak tepat menggeneralisasikan (digebyah uyah) bahwasanya dolanan bocah tradisional tak relevan dengan kehidupan masa kini lantaran ketinggalan zaman (out of date). Memang, tak dapat dipungkiri bila permainan itu "tidak modern" -- karena masuk dalan kategori "tradisional".

Namun, bukan berarti bahwa yang tradisional itu tidak punya kegunaan bagi kehidupan sekarang. Seperti telah terpapar di atas, terdapat beragam fungsi dolanan anak, yang fungsi-fungsinya relevan dengan aneka kebutuan hidup kini (rekreatif, educatif, sosiologis, ekologis, sportif, maupun relegio-magis).

Tidaklah tepat bila permainan tradisional dinyatakan sebagai tidak memiliki muatan teknologis dan dasa logis.

Ada aspek teknologis pada mainan tradisional, yang berupa teknik ungkit pada bandulan, teknis pompa pada mainan semprotan banyu, teknik aerologi pada layangan, pampat udara dalam bedil bambu, teknik kinetik pada permainan yoyo dan kekehan, dsb.

Demikianlah, ada prinsip logika yang turut mendasari cara kerja mainan anak tradisional. Oleh karena itu, tidaklah perlu "risih" atas ketradisionalan dolanan tradisional.

Pada waktu tertentu di masa lalu, tatkala panorama tengah elok-eloknya, seperti malam bulan purnama, anak-anak menumpahkan suka citanya dengan menggelar aneka dolanan bocah.

Demikian pula ketika tiba hari istimewa, seperti lebaran, peristiwa hajatan, liburan sekolah, dsb, momentum waktu bergembira itu diisi dengan memainkan dolanan.

Demikianlah, sesi bermain (play) -- yang adalah "dunia keriangan anak" -- menjadi ajang ekspresi kegembiraan yang memuaskan batinnya. Bermain mustilah bergembira, bahagia. Karena itu, meski sulit, permainan "plurutan jambe (panjat pinang)", yang pemainnya mandi lumour, penuh dengan gelak tawa.

Demikian pula, permainan "gebuk guling" di batang banbu melintasi sungai jadi tontonan gratis yang "ngeri-ngeri sedap". Tidak ada suka-cita yang melebihi ketika anak-anak terlibat dalam keseruan dalam bermain. Maka, berikan porsi cukup bagi anak untuk mengisi "waktu bermain"-nya dengan permainan anak, bukan dengan permainan orang dewasa pada diri anak.

Bermain tidak musti dengan mainan mahal, bukan hanya dengan jenis permainan atau wahana bermain impor, tidak harus dengan pergi jauh ke tempat wisata untuk bahagiakan anak dalam bermain, namun cukuplah walau di lingkungan sekitarnya dengan wahana bermain yang meskipun bersahaja dari jenis permainan rayat tradisional.

Justru, pernainan tradisional memberi ruang kreatifitas bagi anak, lantaran ia tak hanya terlibat pada

(a) bagian hilir (lower), sebagai operator alat bermain -- beda dengan mainan jadi, yang cukup dengan membeli dan tinggal mengoperasikannya, namun lenih jahil dilibatkan sedari

(b) bagian hulu (upper) , melalui pengadaan bahan (material mentahan) untuk membuat mainan, serta di

(c) bagian tengah (midle) lewat pembuatan perangkat bermain. Pasca bermainan, anak bertindak menjadi "pemelihara (maintenance) yang baik dan "ngemi-emi" atas maunan buatannya. Bahkan, ketika mainannya rusak, anak ambil peran sebagai reparatornya. Tergambar bahwa mainan anak kerakyatan- tradisional melubatkan anak dari hulu hingga hilir, baik sebagai

(1) eksplorator bahkan

(2) kreator perangkat bermain,

(3) operator alat mainan,

(4) maintenance alat mainan pasca bermain, hingga

(5) reparator alat mainannya apabila rusak.

Pada beberapa dasawarsa terakhir, terdapat fenomena kurangnya kesempatan bermain bagi anak di masa kanak- kanak. Hal inilah yang menjadikan orang "ngidam bermain", justru ketika telah memasuki jenjang usia remaja, malahan pada usia dewasa.

Tawuran para remaja, para pelajar, tawuran warga dari kampung bertetangga, termasuk ketika para pelajar SLTP dan SLTA yang kemarin terlibat demostrasi ke gedung DPR RI adalah "wujud terlambat" dari "permainan perang-perangan" masa kanak-kanak.

Ada realitas "lucu namun naif", ketika Polisi dan aparat keamanan lain diajak "jumpritan" dan lempar- lemparan oleh remaja ingusan. Jam belajar di sekolah yang kelewat padat, picu "akselerasi pendidikan" yang membuat pelajar bagai "sapi kerapan", ditambah lagi dengan "perampokan waktu bermain anak" oleh gadget (HP, Video Game), menjadikan naluri "bermain" atau "main-main"nya menyeruak justru ketika telah melewati usia kanak-kanak. Naif, namun nyata. Nuwun.

Sangkaling, Carwash 76, Selasa 8 Oktober 2019
Patembayan CITRALEKHA

Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved