Breaking News:

Tempo Doeloe

Dari Kubwan Jadi Kebun, dan Lenyapnya Kebun Terakhir di Kota Malang Berkat Proyek Jalan Tol

Dari Kubwan Jadi Kebun, dan Lenyapnya Kebun Terakhir di Kota Malang Berkat Proyek Jalan Tol. Esai panjang oleh arkeolog-cum-sejarawan Dwi Cahyono.

Editor: yuli
bpkad kota malang
Areal Alun-alun Tugu, Kota Malang. 

Kata "gemah" dalam perkataan "gemah-ripah" adalah istilah yang berasal dari bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, yang secara harafiah berarti : tidak merasa mendapat kesukaran, tak berkeberatan terhadap (Zoetmulder, 1995:288).

Istilah ini telah terdapat dalam kitab Uttarakanda (45), Ramayana (5.89 9 25, 11 1d, 21 233), Arjuna- wisata (25.9), Wangbangwideya (33.9, 39.4) dan Kidung Harsawijaya (2 51) maupun pada Kidung Sunda. Merasa tidak mendapat kesukaran, sama artinya dengan : merasa mudah.

Pada perkataan tersebut diatas, istilah "gemah" diikuti dengan kata "ripah" menjadi "gemah- ripah".

Kata "ripah" tidak kedapatan di dalam bahasa Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan, alih-alih didapatkan dalam bahasa Jawa Baru, yang berarti: yang serba banyak dan kaya sekali (Mangunsuwito, 2013:430).

Dengan demikian, perkataan "gemah-ripah" memuat maksud: tidak sulit untuk mendapatkan yang serba banyak.

Jumlah yang banyak dan kaya itulah yang diistilahi dengan "loh" -- bukan "loh = luwah" dalam arti : kali atau sungai".

Kata "loh" di dalam konteks agraris bisa juga berarti subur-makmur, yakni hasil bumi atau tanaman budidaya yang berlimpah ruah, ibarat air tergenang di dalam sungai.

Adapun kata "jinawi" yang mengikuti kata "loh" bisa jadi merupakan bentuk kata krama dari "Jawa", yang mendapat sisipan "in" menjadi "jinawi".

Selain kata " Jawa" menunjuk pada Pulau Jawa, kata ini dalam bahasa Jawa Kuna maupun Jawa Tengahan acap menunjuk pada tumbuhan padi-padian (khususnya jelai atau sekoi), yang kemungkinan merupakan bentuk Prakerta dari kata Sanskreta "yawa", yakni semacam gandum, yang dalam istilah lokal Jawa diberi sebutan "juwawut" (Zoetmulder, 1995:417).

Demikianlah, perkataan "gemah- ripah loh jinawi" mengadung arti kemudahan untuk mendapatkan yang banyak sekali, seperti tumbuh suburnya padi- padian.

Berkebun dengan jalan mengolah tanah dalam rangka budidaya tanaman adalah ikhtiar untuk memperoleh kemudahan dalam mendapatkan hasil alam yang berlimpah ruah. Terlebih bila kebun itu berareal luas (kebon agung).

Oleh karenanya, kebun yang luas menjadi tengara akan keberlimpahan hasil bumi yang didapat daripadanya.

Dengan perkataan lain, adalah prasyarat bahwa untuk bisa mendapatkan hasil alam yang melimpah mustilah dilaksanakan dengan mengolah tanah, baik dalam bentuk kebun, sawah atapun tegal, sebagai lahan buat membudidayakan tanaman.

Berkebun bisa dilakukan secara (1) intensifikasi, atau dengan (2) ekspansifikasi lewat pembukaan sebagian areal tepi hutan secara bijak dan terkendali dijadikani lahan perkebunan , seperti yang tergambar dalam arti kata "talon".

C. Berkah Perkebunan terhadap Malang

Malangraya di masa lampau adalah kawasan yang mempunyai areal perkebunan yang luas di penjuru wilayahnya. Tanahnya yang terbilang subur lantaran berada di lingkung gunung berapi, adanya sejumlah sungai serta banyak sumber air, dengan udaranya yang sejuk segar, menjadi modal ekologis internal untuk pembudidayaan tanaman perkebunan.

Sejak Masa Bercocok Tanam dan Masa Perundagian di zaman Prasejarah kawasan Malangraya telah dipilih sebagai area bermukim, yang ditopang oleh lahan agraris subur.

Luas areal perkebunan bertambah pada masa Hindu-Buddha dengan dibuka kebun- kebun baru (talun).

Luas kebun makin meningkat signifikan sejak Gubernur Jendral VOC, Johannes van den Bosch, memberlakukan "Cultuurstelsel (Sistem Kultivasi, atau Sistem Budi Daya)" pada tahun 1830, yang Malang Raya utamanya dibuka pada areal Malang barat dan utara.

Terlebih lagi setelah Menteri Jajahan Engelbertus de Waal memberlakkan "Undang-Undang Agraria (Agrarusche Wet)" beserta "Undang-Undang Gula (Suiker Wet)" tabun 1870, luas area perkebunan kian bertambah luas -- termasuk pembukaan areal baru di Malang Selatan, Timur dan Tengah.

Memasuki awal abad XX, buah dari industri perkebunan amat dirasakan bagi peningkatan pendapatan ekonomi kolonial di Malangraya.

Dampak agrarisnya pun terkena pula pada birokrasi pemerintahan, dengan dimekarkannya sistem pemerintahan Kaboepaten (Regent) Malang menjadi (1) Regent Malang dan (2) Gemeente (Kotapraja) Malang pada tahun 1914.

Bahkan, terhitung semenjak tahun 1926 pusat Karesidenan Pasuruan direlokasikan ke Malang. Kemajuan tergambar jelas dengan pembangunan pesat fasilitas publik dan privat di Kota Malang maupun sejumlah pusat distrik di Malangraya .

Paparan di atas memberikan gambaran bahwa perkembangan peradaban di Malangraya pada lintas masa antara lain adalah buah berkah dari sektor perkebunan. Namun, Zaman Keemasan Perkebunan tersebut turun drastis pada masa Pendudukan Jepang (1942-1945) dan semakin parah setelah memasuki masa Kemerdekaan RI.

Perkebunan tidak lagi menjadi pilar kokoh bagi perekonomian Malangraya.

Bahkan kini, pada wilayah Kota Malang, areal perkebunan nyaris musnah, berganti dari "kebun tanaman" menjadi "kebun beton dan kaca".

GOOGLE MAPS - Area sekitrar Bukit Buring, Kota Malang

Kalaupun di sub-area timur Kota Malang pada Gunung Buring masih tersisa area perkebunan, keluasannya kian terbatas dan bisa dibilang "the last" kebun, yang boleh jadi tidak lama lagi bakal menyandang status "almarhum kebun" lantaran Jalur Tol yang melintasi sub- area timur Malang siap melumatkan "kebun terakhir" itu.

Selamat jalan perkebunan di Kota Malang. Kita adalah salah satu pihak yang ikut berkontribusi bagi terikikis habisnya perkebunan di sekitar kita.

Kebun, sawah dan ladang, engkau bakal memasuki fase metamorfosa menjadi bagian integral metropolitan Kota Malang, yang sayang hingga kini masih belum jelas kemana arahnya dan bagaimana formulanya. Nuwun.

Sangkaling, 30 September 2019
Griya Ajar CITRALEKHA

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved