Breaking News:

Sidang Pembunuh Begal di Malang

Pengadilan Negeri Kepanjen : Pembelaan Diri atau Noodweer ZA Tidak Terbukti, Putusan 1 Tahun Cukup

Humas PN Kepanjen menerangkan ada pertimbangan Majelis Hakim yang membuat pasal 49 ayat 1 KUHP tentang pembelaan diri atau noodweer tidak terbukti.

Penulis: Mohammad Erwin
Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/M Erwin
Humas Pengadilan Negeri Kepanjen, Yoedi Anugrah Pratama saat memberikan keterangan setelah sidang putusan ZA, Kamis (23/1/2020) 

SURYAMALANG.COM, KEPANJEN - Humas Pengadilan Negeri Kepanjen memberikan penjelasan terkait hasil sidang putusan ZA, kasus pelajar pembunuh begal, Kamis (23/1/2020).

"Ini tidak hanya keadilan bagi pelaku tapi keadilan bagi korban. Baik juga pada masyarakat pada umumnya. Kami melihat tetap pada titik beratnya. Dalam dakwaanya kemarin,  ada unsur penganiayaan yang menyebabkan korban (Misnan) meninggal dunia," ujar Humas Pengadilan Negeri Kepanjen, Yoedi Anugrah Pratama saat ditemui usai sidang putusan.

Yoedi menerangkan ada pertimbangan Majelis Hakim, yang membuat pasal 49 ayat 1 KUHP tentang pembelaan diri atau noodweer tidak terbukti.

BREAKING NEWS : Putusan Bagi ZA, Remaja Pembunuh Begal Malang Dikirim Ke LKSA Dairu Aitam

Sidang Putusan ZA Sempat Molor 20 Menit, Pembacaan Putusan Dilakukan Secara Terbuka

Putusan ZA Dinyatakan Terbukti Penganiayaan, Ini Skema yang Harus Dijalani di LKSA Darul Aitam

Unsur menghilangkan nyawa seseorang lewat penganiayaan lebih tampak.

Sehingga Majelis Hakim menyebut ZA terbukti bersalah sesuai pasal 351 KUHP.

Karena ZA berusia di bawah umur atau kategori perkara anak, Majelis Hakim memutuskan untuk dilakukan pembinaan, di LKSA Darul Aitam Wajak.

"Itu sudah dalam pertimbangan majelis hakim. Maka dari itu dipilih dilakukan pembinaan. Hakim sudah membuat pertimbangan," kata Yoedi yang juga seorang hakim itu.

Pemuda Lumajang Bunuh Paman Sendiri dengan Pedang Demi Selamatkan Nyawa Ayah dari Ancaman Celurit

Foto Pernikahan VJ Laissti, Mantan Pacar Baim Wong yang Dulu Bikin Geger Saat Suapi Ariel Noah

Jangka waktu pembinaan selama satu tahun, terdapat alasan menyertai.

Yoedi menerangkan, putusan pembinaan selama satu tahun dirasa cukup.

"Kenapa satu tahun, mungkin dirasa rentang waktu tersebut dirasa cukup bagi anak agar dapat memperbaiki dirinya. Namun menghilangkan nyawa orang termasuk kategori berat," kata Yoedi.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved