Breaking News:

Virus Corona di Malang

UPDATE Virus Corona di Malang Batu Surabaya Jatim Kamis 2 Juli 2020: Malang Raya Total Positif 490

Berikut update virus corona di Malang Batu Surabaya Jawa Timur hari ini Kamis 2 Juli 2020: Malang Raya total positif mencapai 490 orang.

Suryamalang.com/kolase KHAM/REUTERS
update virus corona di Malang hari ini Kamis 2 Juli 2020 

PDP (Pasien Dalam Pengawasan) = 116 orang 

- update virus corona di Surabaya 

Pasien Positif Covid-19 = 5815 orang

Pasien Sembuh Covid-19 = 2425 orang

Pasien Dirawat Covid-19 = 2936 orang

Pasien Meninggal Dunia Covid-19 = 454 orang

ODP (Orang Dalam Pemantauan) = 4418 orang

PDP (Pasien Dalam Pengawasan) = 5033 orang 

- update virus corona di Jawa Timur 

Pasien Positif Covid-19 = 12321 orang

Pasien Sembuh Covid-19 = 4391 orang

Pasien Dirawat Covid-19 = 6885 orang

Pasien Meninggal Dunia Covid-19 = 950 orang

ODP (Orang Dalam Pemantauan) = 29757 orang 

PDP (Pasien Dalam Pengawasan) = 10836 orang 

*Catatan: angka persebaran covid-19 di atas dapat berubah sewaktu-waktu.

Data di atas dikutip dari http://infocovid19.jatimprov.go.id dan https://lawancovid-19.surabaya.go.id/

- Berikut update berita terkait corona di Malang, Batu, Surabaya dan Jawa Timur:

1. Perbedaan Jumlah Tenaga Kesehatan Meninggal Akibat Covid-19

Ilustrasi tes swab Covid-19
Ilustrasi tes swab Covid-19 (Kompas.com)

Ada perbedaan data terkait tenaga kesehatan (nakes) meninggal antara Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jatim.

Dinkes Jatim menyebut delapan orang nakes meninggal.

Sedangkan IDI Jatim mengungkap sebanyak 22 orang nakes meninggal.

"Kami sudah mempertemukan IDI Jatim dan Dinkes Jatim soal perbedaan angka tersebut. Selisihnya memang jauh," kata Hikmah Bafaqih, Wakil Ketua Komisi E DPRD Jatim kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (1/7/2020).

Sesuai penjelasan IDI Jatim, 22 orang yang meninggal terdiri dari dua bidan, 10 dokter, dan 10 perawat.

Jumlah tersebut tersebar di seluruh wilayah Jatim, termasuk Surabaya.

Hikmah mengungkapkan perbedaan angka tersebut menunjukkan belum adanya koneksi antar lembaga kesehatan tersebut.

Sesuai penjelasan Dinkes, selama ini data kematian nakes didapat dari rumah sakit dan laboratorium.

"Ternyata banyak nakes yang meninggal namun tidak dilaporkan sebagai nakes," katanya.

Komisi E mendorong Dinkes Jatim dan IDI untuk segera melakukan sinkronisasi data.

"Bayangkan, keluarga para nakes namun tidak terdata sebagai nakes maka tidak mendapatkan uang duka (santunan) sebagai apresiasi," kata politisi PKB ini.

Sesuai data IDI Jatim, jumlah nakes di Jatim sebanyak 25.000 orang.

Dari jumlah itu, sebanyak 76 orang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Namun, jumlah nakes yang terinfeksi tersebut belum termasuk tenaga kesehatan di Surabaya.

Sebab, IDI menyebut kesulitan mengakses data di Surabaya.

Tapi, IDI menyebut 10 orang dinyatakan meninggal karena Covid-19.

Jumlah itu sudah termasuk yang ada di Surabaya.

IDI menyatakan dari 137 perawat yang positif, 10 di antaranya meninggal.

Sedangkan dari 53 bidan yang positif, dua orang telah meninggal.

Ketua IDI Jatim, Sutrisno berharap tenaga kesehatan mendapat prioritas.

"Ibarat perang, tentaranya adalah tenaga kesehatan," kata Sutrisno.

"Jadi kalau ingin perang, tentaranya harus dirawat, diopeni, dan diperhatikan agar tenaga, pikiran dan kemampuannya bisa terus untuk pelayanannya," lanjutnya.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengungkapkan Pemrov telah menyiapkan insentif kepada para nakes, termasuk santunan untuk para nakes yang meninggal dunia tersebut.

Emil menyebutkan pihaknya sudah telah menghitung jumlah santunan yang akan diterima para keluarga nakes meninggal.

"Sebelumnya, juga ramai soal besarannya. Kami pastikan jumlahnya lebih besar dibandingkan jumlah yang dianggap kecil itu."

"Manajemen yang akan menyampaikan jumlah pastinya," kata Emil.

2. Dinas Pendidikan Jatim Luncurkan Mobil Anti Covid-19

KENDARAAN PEMBASMI COVID-19 - Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahid Wahyudi saat meresmikan dan mencoba fasilitas Kendaraan Pembasmi Covid-19 (KPC) karya UPT Pengembangan Teknis Ketrampilan Kejuruan (UPT PTKK) di halaman Dinas Pendidikan Jawa Timur, Jl Gentengkali, Rabu (1/7). Kendaraan itu nantinya akan digunakan untuk melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan Dispendik Jatim dan keliling ke beberapa sekolah sebagai bagian untuk membasmi dan memotong rantai penularan Covid-19.
KENDARAAN PEMBASMI COVID-19 - Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Wahid Wahyudi saat meresmikan dan mencoba fasilitas Kendaraan Pembasmi Covid-19 (KPC) karya UPT Pengembangan Teknis Ketrampilan Kejuruan (UPT PTKK) di halaman Dinas Pendidikan Jawa Timur, Jl Gentengkali, Rabu (1/7). Kendaraan itu nantinya akan digunakan untuk melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan Dispendik Jatim dan keliling ke beberapa sekolah sebagai bagian untuk membasmi dan memotong rantai penularan Covid-19. (SURYAMALANG.COM/Ahmad Zaimul Haq)

Dinas Pendidikan Jawa Timur (Jatim) meluncurkan mobil anti Covid-19 yang mampu menjangkau hingga radius 50 meter di dalam ruangan.

Tak hanya difungsikan untuk pensterilan lingkungan kantor dinas,mobil ini rencananya juga akan difungsikan di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Wahid Wahyudi di sela peluncuran mengatakan mobil tersebut nantinya tidak hanya digunakan di lingkungan Dindik Jatim.

Namun, juga digunakan untuk Cabang Dinas Pendidikan Jatim yang berada di berbagai daerah.

"Mobil ini dirancang oleh pegawai Dindik Jatim. Fungsinya untuk melakukan penyemprotan disinfektan di ruangan kantor dan sekolah."

"Namun sementara hanya digunakan di daerah Surabaya dan sekitarnya," ujarnya.

Mobil yang diluncurkan Dindik ini didesain unik dengan bagian pengemudi terbuka.

Dan terdapat dua jenis penyemprot disinfektan.

"Itu ada lima kran yang mengeluarkan embun diatas tangki untuk luar ruangan."

"Di dalam ruangan nanti pakai selang keluarnya embun juga,"pungkasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pengembangan Teknis Keterampilan Kejuruan (PTKK) Dindik Jatim, Wahyu Suryo Herminoko menjelaskan ide pembuatan mobil anti Covid-19 ini tercetus saat masa pandemi virus corona.

Butuh waktu setidaknya selama dua bulan untuk menyelesaikan rancangannya.

Terlebih kerangka mobil dibuat dari barang-barang bekas.

"Jadi teman-teman (PTKK) punya inovasi dan gagasan bagaimana membuat mobil penyemprotan disinfektan."

"Sehingga kami manfaatkan mesin bekas mobil fultura yang rusak dan dimodifikasi," ujar pria yang akrab disapa Narko ini.

Lebih lanjut, Narko mengatakan kapasitas mobil muat untuk 1.500 liter cairan disinfektan.

Cairan tersebut berbentuk embun sehingga baik digunakan di luar dan dalam ruangan. 

"Kemarin kami isi disinfektan kurang lebih 50 liter dan sabun cair. Dengan jangkauan jarak maksimal 50 meter," kata dia. 

Selain itu, Narko mengemukakan selama masa pandemi berbagai agenda pelatihan keterampilan harus tertunda.

Alhasil, kegiatan tersebut dialihkan pada gagasan ide-ide inovatif dari para pegawai PTKK.

"Insya Allah nanti akan ada ide ide inovatif lainnya," ucapnya.

(Sulvi Sofiana/Bobby Constantine Koloway/Sarah Elnyora/SURYAMALANG.COM)

Penulis: Sarah Elnyora
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved