Breaking News:

Virus Corona di Malang

UPDATE Virus Corona di Malang Batu Surabaya Jatim Sabtu 4 Juli 2020: Positif 547, Sembuh 164

Berikut update virus corona di Malang Batu Surabaya Jatim Sabtu 4 Juli 2020: Malang Raya total positif 547, sembuh 164.

Penulis: Sarah Elnyora
Editor: Adrianus Adhi
Suryamalang.com/kolase Freepik.com/infocovidJatim
update virus corona di Malang hari ini Sabtu 4 Juli 2020 

PDP (Pasien Dalam Pengawasan) = 114 orang 

- update virus corona di Surabaya 

Pasien Positif Covid-19 = 6099 orang

Pasien Sembuh Covid-19 = 2737 orang

Pasien Dirawat Covid-19 = 2889 orang

Pasien Meninggal Dunia Covid-19 = 473  orang

ODP (Orang Dalam Pemantauan) = 4437 orang

PDP (Pasien Dalam Pengawasan) = 5116 orang 

- update virus corona di Jawa Timur 

Pasien Positif Covid-19 = 13025 orang

Pasien Sembuh Covid-19 = 4738 orang

Pasien Dirawat Covid-19 = 7140 orang

Pasien Meninggal Dunia Covid-19 = 998 orang

ODP (Orang Dalam Pemantauan) = 30002 orang 

PDP (Pasien Dalam Pengawasan) = 11133 orang 

*Catatan: angka persebaran covid-19 di atas dapat berubah sewaktu-waktu.

Data di atas dikutip dari http://infocovid19.jatimprov.go.id dan https://lawancovid-19.surabaya.go.id/

- Berikut update berita terkait corona di Malang, Batu, Surabaya dan Jawa Timur:

1. Deadline Presiden Jokowi dan Usaha Pemerintah 

Dr. Windhu Purnomo Tim Kajian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Surabaya saat konferensi pers di Grahadi Jumat (9/5/2020) malam.
Dr. Windhu Purnomo Tim Kajian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Surabaya saat konferensi pers di Grahadi Jumat (9/5/2020) malam. (SURYAMALANG.COM/Fatimatus Zahroh)

Deadline 2 pekan yang diberikan Presiden Jokowi supaya kasus positif Covid-19 di Jawa Timur (Jatim) menurun sudah kurang sepekan lagi.

Namun demikian Pakar Epidemiologi menilai pemerintah daerah belum menunjukkan kinerja yang signifikan sebagai upaya menurunkan kasus covid-19 dalam waktu sepekan yang sudah berjalan. 

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga (FKM Unair), Windhu Purnomo melihat tidak ada usaha yang signifikan dari pemerintah daerah untuk mengejar target yang diberikan oleh presiden tersebut.

Windhu menjelaskan, dirinya tidak hanya melihat dari jumlah kasus yang terus naik, tapi juga keseriusan usaha baik dari pemerintah provinsi maupun pemerintah Kota Surabaya yang kurang serius untuk menurunkan angka penularan tersebut.

"Kalau jumlah kasus kan resultan dari banyak hal, baik di Jawa Timur maupun Surabaya Raya. Bukan hanya kinerja dari pemerintah setempat, tapi juga kebijakan pemerintah daerah lain serta pemerintah pusat. Contohnya kebijakan mudik," kata Windhu, Jumat (3/7/2020).

Menurut Windhu, daripada jumlah kasus, yang lebih patut disoroti adalah proses dari pemerintah daerah untuk menurunkan angka kasus tersebut.

Yang pertama adalah ketegasan pemerintah untuk mendorong masyarakat untuk mau mematuhi protokol kesehatan melalui peraturan daerah.

"Kalau saya yang pertama kali dilihat adalah peraturan. Dan saya melihat tidak ada perubahan peraturan antara sebelum dan sesudah kedatangan presiden," ucap Windhu.

Menurut Windhu kunci dari penurunan angka kasus Covid-19 di Jawa Timur adalah pengendalian kedisiplinan warga.

Pemerintah Kota Surabaya sebagai episentrum Covid-19 Jawa Timur, menurutnya harus mempunyai Peraturan Wali Kota yang lebih tegas.

"Selama masih ada kerumunan dan tidak menggunakan masker akan ada penularan. Jadi yang dibutuhkan adalah pengendalian dari pemerintah," lanjutnya.

Proses lain yang diamati Windhu adalah testing, tracing, dan treatment.

Menurut Windhu, baik Dinas Kesehatan Provinsi maupun Dinas Kesehatan kabupaten kota harus mampu memaparkan peningkatan jumlah testing maupun tracing selama dua pekan.

"Tapi perlu diingat kalau testingnya tinggi tapi tidak di-tracing ya sama saja penularan tetap akan tinggi. Jadi harus berseiring," ucapnya.

"Tapi saya lihat tujuh hari ini tidak banyak berubah. Testing tinggi tapi tidak ada kenaikan signifikan setelah kedatangan Pak Presiden. Apalagi tracing, tidak banyak berubah," lanjutnya.

Yang ketiga, menurut Windhu yang harus disoroti adalah usaha pemerintah untuk menurunkan angka kematian akibat Covid-19 atau Case Fatality Rate (CFR).

Windhu memaparkan baik CFR Jawa Timur, maupun CFR Surabaya masih lebih tinggi daripada nasional.

"CFR Nasional itu 5,1. Sedangkan Surabaya 7,8. Kalau Jawa Timur 7,4," lanjutnya.

Tingginya CFR terutama di Kota Surabaya menurut Windhu disebabkan kapasitas rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang tidak bisa mengimbangi dengan banyaknya kasus Covid-19.

"Saya melihat memang ada peningkatan kapasitas bed, penambahan ventilator serta penambahan RS rujukan, tapi kecil," kata Windhu.

"Belum mampu menampung 'banjir bandang' dari masyarakat," lanjutnya.

Menurut Windhu, presiden pun juga harus bijak melihat kasus Covid-19 di Jawa Timur terutama di Surabaya.

"Kalau soal out come atau hasil tidak ujuk-ujuk setelah itu langsung turun. Tapi harus ada proses, baru tiga Minggu lagi mungkin bisa perlahan turun," pungkasnya.

Seperti diketahui presiden Jokowi memberi deadline 2 pekan untuk menurunkan angka penularan Covid-19 di Jawa Timur saat berkunjung ke Gedung Negara Grahadi, 25 Juni 2020 lalu.

2. Jam Malam Sidoarjo

Sejumlah personel polisi bersiap menutup jalan raya Waru arah Sidoarjo menjelamg jam malam, Jumat (3/7/2020)
Sejumlah personel polisi bersiap menutup jalan raya Waru arah Sidoarjo menjelamg jam malam, Jumat (3/7/2020) (SURYAMALANG.COM/M Taufik)

Petugas gabungan Polresta Sidoarjo, Kodim dan Satpol PP mulai disebar usai apel skala besar di Mapolresta Sidoarjo, Jumat (3/7/2020) malam.

Mulai pukul 22.00 WIB, sejumlah ruas jalan ditutup karena jam malam. Cafe, warkop, dan berbagai tempat nongkrong juga harus sudah tidak beroperasi pada jam malam, 22.00 sampai 04.00 WIB.

"Mulai malam ini. Jam malam kita ketati dan semua aktivitas di luar rumah harus sudah selesai saat jam malam," kata Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Sumardji usai memimpin apel.

Menurutnya, kebijakan ini terpaksa diambil karena kesadaran masyarakat masih kurang.

Paska PSBB, memasuki masa transisi new normal, seolah terjadi euforia di mana-mana hingga mengabaikan protokol kesehatan.

"Lihat saja di pasar, tempat nongkrong, di warung-warung dan berbagai tempat, banyak sekali yang tidak pakai masker dan tidak jaga jarak," lanjutnya.

Sampai kapan ? Kapolres menyebut sampai kondisi dirasa sudah kondusif. Apalagi, diketahui bahwa selama masa transisi new normal ini kasus covid-19 di Sidoarjo juga terus meningkat tajam.

Dalam upaya ini, posko check point di jalan-jalan protokol akan kembali diaktifkan. Ketika jam malam, beberapa ruas jalan utama ditutup mulai jam 22.00 sampai 04.00 WIB.

"Selain razia di warkop dan berbagai lokasi keramaian, petugas juga akan menertibkan masyarakat yang tidak taat protokol kesehatan. Sanksi sudah disiapkan, yang tidak pakai masker dihukum kerja sosial atau denda Rp 150 ribu," tegasnya.

Komandan Kodim 0816 Sidoarjo Kolonel Inf Mohammad Iswan Nusi yang ikut dalam apel pasukan ini menegaskan bahwa pihaknya siap membackup Polresta Sidoarjo dan Satpol PP dalam penertiban aturan ini.

"Sebagaimana perintah dari Panglima TNi, kami maksimal dalam membackup. Semua personil kami kerahkan," kata Dandim.

Pihaknya juga berharap, dengan ketegasan dalam penetiban ini, kesadaran masyarakat pun bisa semakin baik. Disiplin menjalankan protokol kesehatan, mematuhi aturan jam malam dan berbagai aturan lain untuk bersama-sama memutus mata rantai penyebaran covid-19 di Sidoarjo

(Sofyan Arif Candra/M Taufik/Sarah Elnyora/SURYAMALANG.COM)

Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved