Breaking News:

Berita Batu Hari Ini

DLH Batu Berencana Luaskan Lahan TPA Tlekung, Ini Alasannya

Kepala DLH Kota Batu, Aries Setyawan, mengatakan keterbatasan lahan menjadi kendala dalam pengelolaan sampah secara sanitary landfill

Penulis: Benni Indo
Editor: isy
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
TPA Tlekung di Desa Tlekung Kota Batu, Selasa (25/2/2020). Aroma sampah dari TPA Tlekung banyak dikeluhkan warga sekitar sehingga ada yang ingin pindah rumah. 

Warga di sekitar TPA Tlekung memang kerap mengeluh karena bau sampah yang menyeruak hingga ke pemukiman.

Bau sampah dari TPA Tlekung tercium hingga radius 2 kilometer lebih.

Bau semakin menyengat saat musim penghujan karena tak dilakukan proses penaburan kapur.

Kabid Kebersihan dan Pertamanan DLH Kota Batu, Imron Suyudi mengatakan, pihaknya hanya melakukan pemadatan sampah untuk menetralisir bau.

Proses pemadatan didahului dengan pengerukan sampah yang menumpuk di sel aktif.

Pada saat pengerukan inilah bau tak sedap timbul dan menguap.

"Pemadatan dilakukan untuk menetralisir bau. Jangan sampai ada rongga udara di sela-sela tumpukan sampah, bisa bau," kata Imron.

Dari data DLH per Oktober lalu, setiap harinya rata-rata sampah yang masuk ke TPA Tlekung seberat 108 ton.

Hingga akhir Oktober terhimpun bobot sampah mencapai 87.773 meter kubik.

Luas lahan TPA Tlekung yang dimanfaatkan saat ini seluas 1 hektar untuk  menimbun tumpukan sampah atau yang biasa disebut sel sampah.

Ada dua sel di lahan seluas 1 hektar ini, yakni sel aktif dan sel pasif.

Sel yang sudah tidak dimanfaatkan akan ditimbun tanah atau biasa disebut sel pasif.

Sel aktif masih dimanfaatkan sebagai tempat penampungan sampah.

"Sel pasif sekitar 30 persen dari luasan lahan. Sebanyak 70 persen luasan lahan masih sel aktif. TPA ini hampir penuh," kata Imron.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved