5 Fakta Jenazah Covid-19 Tertukar di Malang: Ada Petugas Pingsan Kena Pukul, Keluarga Sakit Hati

Inilah deretan 5 fakta jenazah Covid-19 tertukar di Kota Malang yang menjadi sorotan. Videonya sempat viral di media sosial.

Penulis: Frida Anjani | Editor: Adrianus Adhi
Tribunnews
Ilustrasi - Pemakaman Jenazah Covid-19 Tertukar di Malang 

Meski begitu, ia membantah ada keluarga yang memegang petugas tersebut.

"Perlu saya luruskan, tidak ada orang memegang terus saya pukuli tidak ada. Jadi pertama memang ditabrak oleh saudara saya, dipegang oleh orang-orang. Disusul oleh saya yang spontan memukul salah satu petugas itu," katanya.

Sebelumnya, MNH (21) dan sepupunya, BHO (24), ditangkap Polresta Malang Kota akibat insiden pemukulan tersebut.

Sementara itu, Koordinator Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Kota Malang, Dhana Setiawan mengatakan, insiden tertukarnya jenazah itu merupakan ketidaksengajaan dari petugas.

Menurutnya, petugas di lapangan sedang tidak fokus akibat capek. Ditambah, petugas dan keluarga jenazah sempat bersitegang.

4. RSSA Kota Malang Evaluasi Pemberian Identitas di Peti

Kasubbag Humas RSSA Malang, Dony Iryan Vebri Prasetyo
Kasubbag Humas RSSA Malang, Dony Iryan Vebri Prasetyo (SURYAMALANG.COM/Kukuh Kurniawan)

Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang akan mengevaluasi pemberian identitas di peti jenazah yang akan dimakamkan untuk mengantisipasi agar kejadian jenazah tertukar tidak terulang kembali. 

Kasubbag Humas RSSA Malang, Dony Iryan Vebri Prasetyo mengatakan, pemberian identitas di setiap peti jenazah akan ditinjau ulang.

Bagaimana pemberian identitas di setiap peti jenazah yang terbaik untuk diterapkan nantinya akan diputuskan bersama jajaran manajemen di RSSA Malang.

"Tentunya kami akan melakukan evaluasi. Kami akan putuskan di tingkat manajemen, nanti seperti apa," ujar Dony, Sabtu (30/1/2021).

Ia menjelaskan hingga saat ini, pemulasaraan jenazah dengan protokol Covid-19 menggunakan mekanisme pemberian identitas di peti jenazah.

Yakni dengan menuliskan nama jenazah di peti jenazah menggunakan spidol permanen.

"Selama ini identitas jenazah di peti dari rumah sakit cuma dikasih spidol, yang bertuliskan jenazah atas nama dan nomor ini. Atau gelang pasien yang dikenakan pasien waktu masih hidup, itu akan dipaku di peti. Dan sebenarnya selama ini sudah terbaca, dan tidak ada masalah," bebernya.

Sementara itu, disinggung mengapa tidak menggunakan kertas agar lebih jelas terkait penamaan identitas di peti jenazah, Donny mengaku jika menggunakan kertas tidak akan tahan lama dan cepat rusak.

"Kalau di kertas, tidak akan tahan lama dan mudah rusak. Dan kalau sudah rusak, akan menyulitkan petugas yang memakamkan," tambahnya.

Dirinya menerangkan terkait pemulasaraan jenazah dengan protokol Covid-19, dibutuhkan waktu 30 menit hingga satu jam. Di mana jenazah tersebut siap diberangkatkan untuk dimakamkan.

"Mulai dari meninggal, dimandikan, disterilisasi, hingga siap dimakamkan, dibutuhkan waktu 30 menit hingga satu jam tiap satu jenazah," ungkapnya.

Ia pun menambahkan, terkait data kematian yang dibagikan oleh pihak RSSA Malang, belum tentu semuanya merupakan pasien RSSA Malang.

"Kalau saya share data kematian atau share tatalaksana di kamar jenazah, itu belum tentu semua pasien dari RSSA. Melainkan pasien dari rumah sakit lain, yang mana untuk penatalaksanaannya dengan protokol Covid 19 dibawa menuju RSSA Malang," pungkasnya.

5.Penjelasan UPT Pengelolaan Pemakaman Umum Kota Malang Soal Video Viral Jenazah Covid-19 Tertukar

Potongan video viral jenazah Covid-19 tertukar di Kota Malang, Kamis (28/1/2021).
Potongan video viral jenazah Covid-19 tertukar di Kota Malang, Kamis (28/1/2021). ()

Beredar video viral jenazah Covid-19 tertukar di Kota Malang, Kamis (28/1/2021).

Video viral berdurasi kurang dari satu menit tersebut memperlihatkan sejumlah orang mengamuk karena jenazah keluarganya tertukar dengan jenazah lain.

Insiden itu menyebabkan seorang petugas PSC 119 Dinas Kesehatan Kota Malang pingsan akibat kena pukulan anggota keluarga tersebut.

Kepala UPT Pengelolaan Pemakaman Umum Kota Malang, Takroni Akbar mengatakan insiden jenazah tertukar tersebut karena petugas kelelahan imbas dari banyaknya pemakaman jenazah Covid-19 selama dua hari kemarin.

"Itu manusiawi. Teman-teman kecapekan karena sebelumnya sehari semalam diguyur hujan. Jadi harus dimaklumi," ucap Takroni kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (29/1/2021).

"Petugas ini merasa tertekan sehingga panik dan keliru mengambil jenazah. Saya imbau masyarakat bersabar. Ini bencana."

"Tim kami hanya itu-itu saja. Kami susah mencari ganti orang. Bahkan saya selalu membuka pendaftaran relawan," ucapnya.

Takroni menyesalkan keluarga yang sampai memukul petugas.

Padahal insiden tersebut bisa diselesaikan secara baik-baik.

"Kami akan serahkan ke pemerintah, karena kami kerja secara institusi. Saya tetap menjalankan tugas. Apapun kondisinya, kemanusian harus diutamakan," tandasnya.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved