Penanganan Covid

Alat Deteksi Covid-19 Lewat Bau Keringat Ketiak I-Nose C-19 ITS Uji Profil di RS, Cukup Rp 10 Ribu

Alat deteksi Covid-19 ini diklaim memiliki biaya yang murah, kurang dari Rp 10 ribu.Hasil deteksi juga bisa didapat dengan sangat cepat,hanya 3 menit.

Penulis: sulvi sofiana | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Ahmad Zaimul Haq
I-Nose C-19 - Inovasi gagasan guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Riyanarto Sarno, yakni I-Nose C-19, Senin (22/2) usai diserahkan secara resmi untuk digunakan di Rumah Sakit Islam Jemursari (RSI Jemursari) Surabaya. Penyerahan I-Nose C-19 termasuk dalam uji profile yang sedang dilakukan oleh tim ITS. 

Penulis : Sulvi Sofiana , Editor : Dyan Rekohadi

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Inovasi alat pendeteksi Covid-19 melalui bau keringat ketiak yang dinamakan I-Nose C-19 mulai dicoba di Rumah sakit.

Alat I-Nose C-19 rancangan guru besar Institute Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno itu kini memasuki tahapan uji profil.

Untuk itu dilakukan kerjasama dengan RSI Jemursari untuk menggunakan I-Nose C-19 sebagai alat skrining yang aman, murah dan efisien setelah alat ini melewati uji klinis tahap satu.

Alat deteksi Covid-19 ini diklaim memiliki biaya yang murah, kurang dari Rp 10 ribu.

Hasil deteksi juga bisa didapat dengan sangat cepat, hanya butuh waktu sekitar 3 menit untuk mendeteksi seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak.  

Ketua Yayasan RS Islam Surabaya (Yarsis), Prof Muhammad Nuh menuturkan alat yang dikembangkan Prof Riyanarto Sarno adalah alat untuk skrining awal deteksi Covid-19. Oleh karenanya harus memenuhi tiga persyaratan.

"Pertama biaya terjangkau tidak sampai Rp 10 ribu, kecepatan skrining hingga 3 menit untuk menyimpulkan hasil positif atau negatif. Dan yang tidak kalah penting alat ini aman. Dalam artian, keringat ketiak aman tidak akan menular. Karena penularan covid lewat mata hidung dan mulut," ujarnya usai serah terima alat I-Nose C-19, Senin (22/2/2021).

Apalagi, imbuh Prof Nuh juga cara kerja I-Nose C-19 yang mudah sangat bermanfaat bagi rumah sakit dalam memberikan pelayanan khususnya pada pasien Covid-19.

Sebab, selama ini tes PCR pasien Covid-19 sebelum dinyatakan negatif membutuhkan waktu dan biaya relatif mahal.

"Namun dengan i-nose bisa lebih mudah aman dan efisien," ungkapnya.

UJI PROFILE - Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis), Prof Dr Mohammad Nuh mencoba inovasi gagasan guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Riyanarto Sarno, yakni I-Nose C-19, Senin (22/2) usai diserahkan secara resmi untuk digunakan di Rumah Sakit Islam Jemursari (RSI Jemursari) Surabaya. Penyerahan I-Nose C-19 termasuk dalam uji profile yang sedang dilakukan oleh tim ITS
UJI PROFILE - Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis), Prof Dr Mohammad Nuh mencoba inovasi gagasan guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Riyanarto Sarno, yakni I-Nose C-19, Senin (22/2) usai diserahkan secara resmi untuk digunakan di Rumah Sakit Islam Jemursari (RSI Jemursari) Surabaya. Penyerahan I-Nose C-19 termasuk dalam uji profile yang sedang dilakukan oleh tim ITS (SURYAMALANG.COM/Ahmad Zaimul Haq)

Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno mengakui alatnya merupakan alat skrining awal berbasis artificial intelligent yang tidak bisa menggantikan PCR sebagai golden standart

"Efektifitas alat yang diuji dari keringat di ketiak pasien ini mencapai 91 persen. Sehingga memang i-nose bisa membantu tenaga medis untuk melakukan skrining tanpa harus menunggu lama. Apalagi biaya yang dikeluarkan juga tak sampai Rp 10 ribu"jelasnya.

Riyan sapaan akrabnya menyebut saat ini i-nose belum mendapat ijin edar dari Kemenkes.

Halaman
123
Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved