Pilkada Malang Raya 2024

PAC PDI Perjuangan Usulkan Mantan Sekda Kabupaten Malang Jadi Cabup Sanusi di Pilkada 2024

kalau calon N2 itu bukan dari orang partai, mereka mengusulkan Didik Budi Muljono, mantan Sekda Kabupaten Malang tiga tahun lalu

Penulis: Imam Taufiq | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM/Purwanto
Bupati Malang, H Muhammad Sanusi. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Pergeseran peta politik di internal PDI Perjuangan Kabupaten Malang begitu dinamis jelang Pilkada 2024.

Tiga hari setelah Bupati H Muhammad Sanusi menyatakan diri akan maju lagi dengan mencari calon wakilnya (Cawabup) dari PKB untuk digandeng pada Pilkada Nopember 2024 mendatang, langsung mendapat tanggapan berbeda.

Terutama dari kalangan grassroots PDI Perjuangan, yakni para ketua PAC PDI Perjuangan. Mereka mengaku belum 'welcome' dengan wacana yang dimunculkan Muhammad Sanusi itu sehingga mereka kini mewacanakan figur lain.

Yakni, kalau calon N2 itu bukan dari orang partai, mereka mengusulkan Didik Budi Muljono, mantan Sekda Kabupaten Malang tiga tahun lalu.

Alasannya, ia dianggap yang paling siap secara finansial untuk meringankan beban pembiayaan Pilkada 2024.

Sebab, dia saat ini sudah banting setir jadi pengusaha sukses, dengan berbagai usaha, di antaranya, hotel, cafe, peternakan, dan pertanian.

Namun, jika terpaksa dari kader PDI Perjuangan sendiri, Darmadi, Sekretaris DPC PDIP yang juga ketua DPRD Kabupaten Malang, bisa jadi alternatif.

Sebab, ia sudah tiga periode jadi anggota dewan, sehingga bukan cuma kefigurannya yang cukup, namun isi kantongnya juga sudah pantas.

"Kalau figur itu sama-sama kuat, sulit dikalahkan. Jika PDI Perjuangan itu ibarat mobil, mobil yang tangguh, dengan dikemudikan sopir yang namanya Pak Sanusi, bupati."

"Begitu menggandeng Pak Didik jadi N2, mobil itu tinggal memoles sedikit sudah banyak yang nawar," ungkap Agus Wijatmoko, Ketua PAC PDI Perjuangan Bantur, Sabtu (20/4/2024).

Begitu juga, Supriyanto, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Bantur, mengatakan, PDI Perjuangan harus belajar dari pengalaman Pilkada 2009 dan 2014 dulu, yang dua kali gagal menjadikan jagonya jadi bupati.

Saat itu, kalah dengan pasangan Rendra Kresna-HM Sanusi ketika jago PDI P berpasangan dengan N2 dari PKB meski PDI P maupun PKB sama-sana partai terbesar di Kabupaten Malang.

"Kami bukan merendahkan partai manapun, namun sejarah sudah membuktikan, apa mau kita ulang lagi. Pak Sanusi jadi bupati saat ini kan lewat PDIP."

"Makanya, teman-teman PAC mewacanakan agar Pak Sanusi agar mempertimbangkan Pak Didik," ungkapnya.

Kenapa harus Didik, menurut Supriyanto, karena Didik pernah jadi Sekda sehingga itu meringankan bagasi Sanusi, baik saat kampanye nanti maupun sudah jadi bupati terpilih nanti, misalnya.

"Dia juga punya pengalaman politik karena pernah bertarung juga di pilkada kemarin. Terus, kepanjangan tangannya di birokrasi juga masih kuat sehingga kami khawatir jika tak digandeng Pak Sanusi, lalu Pak Didik maju dengan calon lain, pasti akan menyulitkan kami. Wong, kami para PAC sudah kenal dekat Pak Didik karena punya kontribusi jelas kepada partai," tuturnya.

Hal serupa juga diungkapkan Susiono, Ketua PAC PDIP Wajak. Menurutnya, meski Didik itu mantan birokrasi namun ia sudah seperti politisi, bahkan karakter yang dimilikinya itu karakter orang PDIP tulen karena luwes sehingga cepat diterima oleh grassroots PDI Perjuangan.

Bahkan, menurutnya, yang tak dilupakan oleh para ketua PAC PDIP, ia punya jasa karena pernah memberangkatkan para ketua PAC ke Kongres Bali dulu.

"Kalau Pak Didik yang jadi N2, maka 2029 nanti ketika Pak Sanusi sudah tak bisa mencalonkan lagi, PDIP tidak kehilangan kader, karena tinggal menaikkan Pak Didik. Tapi, kalau N2 yang dipilih Pak Sanusi dari partai lain, maka 2029 nanti, N2 itu akan jadi lawan PDIP," tuturnya.

Begitu juga Suwaji, Ketua PAC PDIP Dau. Menurutnya, apa yang diwacanakan teman-teman PAC dengan menggusung Didik sebagai N2 Bupati Sanusi, itu ide cerdas. Cuma, itu harus dengan catatan, Didik tak boleh lewat partai lain, selain diusung PDI Perjuangan, seperti yang dialami Sanusi dulu.

Sebab, jika tidak, papar dia, pada Pilkada 2029 mendatang, ia bisa maju sendiri jadi calon bupati dengan lewat partai yang mengusungnya.

"Tapi, kalau diusung PDIP seperti Pak Sanusi lima tahun dulu, pada Pilkada 2029, PDIP tidak kehilangan kader karena ada Pak Didik. Namun, jika Pak Didik tidak mau, misalnya, kami mengusulkan N2 Pak Sanusi dari kader sendiri, Pak Darmadi," pungkasnya.

Sementara, Didik Gatot Subroto, Ketua DPC PDIP Kabupaten Malang, mengatakan, itu kan wacana dan sah-sah saja.

Sebab, semuanya nanti ditentukan pada hasil penjaringan dan siapapun boleh mendaftar.

"Silahkan saja, wong namanya wacana, ya bagus-bagus saja. Nanti kan dibuka pendaftaran buat calon," ungkap Didik, Wakil Bupati Malang yang mengaku akan mencalonkan diri di Pilwali Kota Batu.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved