Liputan Khusus Malang

Lima Kampung Tematik di Kota Malang Sepi Kunjungan

Lima kampung tematik di Kota Malang dalam kondisi pasif dan tidak ada kunjungan wisatawan

Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
Pengendara melintas di depan gapura Kampung Kramat di Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Lima kampung tematik dalam kondisi pasif dan tidak ada kunjungan wisatawan, yaitu Kampung Kramat Kasin, Kampung Wisata Aeng Hamid Rusdi, Kampung Seribu Topeng, Kampung Nila Slilir, dan Kampung Kuburan Londo.

Pemkot Malang akan mengevaluasi kampung tematik yang kurang aktif.

Total ada 23 kampung tematik dan kampung wisata di Kota Malang. Ada kampung aktif dan mendapat kunjungan wisatawan. Ada juga kampung yang tidak ada kunjungan wisatawan tapi pengurusnya aktif.

Kampung tematik yang dirintis sejak 2016 itu didesain untuk menjadi daya tarik wisatawan. Seiring berjalannya waktu, lima kampung masuk kategori pasif dan tidak ada kunjungan wisatawan.

Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang akan mendampingi kampung tematik yang pasif. Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi mendorong agar pengurus kampung tematik aktif kembali untuk menghidupkan potensi yang ada.

"Kami wajib membina dan mengembangkan agar kampung lebih menarik dan nyaman," ujar Baihaqi.

Kampung tematik pasif terjadi karena pengurus kelompok sadar wisata (pokdarwis) tidak semangat lagi untuk mengembangkan kampung. Disporapar pun kesulitan untuk membangkitkan kembali semangat warga atau pengurus Pokdarwis.

"Pengurus tidak semangat, ada yang pindah, dan ada yang meninggal. Kalau mereka ingin berhenti, kami usulkan agar status pengurus Pokdarwis dicabut. Kami beri semangat ke kampung yang pasif. Kalau masih belum berkembang, kami akan ajukan anggaran untuk menggelar kegiatan agar ada daya tarik serta keramaian," kata Baihaqi.

Kampung tematik yang aktif dan kunjungannya ramai akan memberi dampak positif pada warga. Misalnya Kampung Warna-Warni yang bisa hidup mandiri dari wisata.

"Kunjungan di Kampung Warna-Warni bisa mencapai 100 orang per hari. Warga pun bisa beli cat sendiri, bisa bayar tukang yang mencapai Rp 100 juta. Pengurus juga bisa memberi santunan kepada warga yang sakit, dan bisa menjamin biaya kebersihan. Warga juga mendapat parcel sembako saat hari raya," terang Baihaqi.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved