Liputan Khusus Malang
Nongkrong di Pasar Tradisional Bisa Lihat Kota Malang yang Alami
Saat awal bergulir, kunjungan ke desa wisata sangat membeludak, bahkan sampai 5.000 per bulan.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG - Gen Z termasuk kelompok orang suka coba-coba dan mudah bosam. Inilah penyebab banyak anak muda yang kembali ke pasar untuk berburu kuliner.
"Sekarang perubahan fenomena sangat cepat sekali. Apalagi sekarang Gen Z sangat mendominasi. Gen Z kan orang mudah bosan," kata Earlike Sani, dosen pariwisata Universitas Merdeka (Unmer) kepada SURYAMALANG.COM.
Earlike mencontohkan desa wisata di Malang Raya. Saat awal bergulir, kunjungan ke desa wisata sangat membeludak, bahkan sampai 5.000 per bulan. Tapi lambat laun kunjungan ke desa wisata semakin merosot. Kunjungan ke warung kopi (warkop) juga turun.
"Saat pandemi lalu, warkop menjamur. Sekarang banyak warkop yang tutup karena ditinggalkan pelanggannya. Sepertinya orang-orang sudah bosan dengan yang itu-itu saja. Memang masih ada yang datang, tapi sekarang fomonya kembali ke alam atau back to nature ke pasar sebagai kearifan lokal," tambahnya.
Pasar yang dulu terkesan kumuh, sekarang beralih ke pasar modern dengan kondisi yang sudah bersih. Ada kopian, dan kuliner yang enak-enak. Makanya banyak masyarakat yang beralih ke pasar tradisional.
Media sosial (medsos) juga turut berperan dalam keramaian pasar tradisional. Apalagi sekarang banyak masyarakat yang menunggah makanan sebelum dimakan. "Memang kadang menjengkelkan karena mau makan saja makanannya divideo atau difoto dulu untukk status for eating di medsos. Makanya orang-orang kan tahunya hanya bentuknya, tapi tidak tahu rasanya," terangnya.
Unggahan itu yang membuat masyarakat lain penasaran sehingga ingin mencoba kuliner tersebut. "Ketika kami ajak perwakilan dari Kementrian Pariwisata nongkrong di Pasar Klojen, mereka senang sekali. Mereka bisa menikmati kopi pada sore hari, dan terkesan melihat Kota Malang yang alami dan tanpa ditutup-tutupi," urainya.
Sebagaimana aktivitas di warkop, pengunjung juga bisa ngopi sambil main catur atau saling bercerita. Keramahtamahan itu yang membuat masyarakat semakin ingin datang ke pasar tradisional. "Umumnya, orang kan senang berhubungan dengan orang lokal. Itu dicari. Fenomena itu menjadikan pasar kembali ramai. Apalagi makanan di pasar tidak kalah dengan makanan di kafe. Bisa jadi rasanya lebih enak dan harganya terjangkau," terangnya.
33 Pasar di Kabupaten Malang Belum SNI |
![]() |
---|
Bisa Nikmati Roti Khas Perancis di Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang |
![]() |
---|
Anak Muda Gandrung Belanja di Pasar Tradisional, Rela Antre Sejam demi Dapat Makanan |
![]() |
---|
Citra Zacharia Ambil Peluang Modernisasi Pasar Oro-oro Dowo Kota Malang |
![]() |
---|
Banyak Anak Muda Nikmati Nongkrong di Pasar Klojen Kota Malang, Semoga Tak Sekadar FOMO |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.