Berita Malang Hari Ini
Pemkot Malang Segera Ambil Langkah Tanggulangi TBC, 17 Ribu Jiwa Terduga Kasus TB di Kota Malang.
Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyatakan berdasarkan hasil rapat tersebut, diketahui potensi ancaman TBC bisa lebih buruk dari Covid-19.
Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM, MALANG - Pemerintah Kota Malang telah mengikuti rapat koordinasi penanggulangan TBC bersama Kemenkes dan Kemendagri, Senin (10/6/2024).
Di dalam rapat tersebut, pemerintah akan mengambil langkah untuk mengantisipasi meningkatkan kasus TBC di Indonesia.
Baca juga: DPRD Kota Malang Peringatkan Pemkot Malang Agar Tidak Muluk-muluk Pasang Target Pendapatan
Pemkot Malang juga berencana akan menyirkulasikan surat edaran yang menjadi panduan teknis penanggulangan TBC.
Pj Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat menyatakan berdasarkan hasil rapat tersebut, diketahui potensi ancaman TBC bisa lebih buruk dari Covid-19.
"Indonesia salah satu yang terbesar setelah India. Untuk meminimalisir, akan ada surat edaran dari Menkes dan Mendagri," ungkap Wahyu saat ditemui di Gedung DPRD Kota Malang, Senin (10/6/2024).
Pemerintah Pusat akan mengambil langkah kolaborasi dengan Pemkot Malang untuk menekan angka TBC.
Secara umum, kata Wahyu, kondisi di Jawa Timur berdasarkan paparan di dalam rapat tidak begitu mengkhawatirkan.
"Tapi tidak boleh lengah karena TBC itu menular. Tadi diperintahkan juga kepada Kadinkes untuk ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh daerah. Sifatnya mengingatkan saja," ujarnya.
Edukasi kepada masyarakat tentang TBC harus dilakukan berulang.
Pengajar Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Holipah Phd menyatakan tidak mudah mencerdaskan masyarakat.
Edukasi yang diberikan secara berulang diharapkan membuat kesadaran masyarakat tentang TB berubah.
Selain harus dilakukan berulang, keterlibatan tokoh agama maupun masyarakat juga penting dihadirkan.
Keberadaan tokoh agama atau masyarakat diharapkan bisa meyakinkan warga tentang topik edukasi.
Beberapa kelompok masyarakat bahkan cenderung lebih mempercayai seorang tokoh daripada praktisi yang berlatar belakang profesional.
"Memang tugas untuk mencerdaskan masyarakat itu berat dan harus diulang-ulang terus. Jadi memang ini tugas bersama untuk mengedukasi masyarakat. Kita menganggap orang kota lebih paham, tapi nyatanya tidak," ujar Holipah.
Holipah melihat, saat ini masih banyak masyarakat mengira bahwa TB adalah penyakit turunan.Penyakit yang sulit disembuhkan.
Padahal, menurut Holipah, TB adalah penyakit yang bisa disembuhkan dalam waktu singkat.
Penanganan dini pengidap TB akan membuat pasien segera sembuh.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kota Malang, Miefta Eti Winandar mengungkapkan, upaya untuk mengedukasi masyarakat mengenai TB telah banyak dilakukan.
Miefta menyadari, mengubah pola pikir masyarakat tentang TB menjadi tantangan tersendiri.
Ia menyatakan tugas mengentaskan kasus TB tidak bisa hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan semata.
Di Pemerintahan Kota Malang, ada dinas lain yang juga memiliki peran membantu edukasi masyarakat.
"Banyak temuan kasus itu berada di lingkungan yang padat, kumuh dan ventilasinya tidak bagus. TB tidak bisa diselesaikan oleh orang Dinas Kesehatan saja," paparnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), per 27 Oktober 2023 terdapat 17.181 jiwa terduga kasus TB di Kota Malang.
Jumlah kasus TB yang ditemukan sebanyak 2.073 jiwa.
Pasien yang sembuh dari kasus tersebut sebanyak 75,65 persen.
Dinas Kesehatan Kota Malang mencatat ada 36 jiwa terkonfimasi TB RO (Tuberkulosis Resisten Obat).
Sebanyak 91,67 persen kasus TB RO mulai pengobatan lini kedua.
Lalu 71,13 persen dari temuan terkonfirmasi TB RO telah dinyatakan sembuh.
Miefta Eti Winandar juga mengungkapkan ada 348 kasus TB anak per 27 Oktober 2023.
Sebanyak 67 kasus merupakan TB HIV dan 111 jiwa dilaporakan meninggal dunia. (Benni Indo)
Ikuti updatenya di Google News SURYAMALANG.COM
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.