LIPSUS Malang Raya Vs TBC
Peran Penting Relawan Pendamping Pengidap TBC, Jadi Orang Terdekat Memotivasi, Jaga Semangat Sembuh
Bayti Ikhsanita adalah salah satu relawan yang telah bekerja mendampingi pengidap sejak 2016.
Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
“Kerja kami pada intinya memberikan dukungan psikis kepada pengidap,” katanya.
Tak jarang, kedekatan dengan pengidap yang ia dampingi mendorongnya mengetahui cerita kehidupan orang yang didampingi.
Beti pernah mendampingi seorang lelaki berusia 46 tahun dari Kabupaten Pasuruan.
Pada awal-awal pengobatan, keluarga seperti anak dan istrinya memberikan dukungan. Pun tempatnya bekerja memberikan dukungan penuh.
Begitu melewati bulan kedua, dukungan dari keluarga itu hilang.
Istri dan anaknya pergi. Kemudian datang cobaan berikutnya, lelaki usia 46 tahun dipecat dari tempatnya bekerja.
Upaya Beti mendampingi pengidap tidak sekadar pada upaya memastikan mengonsumsi obat, tapi juga upaya membantu memenuhi kebutuhan hidup.
“Kami upayakan dengan pendampingan hukum dari Jakarta, namun tidak membuahkan hasil yang bagus untuk memastikan ia tetap bekerja,” terang Beti.
Sekadar informasi, pengidap yang terdata akan mendapatkan bantuan dari Kemenkes berupa uang senilai Rp 600.000 yang ditransfer langsung ke rekening pengidap.
Sejak pengidap yang ia dampingi ditinggal keluarga terdekat dan mendapat pemutusan hubungan kerja, dirinya sering ditanya jadwal kiriman dari Kemenkes.
“Jadi orang yang saya damping ini sering tanya, kapan dikirim uang yang RP 600.000 itu. Sebelumnya tidak pernah terjadi seperti itu,” ujarnya.
Upaya untuk tetap membuat orang yang didampingi terus mengonsumsi obat terus dilakukan.
Beti masih mendampingi dan telah membuahkan hasil positif.
Orang yang ia damping mulai membaik dan kurang satu kali lagi cek untuk memastikan ia telah sembuh.
Cerita lain yang ia alami adalah saat ada seseorang yang berhenti mengonsumsi obat karena hendak menikah.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.