LIPSUS Malang Raya Kekurangan Guru

Kekurangan Guru di Malang Raya Ganggu Kegiatan Belajar Mengajar

Sistem pengajaran di tingkat SD membedakan antara guru kelas, guru olahraga, dan guru pendidikan agama.

Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Purwanto
Para siswa berbaris masuk kelas di SDN Kebonsari 03 Kota Malang beberapa waktu lalu. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Sejumlah sekolah di Malang Raya kekurangan guru kelas. Meskipun mengalami sekolah kekurangan guru, pemerintah daerah (pemda) atau sekolah kesulitan merekrut guru baru. Imbasnya, beberapa guru harus mengajar lebih dari satu kelas.

Sesuai Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) nomor 47/2023, setiap rombongan belajar atau kelas di tingkat sekolah dasar (SD) atau madrasah ibtidaiyah (MI) diisi 28 peserta didik atau siswa. Merujuk pada aturan tersebut, sebenarnya jumlah guru di Malang Raya sudah sangat ideal.

Misalnya di Kota Malang. Dilansir dari Data Pokok Pendidikan di Kemendikbudristek, jumlah guru di Kota Malang sebanyak 3.694 orang, dan jumlah siswa sebanyak 69.185 orang. Berarti rata-rata setiap guru mengajar sekitar 18 orang siswa.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Malang. Dalam Data Pokok Pendidikan, jumlah guru di Kabupaten Malang sebanyak 8.872 orang, dan jumlah siswa sebanyak 167.117 orang. Jadi, setiap guru di Kabupaten Malang juga mengajar skeitar 18 siswa.

Kondisi Kota Batu lebih baik dibandingkan dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang. Dalam Data Pokok Pendidikan, jumlah guru di Kota Batu sebanyak 926 orang, dan jumlah murid sebanyak 15.006 orang. Dengan perbandingan itu, berarti setiap guru di Kota Batu mengajar sekitar 16 siswa.

Tapi, sistem pengajaran di tingkat SD membedakan antara guru kelas, guru olahraga, dan guru pendidikan agama. Biasanya sekolah kekurangan guru terjadi pada guru kelas. Makanya setiap guru bisa mengajar lebih dari satu kelas.

Di Kota Malang, sekolah kekurangan guru terjadi di tingkat SD negeri (SDN). Kota Malang kekurangan guru karena sudah lama tidak merekrut guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS). Padahal tingkat pensiun guru setiap tahun sangat tinggi. Pemerintah juga melarang sekolah merekrut guru honorer.

Pemerintah berencana menuntaskan guru honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT) dan merekrut dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Pemerintah akan menggelar tes perekrtutan P3K guru untuk sekolah di lingkungan Kemdikbudristek pada tahun ini.

Kasi Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Sri Ratna Agustin mengatakan kekurangan guru di Kota Malang karena adanya guru yang pensiun dan belum ada pengangkatan PNS.

"Untuk memenuhi kekurangan guru melalui perekrutan P3K. Sementara ini, kekuranganya di SDN adalah guru kelas. Biasanya guru double mengajar di kelas lain, dan juga ada guru dari GTT. Yang penting ada yang membantu, dan siwa tetap terperhatikan. Jadi, tidak ada alasan kekurangan guru," kata Ratna kepada SURYAMALANG.COM, Kamis (3/10).

Ratna menyebutkan biasanya guru yang merangkap mengajar terjadi di SDN. "Itu karena selalu ada guru yang pensiun. Tapi insya Allah ada guru P3K yang akan mengisinya," tandasnya.

Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Malang. Sesuai data Disdik, jumlah SDN di Kabupaten Malang sebanyak 1.061 lembaga, SMP negeri sebanyak 69 lembaga, dan SMP Satu Atap (Satap) sebanyak 28 lembaga. Sedangkan jumlah guru guru SD sebanyak 6.841 guru, dan SMP sebanyak 2.226 guru.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang, Suwadji mengatakan kekurangan guru terjadi karena banyak guru yang pensiun dan meninggal dunia. Untuk mengatasi kekurangan guru itu, GTT atau guru non-ASN yang mengajar di kelas. Juga ada guru yang harus merangkap mengajar di kelas lain.

Suwadji menyebutkan kekurangan guru mengakibatkan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah kurang efektif dan kurang maksimal. Menurutnya, idealnya enam rombel di SD ada delapan guru atau pengajar. Tapi saat ini, ada beberapa SD yang tidak memenuhi angka ideal tersebut. "Jika guru harus mengajar banyak siswa, maka perhatian kepada siswanya akan terbatas," kata Suwadji.(Sylvianita Widyawati/Lu'lu'ul Isnainiyah)

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved