Rabu, 15 April 2026

LIPSUS Antisipasi Banjir di Malang Raya

Waspada Banjir Kabupaten Malang, 17 Kecamatan Rawan Bencana

BMKG memprediksi Mlanag Raya bakal memasuki musim hujan mulai akhir November ini.

Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: Zainuddin
BPBD Kabupaten Malang
Banjir menggenang sejumlah dusun di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Jumat (7/7/2023) 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Mlanag Raya bakal memasuki musim hujan mulai akhir November ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat ada sejumlah titik rawan banjir di Kabupaten Malang.

Plt Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Malang, Ichwanul Muslimin mengatakan rata-rata banjir terjadi di sepanjang aliran sungai, dan di wilayah lahan kritis. 

"Contohnya banjir di Malang selatan seperti Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Kalau air laut meningkat, dan gelombang pasang lebih rendah, maka air dari sungai yang seharusnya mengalir ke laut, kembali ke daratan sehingga terjadi banjir rob di pesisir pantai," jelas Ichwanul kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (3/11).

Banjir juga disebabkan oleh sumbatan sampah pada air sungai. Banjir karena sampah di sungai ini sering terjadi, dan tidak bisa diprediksi.

"Contohnya banjir di Kepanjen. Seharusnya aliran sungai terpecah, tapi sumbatan sampah membuat saluran buntu dan airnya meluap," tambahnya.

Dari 33 kecamatan di Kabupaten Malang, bencana banjir bisa terjadi di 17 kecamatan. Penyebab banjir di setiap kecamatan tergantung letak geografisnya.

Kecamatan Pujon, Kecamatan Ngantang, dan Kecamatan Kasembon yang berada di Malang barat termasuk kawasan banjir dan rawan longsor.

"Secara geografis, kontur tanah di tiga kecamatan itu berpasir sehingga tidak mampu menagan debit air yang berlebih," urainya.

Kawasan Malang selatan rawan banjir karena berdekatan dengan laut sehingga menjadi muara. Banyak sungai mati di Malang selatan. Sungai ini akan teraliri air ketika terjadi banjir.

Permasalahannya, sungai mati sering berubah arah akibat gempa. Getaran dari gempa bisa menyebabkan longsor, dan berpeluang menciptakan jalur baru yang mengarah ke pemukiman. Ssungai mati teraliri air akan mengarah ke pemukiman sehingga menyebabkan banjir.

"Sekarang kami sedang memetakan kawasan agar air tidak sampai meluber ke pemukiman. Kami tetap mengkondisikan embung-embung agar tetap menjadi tampungan air," terangnya.

BPBD juga telah mengirim surat peringatan deteksi dini ke camat, lurah, dan kepala desa di Kabupaten Malang. Surat tersebut berisi terkait antisipasi bencana hidrometeorologi.

"Kami mengimbau kepala desa untuk melakukan bersih-bersih sungai. Kalau kami bergerak sendiri, ada keterbatasan personel dan sarpras," terangnya.

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved