LIPSUS Antisipasi Banjir di Malang Raya
Suara Sirine Kurang Kencang, Warga Belum Tahu Langkah Penyelamatan Saat Banjir di Kota Malang
Pemasangan EWS ini untuk mengurangi kerugian akibat banjir dan meningkatkan upaya mitigasi bencana.
Penulis: Benni Indo | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG - Pemkot Malang telah memasang early warning system (EWS) di 13 titik. Pemasangan EWS ini untuk mengurangi kerugian akibat banjir dan meningkatkan upaya mitigasi bencana.
Seperti yang terlihat di Jalan Letjend S Parman, Kota Malang. Alat peringatan dini banjir ini berada di RT 7/RW 6 Kelurahan Blimbing. Di tempat ini ada satu EWS dengan dua corong pengeras suara, satu lampu sirine, dan satu kamera pengawas.
Slamet baru mengetahui keberadaan alat itu sekitar tiga bulan ini. Warga yang rumahnya berjarak 20 meter dari tempat EWS tersebut mengatakan sekali waktu sirine dari EWS pernah berbunyi. Slamet menduga bunyi sirine tersebut hanya sedang uji coba. "Soalnya saat itu tidak ada hujan," kata Slamet kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (3/11).
Saat sirine berbunyi, Slamet sedang berada di luar rumah. Menurutnya, suara sirine itu yang tidak kencang. Bahkan Slamet harus mendekat untuk memastikan sumber suara itu.
"Suaranya tidak nyaring, dan tidak penuh. Saya juga belum mendapat sosialisasi terkait tindakan yang harus dilakukan ketika sirine berbunyi," tambahnya.
Slamet menyebutkan kawasan RT 7/RW 6 Kelurahan Blimbing menjadi langganan banjir dalam tiga tahun terakhir. Slamet pun harus membuat penghalang di pintu rumahnya agar air tidak masuk rumah saat hujan deras terjadi.
Selama ini hujan deras selalu mengakibatkan banjir di kawasan tersebut. Pasalnya, kawasan tersebut menjadi lokasi pembuangan aliran air.
"Sebelumnya air hanya datang dari arah utara, tapi sekarang air juga datang dari selatan," terangnya.
Pemkot sempat membangun gorong-gorong diameter sekitar 1,5 meter di kawasan tersebut beberapa tahun lalu. Gorong-gorong itu mengalirkan air dari kawasan selatan.
Selain itu, ada jalur air yang lebih kecil dari utara dan barat. Jalur air yang berada di bawah gorong tersebut menuju pemukiman warga. Slamet menyebutkan dampak banjir paling parah ada di perumahan bagian bawah.
"Rumah saya masih termasuk di atas. Ada perumahan di bawah rumah saya," ujarnya.
Slamet berharap Pemkot bisa mengencangkan suara dari pengeras suara peringatan dini tersebut agar warga dapat mendengar suaranya. Pemkot juga perlu sosialisasi tentang penanganan banjir Kota Malang agar warga bisa bertindak saat sirine berbunyi.
"Kalau sekarang, suara sirinenya masih kalah kencang dengan suara toa di musala," urainya.
Warga lain, Tini mengatakan warga perlu mendapat sosialisasi untuk mengetahui tahapan menyelamatkan diri saat hujan.
"Sirine itu pernah bunyi, tapi hanya saat percobaan. Saat itu kami hanya melihat saja," kata Tini.
Waspada Banjir Kabupaten Malang, 17 Kecamatan Rawan Bencana |
![]() |
---|
Penanganan Banjir di Kota Malang, Masih Perlu Edukasi ke Masyarakat |
![]() |
---|
Belum Ada Alat EWS Banjir di Kota Batu |
![]() |
---|
Bambang Irianto: Penanganan Banjir di Kota Malang Tak Cukup Hanya Normalisasi Sungai |
![]() |
---|
Penanganan Banjir di Kota Malang, Penerapan Master Plan Drainase Butuh Dana Besar |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.