LIPSUS Antisipasi Banjir di Malang Raya
Bambang Irianto: Penanganan Banjir di Kota Malang Tak Cukup Hanya Normalisasi Sungai
Dalam beberapa kasus, banjir yang terjadi bisa menimbulkan kerusakan pada bangunan.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM, MALANG - Perubahan tata kota yang membuat Kota Malang menjadi langganan banjir. Hujan deras sebentar saja sudah memicu banjir di sejumlah titik. Dalam beberapa kasus, banjir yang terjadi bisa menimbulkan kerusakan pada bangunan.
Pengamat lingkungan, Bambang Irianto mengatakan saluran air di Kota Malang adalah saluran irigasi dengan ciri-ciri dari hulu ke hilir semakin mengecil dan bercabang.
Umumnya saluran irigasi memiliki kedalaman hampir sejajar dengan tanah permukaannya karena untuk mengairi sawah. Selain itu, ada pintu air yang mengendalikan saluran air.
"Karena perubahan iklim, terjadi sendimentasi atau pendangkalan pada saluran irigasi di Kota Malang. Dulu masih ada sawah dan hutan. Sekarang banyak bangunan, dan ruang terbuka berubah menjadi ruang tertutup," kata Bambang, Selasa (29/10).
Saat hujan, air membawa apa saja yang dilewati, mulai dari pasir, lumpur, dan sebagainya. Akibatnya, sungai semakin dangkal, dan debit air di irigasi pun semakin terbatas.
"Hal ini karena dampak perubahan iklim. Hujan sebentar tapi derasnya setengah mati sehingga saluran irigasi tidak bisa menampung air, sehingga terjadi banjir," papar peraih Piala Kalpataru pada 2018 ini.
Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB) ini menyebutkan harus ada upaya untuk penanganan banjir Kota Malang. Tidak mungkin menghilangkan banjir, tapi masih mengurangi dampak banjir melalui normalisasi saluran irigasi.
"Saya tidak setuju normalisasi sungai dengan cara sungai dikeruk, dan sampah diambil. Langkah itu memang baik, tapi tidak cukup hanya dengan melakukan langkah seperti itu," urainya.
Meskipun sungai bersih dari sampah, tapi air dari hujan dewasa tidak akan dapat tertampung di sungai. Bila ada sampah, sungai atau aliran air pun tersumbat.
Selain itu, plengsengan atau turap bisa membuat sungai terlihat lebih bersih. Tapi dengan adanya plengsengan, air bisa lebih cepat meluncur ke sungai.
Dengan tidak adanya plengsengan, banyak tanaman di sepanjang bantaran sungai yang bisa berguna untuk menyerap air. Jadi, air bisa masuk ke tanah melalui akar tanaman, sehingga air di permukaan bisa berkurang.
"Kalau sungai diplengseng, laju air akan sangat kencang. Apalagi kalau sungainya tidak lurus dan ada tikungan, pasti airnya ada yang lompat dan menjadi banjir di daratan," urainya.
Bambang menilai mengurangi dampak banjir bisa dilakukan dengan mempertahankan bantaran sungai. Tapi masalahnya, ada lahan milik warga di bantaran sungai.
"Pemerintah bisa tetap menghormati hak milik warga itu. Tapi kalau warga itu mau membuat bangunan, pemerintah jangan memberi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) karena tanah itu berada di bantaran sungai," jelas peraih penghargaan Guangzho International Award ini.
Waspada Banjir Kabupaten Malang, 17 Kecamatan Rawan Bencana |
![]() |
---|
Penanganan Banjir di Kota Malang, Masih Perlu Edukasi ke Masyarakat |
![]() |
---|
Belum Ada Alat EWS Banjir di Kota Batu |
![]() |
---|
Suara Sirine Kurang Kencang, Warga Belum Tahu Langkah Penyelamatan Saat Banjir di Kota Malang |
![]() |
---|
Penanganan Banjir di Kota Malang, Penerapan Master Plan Drainase Butuh Dana Besar |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.