Hikmah Ramadan
Berpuasa Secara Mindfullness
Pendek kata bulan Ramadhan sangat Istimewa karena didalamnya terdapat kesempatan emas untuk beramal sholeh, beribadah mendekatkan diri pada Allah SWT
Oleh : Prof. Hj. Muslihati, Sekretaris Komisi Perberdayaan Perempuan Remaja dan Keluarga MUI Jawa Timur
Marhaban ya Ramadhan
Alhamdulillah, bulan ramadhan kembali datang. Bulan mulia penuh keberkahan.
Bulan kesembilan dalam tahun hijriyah ini memiliki banyak sebutan, diantaranya syahrul ibadah atau bulan ibadah, syahrul maghfiroh atau bulan penuh ampunan, syahrurrohmah atau bulan penuh kasih sayang Allah, syahrulquran bulan diturunkan nya Al Quran, syahruttarbiyah atau bulan edukasi, dan tentu yang paling utama adalah syahrusshiyam atau bulan puasa.
Keutamaan Ramadhan tidak berhenti hanya itu, salah satu malam di bulan Ramadhan merupakan malam Istimewa adalah lailatul qodar yang sering disebut dengan malam seribu bulan karena berlipatgandanya pahala ibadah yang dianugerahkan Allah di malam luar biasa tersebut.
Pendek kata bulan Ramadhan sangat Istimewa karena didalamnya terdapat kesempatan emas untuk beramal sholeh, beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amal ibadah wajib seperti puasa dan sholat, dan berbagai amal ibadah sunnah untuk mencapai kualitas insan bertaqwa.
Puasa dan latihan pengendalian diri
Diantara sekian banyak sebutan untuk ramadhan, sebutan syahruttarbiyah atau bulan edukasi perlu diulas lebih detail.
Sebutan ini tentu bertali temali dengan sebutan lain yaitu syahrushiyam, syahrul quran dan syahrul ibadah.
Ibadah puasa yang dilaksanakan secara bersungguh-sungguh, merupakan proses edukasi yang tidak hanya berdampak pada aspek spiritual dan religius seorang muslim, namun juga sangat berpengaruh pada dinamika psikologis dan perilakunya.
Dampak ini diperoleh dari upaya proses pelaksanaan puasa itu sendiri.
Puasa yang dalam bahasa arab disebut as-Shiyaam atau as-Shaum memiliki makna menahan, secara syariat berupa ibadah yang dilakukan dengan tara cara menahan makan dan minum dan aktivitas lain yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar atau memasuki waktu subuh hingga terbenam matahari atau memasuki waktu maghrib.
Tentu, puasa tidak dimaksudkan menahan lapar dan haus semata namun juga mengendalikan hawa nafsu dan berbagai perbuatan tercela lainnya.
Menahan diri merupakan latihan psikologis yang tidak sederhana bagi manusia, apalagi jika dilaksanakan dalam durasi yang cukup lama.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.