Hikmah Ramadan
Meluruskan Orientasi Hidup di Dunia
Bulan Ramadhan bulan istimewa dengan keutamaan-keutamaannya yang banyak.
H. Ainul Yaqin, M.Si, Ketua MUI Jatim
Bulan Ramadhan bulan istimewa dengan keutamaan-keutamaannya yang banyak.
Keutamaan itu yang menyebabkan keberadaan bulan ini selalu ditunggu kehadirannya, tentu oleh siapapun yang mengetahui dan menyadari eksistensi keutamaan-keutamaan itu.
Dalam suatu hadits disebutkan: Seandainya hamba-hamba (Allah) mengetahui apa (keutamaan) yang ada pada bulan Ramadhan, niscaya umatku akan berangan-angan agar satu tahun itu adalah bulan Ramadhan seluruhnya (HR Abu Ya’la; dikutip dalam Lathaif al-Ma’arif hlm. 347)
Sehubungan dengan itu, kita bisa menilik kebiasaan yang ada pada generasi shalaf al-shaleh.
Perkataan dari kalangan mereka sebagaimana dikutip oleh Ibn Rajab al-Hanbali: “Dahulu para salaf berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka disampaikan pada bulan Ramadhan.
Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan berikutnya agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).” (Latha’if al-Ma’arif hlm. 475).
Umar bin Abdul Aziz Ra tatkala memberi khutbah pada hari raya Idul Fitri menyampaikan, "Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama tiga puluh hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih tiga puluh malam. Kini (di Idul Fitri) kalian keluar, memohon pada Allah agar amalan kalian diterima” (Latha’if al-Ma’arif hlm. 475).
Jika para shalaf al-shaleh serasa mencurahkan keseluruhan hidupnya untuk Ramadhan, semua ini karena mereka mengetahui dan menyadari bulan ini adalah momentum Allah mencurahkan nafahat (hembusan) yang banyak, yakni curahan rahmatNya. Sedangkan hembusan rahmat adalah suatu yang jadi dambaan.
Sebagaimana dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya Allah memiliki nafahat yang akan dicurahkan sepanjang masa, karena itu berusahalah untuk mendapatkannya Bisa jadi diantara kalian ada yang mendapatkan satu nafahat, sehingga dia tidak akan celaka selamanya.” (HR al-Thabarani dalam al-Awsath Juz III/hlm. 180).
Jika direnungkan lebih mendalam lagi, apa yang dilakukan oleh para shalaf al-shaleh adalah cerminan dari orientasi hidupnya yang tidak hanya sebatas duniawi.
Mereka mendambakan keselamatan dan kebahagiaan tidak sebatas di dunia, tetapi yang justru lebih penting adalah keselamatan dan kebahagiaan di akhirat nanti.
Bahkan bisa jadi apa yang dirasakannya seperti yang tergambar dalam syair puji-pujian bahasa Jawa yang biasa dilantunkan menjelang shalat lima waktu: “rugi ndonya gak dadi opo, rugi akhirat bakal ciloko (rugi dunia tidak masalah namun jika rugi akhirat akan celaka)”.
Hal ini karena kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal selamanya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.