'Sangat Berbahaya' Dedi Mulyadi Pernah Lihat Tambang Gunung Kuda Cirebon, 14 Orang Tewas, Longsor

'Sangat berbahaya' Dedi Mulyadi pernah lihat langsung tambang Gunung Kuda Cirebon, 14 orang tewas akibat longsor, ini identitas korban.

|
Instagram @dedimulyadi71/@Dok BNPB
LONGSOR GUNUNG KUDA - Dokumentasi lama Dedi Mulyadi pada 7 Oktober 2021 (KIRI) sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat pernah melihat langsung tambang galian C Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Cirebon, Jawa Barat sebelum longsor terjadi pada Jumat (30/5/2025) sekira pukul 11.30 WIB. Evakuasi korban longsor tambang galian C Gunung Kuda Cirebon, 30 Mei 2025 (KANAN). 

7. Rusjaya (48), Desa Beberan, Blok Beberan RT 02 RW 01, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon

8. Rion Firmansyah, Desa Kepuh, Blok Gunung Santri, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

9. Rino Ahmadi (28), Desa Cikalahang, Blok III, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon.

10. Ikad Budiarso (47), Desa Budur, Blok Karang Wangi, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon

11. Toni (46), Desa Kepuh, Blok Benggoi, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

12. Wastoni Hamzah (25), Desa Krangkeng, Blok Lurah, Kecamatan Srengseng, Kabupaten Indramayu.

13. Jamaludin (49), Desa Krangkeng, Blok Lurah, Kecamatan Srengseng, Kabupaten Indramayu.

14. Suparta (42), Desa Kepuh, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

“Meninggal Dunia 14 Jiwa,” ujar Pranata Humas Ahli Muda BPBD Provinsi Jawa Barat, Hadi Rahmat, dalam keterangannya, Sabtu (31/5/2025).

Sementara itu, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jabar, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menjelaskan proses identifikasi terhadap para korban dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) dengan melalui lima fase.

"Yakni The Scene/TKP, Post Mortem, Ante Mortem Information Retrieval, Reconciliation, dan Debriefing," ujar Hendra.

Hendra menjelaskan, fase TKP merupakan tahap awal penanganan di lokasi kejadian untuk memilah korban hidup dan meninggal serta mengumpulkan barang bukti.

Fase Post Mortem adalah pemeriksaan jenazah secara menyeluruh untuk mengumpulkan data forensik.

Baca juga: Jangan Macam-macam Respons Dedi Mulyadi Dipanggil Presiden oleh Warga, Prabowo 2 Periode

Sementara fase Ante Mortem merupakan pengumpulan data korban yang hilang sebelum kematian.

Selanjutnya, pada fase Rekonsiliasi, data dari fase Ante Mortem dan Post Mortem dibandingkan untuk memastikan identifikasi korban.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved