Surabaya
Parkir di Surabaya Masih Pakai Karcis, DPRD Sebut Hal Itu Kuno
Idealnya Surabaya yang sudah terlanjur mengklaim sebagai smart city sudah tidak ada lagi layanan manual.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Eko Darmoko
SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Machmud, mendorong agar tata kelola parkir di Surabaya berbasis teknologi digital. Selain akurat juga akuntabel.
Idealnya Surabaya yang sudah terlanjur mengklaim sebagai smart city sudah tidak ada lagi layanan manual. Sudah bukan zamannya lagi parkir dengan menggunakan karcis.
"Wis gak usum gawe kitir, karcis sobek. Ayo kita mengimpikan layanan teknologi digital untuk semua sektor publik. Termasuk perparkiran," kata Machmud kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (18/7/2025).
Politisi senior dari Partai Demokrat ini menyebut bahwa perparkiran yang dikelola Dishub Kota Surabaya harus didorong untuk lebih akrab dengan teknologi.
Salah satu yang jadi polemik adalah kerapnya pengguna parkir ditarik biaya parkir tidak semestinya. Terakhir parkir di pusat kota di Jalan Tunjungan juga menumbuhkan kegaduhan.
Machmud menyayangkan kejadian tersebut. Konteksnya sama dan cenderung berulang.
"Wis talah menyobek karcis itu sudah kuno. Ayo pakai teknologi untuk layanan parkir yang dikelola Dishub," desak Machmud.
Sejumlah layanan di Surabaya mulai dokumen kependudukan, perizinan, pajak, dan layanan lainnya sudah dengan aplikasi. Apakah layanan parkir tepi jalan tidak bisa?
Machmud menyebutkan bahwa teknologi digital bisa menjawab semua kebutuhan. Termasuk parkir. Karcis parkir sebaiknya berangsur ditinggalkan.
"Kami yakin banyak program dan aplikasi di teknologi digital bisa dibuat sesuai kebutuhan. Karcis parkir menurut saya sudah jadi barang antik," katanya.
Dia memberi gambaran saat pengguna tol harus beralih dengan cashless. Dengan kartu elektronik tak ada lagi petugas bediri di pos gerbang tol.
Pengguna tol pun menyesuaikan dengan taping kartu tol. Mobil jadi cepat masuk gate karena tak perlu kembalian. Petugas tol dan pos jaga pun jadi kenangan.
Cepat, tidak ada kebocoran, dan masyarakat menerima kehadiran teknologi. Surabaya dengan jargon smart city dirasa mampu mengadopsi teknologi untuk tata kelola parkir.
Machmud menyadari bahwa pengelolaan parkir tepi jalan memang rumit dan kompleks. Sebab pengelolaan parkir ini juga melibatkan juru parkir.
Tinggal saat ini yang dibutuhkan adalah bagiamana mengelola dan mengkomunikasikan digitalisasi parkir itu kepada petugas parkir. Apa pun harus menyesuaikan dan menjawab kebutuhan era.
Era menghendaki perparkiran harus dengan teknologi digital. Kalau masih mengandalkan karcis parkir akan ketinggalan.
Misalnya setiap kantung parkir tepi jalan ada alat taping. Kendaraan yang tidak taping tidak akan dapat struk resmi. Berapa biaya parkir disesuaikan aturan dan pembayaran dengan kartu.
Termasuk SMAN 10 dan SMAN Taruna Nala Malang,13 SMAN di Jawa Timur Jadi Pilot Projek Sekolah Digital |
![]() |
---|
Baby Sitter Asal Malang Diburu Polisi, Bobol Rekening Sesama Baby Sister |
![]() |
---|
DPRD Jatim Soroti Dugaan Pungutan di SMAN 1 Kampak Trenggalek, Desak Dinas Pendidikan Turun Tangan |
![]() |
---|
Buruh Sampaikan Keluhkan Beban Pajak yang Berat ke Pemprov Jatim |
![]() |
---|
GIIAS Surabaya 2025 Resmi Dibuka, 7 Merek Baru Tarik Perhatian Pengunjung yang Membeludak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.