Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Kota Malang

Tips dari OJK Malang Tentang Perencanaan Keuangan saat Lebaran Agar Tidak Boros

OJK Malang mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak jauh hari sebelum Lebaran agar masyarakat tidak boros

Tayang:
SURYAMALANG.COM/Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah
KEUANGAN - Kepala OJK Malang Farid Faletehan saat memberikan tips perencanaan keuangan menjelang Lebaran, Selasa (10/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Falatehan, mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak jauh hari sebelum Lebaran agar tidak mengalami tekanan finansial setelah hari raya
  • Cara sederhana mengelola keuangan adalah dengan membagi pendapatan ke dalam beberapa pos pengeluaran yang jelas
  • Idealnya 10 persen dari pendapatan dialokasikan untuk sedekah. Selain memberikan manfaat sosial, sedekah juga diyakini membawa keberkahan dalam pengelolaan keuangan

SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Momen Lebaran sering kali identik dengan meningkatnya pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik, membeli baju baru, hingga berbagi dengan keluarga.

Tanpa perencanaan yang matang, kondisi ini bisa membuat keuangan rumah tangga menjadi tidak stabil.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Faletehan, mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak jauh hari sebelum Lebaran agar masyarakat tidak mengalami tekanan finansial setelah hari raya.

Menurutnya, salah satu cara sederhana mengelola keuangan adalah dengan membagi pendapatan ke dalam beberapa pos pengeluaran yang jelas.

Farid menjelaskan, idealnya 10 persen dari pendapatan dialokasikan untuk sedekah.

Selain memberikan manfaat sosial, sedekah juga diyakini membawa keberkahan dalam pengelolaan keuangan.

"Sepuluh persen itu untuk sedekah. Spiritnya luar biasa. Ini juga menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang baik," ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (10/3/2026).

Baca juga: DPRD Minta Kejelasan Batalnya Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Kota Malang

Selanjutnya, sekitar 20 persen pendapatan sebaiknya dialokasikan untuk tabungan dan investasi.

Ia menilai kebiasaan menabung perlu dipaksakan agar masyarakat memiliki dana cadangan, termasuk untuk kebutuhan Lebaran.

Farid mengaku sering mendorong kebiasaan menabung di lingkungan kerjanya, misalnya dengan menyisihkan dana secara rutin setiap bulan.

"Kalau tidak dipaksa menabung, biasanya kita tidak punya dana cadangan."

"Makanya saya sering minta teman-teman menyisihkan Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu setiap bulan, yang nanti bisa diambil saat Lebaran," jelasnya.

Sementara itu, maksimal 30 persen dari pendapatan sebaiknya digunakan untuk membayar angsuran pinjaman.

Batas ini penting agar beban cicilan tidak mengganggu kebutuhan keuangan lainnya.

Baca juga: Satgas Pangan Polres Malang dan Bapanas Cek Ketersediaan Telur dan Daging Ayam Jelang Idul Fitri

"Berapa pun jumlah pinjamannya, yang penting angsurannya tidak lebih dari 30 persen dari pendapatan," katanya.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved