Kota Malang
Tips dari OJK Malang Tentang Perencanaan Keuangan saat Lebaran Agar Tidak Boros
OJK Malang mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak jauh hari sebelum Lebaran agar masyarakat tidak boros
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Falatehan, mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak jauh hari sebelum Lebaran agar tidak mengalami tekanan finansial setelah hari raya
- Cara sederhana mengelola keuangan adalah dengan membagi pendapatan ke dalam beberapa pos pengeluaran yang jelas
- Idealnya 10 persen dari pendapatan dialokasikan untuk sedekah. Selain memberikan manfaat sosial, sedekah juga diyakini membawa keberkahan dalam pengelolaan keuangan
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Momen Lebaran sering kali identik dengan meningkatnya pengeluaran, mulai dari kebutuhan mudik, membeli baju baru, hingga berbagi dengan keluarga.
Tanpa perencanaan yang matang, kondisi ini bisa membuat keuangan rumah tangga menjadi tidak stabil.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang, Farid Faletehan, mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak jauh hari sebelum Lebaran agar masyarakat tidak mengalami tekanan finansial setelah hari raya.
Menurutnya, salah satu cara sederhana mengelola keuangan adalah dengan membagi pendapatan ke dalam beberapa pos pengeluaran yang jelas.
Farid menjelaskan, idealnya 10 persen dari pendapatan dialokasikan untuk sedekah.
Selain memberikan manfaat sosial, sedekah juga diyakini membawa keberkahan dalam pengelolaan keuangan.
"Sepuluh persen itu untuk sedekah. Spiritnya luar biasa. Ini juga menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang baik," ujarnya kepada SURYAMALANG.COM, Selasa (10/3/2026).
Baca juga: DPRD Minta Kejelasan Batalnya Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Kota Malang
Selanjutnya, sekitar 20 persen pendapatan sebaiknya dialokasikan untuk tabungan dan investasi.
Ia menilai kebiasaan menabung perlu dipaksakan agar masyarakat memiliki dana cadangan, termasuk untuk kebutuhan Lebaran.
Farid mengaku sering mendorong kebiasaan menabung di lingkungan kerjanya, misalnya dengan menyisihkan dana secara rutin setiap bulan.
"Kalau tidak dipaksa menabung, biasanya kita tidak punya dana cadangan."
"Makanya saya sering minta teman-teman menyisihkan Rp 200 ribu atau Rp 300 ribu setiap bulan, yang nanti bisa diambil saat Lebaran," jelasnya.
Sementara itu, maksimal 30 persen dari pendapatan sebaiknya digunakan untuk membayar angsuran pinjaman.
Batas ini penting agar beban cicilan tidak mengganggu kebutuhan keuangan lainnya.
Baca juga: Satgas Pangan Polres Malang dan Bapanas Cek Ketersediaan Telur dan Daging Ayam Jelang Idul Fitri
"Berapa pun jumlah pinjamannya, yang penting angsurannya tidak lebih dari 30 persen dari pendapatan," katanya.
| Anomali Harga Pangan di Kota Malang, Cabai Turun Rp 65 Ribu per Kg, Bawang Merah Tembus Rp 60 Ribu |
|
|---|
| Aston Hotel Hadir di Malang, Tersedia Kamar Penthouse dan Kuliner Timur Tengah, Sambut Piala Dunia |
|
|---|
| Terganjal Masalah IPAL, Sejumlah SPPG di Kota Malang Berhenti Sementara |
|
|---|
| Terkait Pengelolaan Velodrome, Pemkot Malang Segera Jajaki Kerja Sama dengan Pemprov Jatim |
|
|---|
| Terminal Arjosari Kota Malang Dinilai Cocok sebagai Koridor Baru Bus Trans Jatim |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Kepala-OJK-Malang-Farid-Faletehan-saat-memberikan-tips-perencanaan-keuangan-Lebaran.jpg)