Tips Jual Hewan Kurban
Dosen UB Malang Berbagi Tips Cara Mengolah dan Menyimpan Daging Kurban Agar Empuk
Dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang, Lola Ayu Istifiani S Gz MS, membagikan tips cara mengolah daging kurban dengan baik
Penulis: Mochammad Rifky Edgar Hidayatullah | Editor: Eko Darmoko
Ringkasan Berita:
- Dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang, Lola Ayu Istifiani S Gz MS, membagikan tips cara mengolah daging kurban secara baik
- Daging kurban sebaiknya tidak langsung diolah setelah proses penyembelihan. Perlu waktu, sebelum daging tersebut diolah sebelum dimasak
- Hewan kurban yang mengalami stres saat disembelih dapat mengalami ketegangan otot, sehingga daging menjadi lebih keras atau alot
SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG - Berikut adalah cara mengolah daging kurban agar empuk dan tidak berbau, serta tetap mengandung nilai gizi saat dikonsumsi.
Momen Hari Raya Iduladha identik dengan melimpahnya daging kurban di rumah.
Namun, banyak masyarakat yang masih belum memahami cara dalam mengolah daging kurban.
Mulai dari langsung memasaknya setelah disembelih hingga salah menyimpannya.
Hal itu justru dapat membuat daging menjadi alot, berbau prengus, bahkan cepat rusak.
Dosen Gizi Departemen Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (UB) Malang, Lola Ayu Istifiani S Gz MS, membagikan tips cara mengolah daging kurban dengan baik.
Ia mengingatkan, bahwa daging kurban sebaiknya tidak langsung diolah setelah proses penyembelihan.
Perlu waktu, sebelum daging tersebut diolah sebelum dimasak.
Menurutnya, hewan kurban yang mengalami stres saat disembelih dapat mengalami ketegangan otot, sehingga daging menjadi lebih keras atau alot.
Baca juga: Harga Plastik Mahal, Pemkot Batu Imbau Warga Gunakan Daun Pisang dan Besek Bambu untuk Daging Kurban
"Setelah disembelih, daging harus melewati fase rigor mortis atau fase kekakuan otot terlebih dahulu."
"Jadi daging harus didiamkan dulu sekitar empat sampai enam jam."
"Kalau langsung dimasak, daging biasanya jadi alot," kata Lola kepada SURYAMALANG.COM, Senin (25/5/2025).
Setelah melewati fase tersebut, daging baru bisa diolah menjadi sate, gulai, atau masakan lainnya.
Namun jika daging harus segera dimasak sebelum enam jam, Lola menyarankan menggunakan teknik pengolahan berbasis air seperti direbus, dibuat sop, gulai, atau empal.
"Kalau belum lewat fase rigor mortis, jangan langsung dibakar seperti sate karena panas tinggi justru membuat otot makin tegang. Lebih baik direbus atau dipresto," katanya.
Lola Ayu Istifiani
Universitas Brawijaya (UB)
Kota Malang
daging kurban
SURYAMALANG.COM
eksklusif
multiangle
meaningful
SaksiKata
| Stok Hewan Kurban di Kabupaten Malang Mencapai 100 Ribu Ekor |
|
|---|
| Ekonomi Lesu, Penjualan Kambing Kurban di Kepanjen Malang Turun 70 Persen Dibanding Tahun Lalu |
|
|---|
| Cek Kesehatan Hewan Kurban di Lapak dan Peternakan Kota Batu, Ini Kasus yang Paling Banyak Ditemukan |
|
|---|
| Harga Plastik Mahal, Pemkot Batu Imbau Warga Gunakan Daun Pisang dan Besek Bambu untuk Daging Kurban |
|
|---|
| Ekonomi Lesu, Konsumen di Kota Malang Tahan Pengeluaran untuk Beli Hewan Kurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/suryamalang/foto/bank/originals/Dosen-Universitas-Brawijaya-UB-Malang-Lola-Ayu-Istifiani-S-Gz-MS.jpg)