Kekerasan di SMP Negeri Kota Malang

Wali Kota Malang : Kepala Sekolah, Wakilnya dan Guru Harus Dihukum, Kasus Kekerasan pada MS

Wali kota Malang, Sutiaji mengungkapkan bahwa pihaknya datang untuk menjenguk sekaligus melihat kondisi korban pasca operasi amputasi jari tengah.

Penulis: Kukuh Kurniawan | Editor: Dyan Rekohadi
TRIBUN JATIM/Kukuh Kurniawan
Walikota Malang, Sutiaji dan Kapolres Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata usai menjenguk korban perundungan MS yang dirawat di RS Lavalette. 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Kukuh Kurniawan

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Walikota Malang Sutiaji menyatakan para penanggung jawab di sekolah negeri tempat MS mengalami kekerasan atau perundungan akan dihukum

Sutiaji menegaskan hukuman akan diberikan pada Kepala sekolah, wakil kepala sekolah hingga guru.

Ia mengatakan berkaitan dengan langkah langkah kedisplinan, pemberian hukuman akan dilakukan secepat mungkin.

6 Poin Hasil Pertemuan Tertutup Antara Wali Kota Malang dan Kepala SMP Terkait Kasus Perundungan

Korban Perundungan di Kota Malang Masih Trauma, dan Tak Mau Dikunjungi Siapapun

7 Siswa Pelaku Bullying MS di SMPN 16 Malang Ternyata Aktivis & Anggota Pramuka, Ini 6 Fakta Lainnya

"Pada minggu ini harus ada hukuman bagi semuanya baik untuk kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan guru yang ada di sekolah tersebut. Karena ini merupakan bentuk keteledoran dari lembaga pendidikan. Apalagi kejadian dan waktu diketahuinya cukup panjang dan hal itu sangat amat sangat disayangkan sekali," terang Sutiaji di RS Lavalette, Rabu (5/2/2020) sore. 

Wali kota bersama dengan Kapolresta Malang Kota jenguk korban perundungan, MS (13) di RS Lavalette.

Mereka datang berkunjung sekitar pukul 16.40 WIB dan langsung segera memasuki bagian ruang anak.

Para awak media yang meliput kegiatan tersebut tidak diijinkan masuk di kamar MS.

Sekitar pukul 17.00 Wib, mereka kemudian mengakhiri kegiatan menjenguk korban perundungan itu.

Wali kota Malang, Sutiaji mengungkapkan bahwa pihaknya datang untuk menjenguk sekaligus melihat kondisi korban pasca operasi amputasi jari tengah.

"Dalam kesempatan ini, saya menyampaikan penyesalan atas kejadian ini. Mengapa kejadian ini dapat terjadi di sebuah lembaga pendidikan," ujarnya kepada TribunJatim.com, Rabu (5/2/2020).

Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah meminta kepada pihak kepolisian agar hal ini dapat ditindak dengan sebaik mungkin.

"Ditindak secara proporsional, siapapun yang bersalah harus diberikan pelajaran. Karena kejadian ini tidak hanya mencoreng dunia pendidikan Kota Malang saja namun juga mencoreng dunia pendidikan Indonesia," tambahnya.

Usai memberikan pernyataan kepada awak media, mereka pun segera meninggalkan RS. Lavalette.

Sementara itu, Kapolres Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata saat memberikan keterangan pada awak media di Mapolres Malang Kota menuturkan bahwa baik korban dan terduga pelaku dilakukan pendampingan secara psikis.

"Korban dilakukan pendampingan psikologi dari berbagai pihak mulai dari Dinsos Malang Kota, pihak RS Lavalette, Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A), dan Unit PPA Polresta Malang Kota. Sedangkan untuk terduga pelaku, dilakukan pendampingan dari keluarganya dan pihak dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A)," pungkasnya.

Sumber: Surya Malang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved