Ramadan 2021

Manajemen Rindu Dalam Idul Fitri di Masa Pandemi

Meski masih dalam kondisi pandemi covid-19, Ramadan tetap terasa khidmat dan nikmat.

Editor: isy
MUI Jatim
Dr Hj Muslihati SAg MPd, Sekretaris Komisi Pemberdayaan Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Jatim dan Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. 

Manajemen rindu setidaknya dapat dilakukan dengan tiga cara.

Pertama, manajemen rindu dapat dimulai dari niat dan pola berpikir.

Hampir semua ahli psikologi kognitif berpendapat bahwa mind set atau pola pikir akan membentuk sikap dan tindakan seseorang.

Pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan mudik dan berbagai himbauan bukan tanpa sebab, kebijakan tersebut berdasarkan rekomendasi para ahli Kesehatan dan epidimiologi mengenai risiko penularan jika ada mobilisasi massa secara massive ke berbagai daerah.

Semua itu karena pemerintah menghindari kemudaratan yang akan terjadi di Indonesia.

Diperlukan kesadaran kolektif untuk memaknai dan memahami pesan tersebut bahwa: “mudik dan pulang kampung di masa pandemi akan membawa resiko besar penyebaran virus”.

Risiko tersebut akan meningkat jika pemudik berasal dari di daerah zona merah.

Alih-alih menghadirkan kebahagiaan bagi keluarga dengan datang berkunjung, bisa-bisa kita malah membawa bencana bagi mereka karena tanda disadari menjadi penyebar virus mematikan bagi orang-orang tersayang.

Mentaati ketentuan pemerintah dan himbauan berbagai kalangan untuk tidak mudik sama artinya dengan berkontribusi terhadap memaslahatan ummat khususnya kebaikan orang-orang yang kita sayangi.

Kalimat lain yang lebih sederhana adalah 'menunda kepulangan adalah wujud rasa sayang pada keluarga'.

Niat taat pada pemerintah dan ulama demi kebaikan disertai dengan penataan mind set positif sebagai tersebut di atas akan sangat membantu dalam mengendalikan rasa rindu.

Kedua, mensyukuri keadaan dan bukannya menyesali kondisi.

Betapa besarnya kekuasaan Allah SWT, pandemi terjadi ketika kecanggilan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan manusia untuk berkomunikasi jarak jauh dengan audio yang jernih dan tampilan jelas pada citra visual.

Keberadaan telpon pintar, mengharuskan kita berucap, 'meski tidak bisa bertemu langsung, alhamdulillah untung masih bisa komunikasi melalui video call, yang penting sama-sama sehat dan semoga diberi panjang umur'.

Kalimat positif sedemikian akan berpotensi mengurangi kegusaran karena tidak bisa bertemu orang tersayang.

Mengapa kita tidak boleh menggerutu, mengeluh dan mengucapkan kalimat negatif lainnya, karena semua itu akan berdampak negatif baik secara psikologis maupun fisik.

Berbagai referensi menyebutkan bahwa keluhan akan memicu munculnya hormon kortisol.

Hormon yang sering disebut dengan hormone stress tersebut akan berefek negatif terhadap kesehatan. Keluhan yang bertumpuk-tumpuk juga akan memicu stress dan emotional hijacking, bahkan irrational beliefe.

Sebaliknya, bersyukur, dan mengucap kalimat-kalimat positif akan mengundang hormon endorphin, oksitosin, dan asetilkolin, yaitu hormon-hormon yang akan menghadirkan rasa bahagia, tenang dan damai.

Kalau bisa bahagia mengapa memilih stress.

Fakta ini membuktikan bahwa janji Allah SWT sangat nyata, di mana orang-orang yang bersyukur akan dilimpahi nikmat yang berlipat-lipat, sebaiknya orang-orang yang kufur dan negatif akan terpuruk dalam kondisi yang tidak menyenangkan.

Ketiga, saling mendoakan orang-orang tersayang.

Doa adalah senjata kaum beriman.

Doa begitu dahsyat karena memiliki resonansi luar biasa yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu, terlebih jika doa dimunajatkan oleh orang-orang special, dan di waktu mustajabah.

Doa orang tua pada anak dan sebaliknya, doa pasangan suami istri, doa sesama muslim merupakan doa-doa yang memiliki potensi kekauatan dan kedahsyatan.

Dalam situasi pandemi yang belum berakhir ini, doa sebagai senjata kaum beriman harus semakin gencar dimunajatkan.

Dorongan rasa rindu akan mampu dikendalikan dengan doa dan harapan.

Berdoalah dan berharaplah kepada Allah SWT semoga orang-orang tersayang senantiasa diberi kesehatan dan usia panjang penuh keberkahan.

Mendoakan orang-orang tersayang lebih baik daripada menghujat kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak.

Dengan doa dan kedisiplinan bersama disertai keyakinan, insya Allah suatu saat akan datang situasi yang aman dan memungkinkan sehingga peluang bersilaturrahmi dan bersua orang-orang tercinta akan kembali terbuka.

Tentang kedahsyatan do’a, kekuatan kesabaran dan keyakinan dalam manajemen rindu, kita semua perlu belajar dari sosok mulia Nabiyullah Ya’qub as.

Ketika Putra terkasih belai yang amat tampan yaitu Nabi Yusuf as hilang karena ulah kedzoliman saudara-saudara Yusuf yang penuh kedengkian, Nabi Ya’qub merenda hari dengan doa-doa penuh keyakinan bahwa suatu saat beliau akan bertemu dengan Nabi Yusuf as, tentu dengan ijin Allah SWT.

Meski air mata senantiasa mengalir deras ketika mengingat Nabi Yusuf, namun beliau selalu berkhusnudzon dan tetap menunajatkan doa pada Allah SWT tanpa henti berharap dengan penuh keimanan.

Jangan ditanya seperti apa tumpukan rindu yang menggunung di relung hati beliau, tapi kemampuan yang luar biasa dalam mengelola hati disertai doa dan keyakinan, membuktikan bahwa kerinduan beliau berakhir dengan pertemuan yang sangat indah setelah berpisah dengan putra tercinta selama berpuluh-puluh tahun lamanya.

Kisah Nabi Ya’qub dan Nabi Yusuf disebutkan di dalam Alquran Surah Yusuf.

Sebuah kisah manajemen rindu yang patut diteladani kita semua.

Mengelola niat, hati dan pikiran dalam manajemen rindu memang tidak mudah, tapi jika upaya ini sertai dengan niat mulia, rasa syukur yang tidak pernah luntur dan doa penuh keyakinan pada kebesaran Allah SWT, maka pertemuan silaturahmi yang indah dengan orang-orang terkasih akan terwujud juga dengan izin Allah Azza wa Jalla.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved