Kampus Malang Raya
Mahasiswa UMM Bikin Limbah Kulit Jeruk untuk Petani Desa Tegalweru, Malang
Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadikan limbah kulit jeruk jadi briket yang memiliki nilai ekonomis.
Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Yuli A
SURYAMALANG.COM, MALANG - Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadikan limbah kulit jeruk jadi briket yang memiliki nilai ekonomis. Mahasiswa melakukan ini untuk Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Briket kulit jeruk diharapkan bisa membantu masyarakat di Desa Tegalweru, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Menurut Berlinda Amalia Diami, ketua tim, menjelaskan jika kulit jeruk yang tidak dikelola akan membusuk. Padahal bisa diubah dan dimanfaatkan dengan lebih baik. Briket adalah sebuah blok bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memulai dan mempertahankan nyala api. “Kebanyakan masyarakat di sana berprofesi sebagai petani jeruk. Mereka hanya mengandalkan penghasilan dari perkebunan yang dimilikinya," papar dia, Selasa (16/7/2024)
Sehingga tidak ada pendapatan pasti. Tim mahasiswa bekerjasama dengan karang taruna setempat dan beberapa petani jeruk mengumpulkan limbah kulit jeruk yang kemudian diolah menjadi briket. Untuk mengelola limbah kulit jeruk membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Awalnya, limbah kulit jeruk dimasukkan ke dalam tong untuk proses pembakaran limbah.
Hasilnya, kulit jeruk berubah warna menjadi coklat tua. Setelah melalui proses pembakaran limbah, kulit jeruk perlu melalui proses penghalusan menggunakan chopper dan disaring agar memudahkan proses pencampuran menjadi adonan sebelum disulap menjadi briket. Selanjutnya, hasil pencampuran adonan yang kami buat itu dicetak dan dijemur di bawah sinar matahari selama enam sampai tujuh hari. "Setelah melakukan proses yang cukup panjang, maka jadilah briket yang sempurna” jelasnya.
Briket bisa dipakai untuk bahan bakar untuk memasak. Selain itu juga bisa dimanfaatkan karang taruna setempat sebagai bentuk usaha penjualan briket di beberapa destinasi wisata sekitar desa.
“Kami juga telah bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) untuk mendukung dan memfasilitasi karang karang taruna serta masyarakat setempat untuk terus melanjutkan ide kreatif ini," tambahnya.
Sehingga masyarakat mendapatkan keterampilan yang bagus dan dapat meningkatkan perekonomian desa. Tim juga membuat buku pedoman untuk masyarakat setempat. Buku tersebut menjadi harapan agar program yang sudah mereka rintis bisa terus berlanjut di kemudian hari dan tidak berhenti ketika program PKM usai.
Marissa Haque Ingin Sekelas dengan Anaknya di S3 UIN Malang Tahun Depan |
![]() |
---|
Pertama Kali, PBAK UIN Malang Diadakan di Dua Kampus, Ada 11 Maba Internasional |
![]() |
---|
1018 Ide dari Mahasiswa Baru Fakultas Teknologi Pertanian UB Malang |
![]() |
---|
Polisi Jangan Ambil Kewenangan Instansi Lain, Rekomendasi Para Akademisi UB Malang |
![]() |
---|
Kafe Pustaka di Kampus UM Tutup setelah 9 Tahun Eksis, Pernah Buatkan Kursi Khusus Jomblo |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.