Liputan Khusus Malang

Wisata Petik Apel di Kota Batu Terus Berkurang, Petani Lebih Untung

Saat banyak petani apel merugi karena harga apel yang murah, justru harga apel dari wisata petik apel masih menjanjikan.

Penulis: Dya Ayu | Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Dya Ayu
Petani memerika pohon apel di lahan miliknya di Kota Batu. 

SURYAMALANG.COM, BATU - Wisata petik apel menjadi kekuatan bagi petani apel di Kota Batu. Saat banyak petani apel merugi karena harga apel yang murah, justru harga apel dari wisata petik apel masih menjanjikan.

Biaya masuk ke wisata petik apel dibanderol sekitar Rp 25.000. Selama berada di wisata petik, pengunjung dapat makan sepuasnya apel. Pengunjung yang ingin membawa pulang apel cukup membayar antara Rp 20.000 sampai Rp 40.000 untuk setiap kilogram (Kg) apel.

Sekarang memang tidak banyak petani yang mempertahankan wisata petik apel. Karena harga apel sering turun drastis, banyak petani yang mengganti pohon apel dengan sayur-mayur.

Seperti yang terlihat di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji. Utomo menjadi satu-satunya petani yang masih menanam apel. "Banyak pelatih yang beralih menanam jeruk atau sayur. Karena biaya operasional dan harga apel tidak sebanding," kata Utomo kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (24/8).

Utomo mengungkapkan tingginya biaya operasional menanam apel dapat tertutupi dari hasil wisata petik apel. Petani sudah mendapat Rp 25.000 dari tiket masuk. "Selama di lokasi, pengunjung dapat makan apel jenis manalagi, granny smith, rome beauty, dan anna sepuasnya," tambahnya.

Utomo pernah merugi sampai Rp 137 juta pada tahun lalu karena produksi apel anjlok dan harganya hanya Rp 4.000 per Kg. "Sekarang harga apel lebih bagus dibandingkan dulu karena sekarang apel tidak sebanyak dulu. Makanya seharga harga apel bisa sampai Rp 15.000 per Kg," terangnya.

Utomo memiliki wisata petik apel seluas 2,5 hektare di beberapa lokasi di Tulungrejo. Setiap kebun milik memiliki masa panen yang berbeda. "Memang masa panennya saya buat berbeda. Makanya wisata petik bisa buka setiap hari. Kalau satu kebun ini habism saya arahkan wisatawan ke kebun lain yang buahnya sudah siap," urainya.

Utomo mengatakan sekarang produksi apel tidak sebanyak beberapa tahun sebelumnya. Sekarang satu kebun milik Utomo hanya menghasilkan 500 Kg apel. Padahal dulu satu kebun bisa menghasilkan sekitar 2 ton buah apel. "Mungkin karena usia pohon dan produksi sekarang tidak seperti dulu. Tahun lalu harga buah apel hanya Rp 4.000 per KG. Kalau tidak ada wisata petik apel, saya pasti sudah kolaps," tuturnya.

Utomo mampu memperoleh pencapatan sampai belasan juta rupiah per bulan dari wisata petik apel. Sebab jika apel-apel tersebut dijual ke pengecer, harganya hanya sekitar Rp 15.000 per Kg. Tapi kalau dijual di wisata petik apel, harganya mencapai Rp 40.000 per Kg. "Untuk wisata petik itu apel, biasanya apel 4 ton habis antara dua sampai tiga minggu," jelasnya.

Utomo menyebutkan banyak wisatawan datang ke Kota Batu hanya ingin tahu pohon apel dan bisa memetik buah apel dari pohon. "Sensasinya petik sendiri itu berbeda dengan membeli apel di pasar. Mayoritas wisatawan adalah keluarga dan rombongan dari Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), dan Kalimantan," imbuhnya.

Sementara itu, Sugeng Adi sudah menanami lahannya di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji dengan pohon apel. Adi lebih senang menanam pohon jeruk dan sayur di atas lahan miliknya.

Adi pernah menanam pohon apel di lahan miliknya. Tapi, biaya perawatan pohon apel tidak sebanding dengan harga jual apel ke tengkulak. "Saya memang sengaja mengganti kebun apel dengan pohon jeruk karena harga jualnya lebih baik dan juga dapat menarik kunjungan wisatawan. Jadi sekarang wisatawan punya pilihan selain apel," kata Adi, Minggu (25/8).

Adi mengungkapkan harga jual apel mulai anjlok sejak pandemi Covid-19. "Sebelumnya, harga pupuk juga tidak semahal sekarang dan harga buah apel juga tidak separah tahun 2023 sehingga petani masih bisa untung," tuturnya.

Selain menanam jeruk, Adi juga menanam beberapa jenis sayur di lahannya, mulai dari sawi, bunga kol, dan kubis. Menurutnya, sekarang harga sayur sedang anjlok. "Saat saya panen sawi, tidak ada pembeli. Dijual Rp 500 saja tidak laku. Makanya saya bingung harus bagaimana," tambahnya.

Menurutnya, petani sayur yang tidak memiliki kebun buah sedang bingung untuk mendapat untung saat harga sayur sedang anjlok. "Petani sayur sudah bingung harus menanam apa. Sedangkan petani apel yang masih bertahan hanya demi ikon Kota Batu saja," terangnya.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved