LIPSUS Potensi Properti Malang Raya

Bisnis Perumahan di Malang Raya, Kawasan Perbatasan Jadi Rebutan Warga Lokal

Selain dikenal sebagai pusat pendidikan, Kota Malang juga dikenal sebagai kota perdagangan dan kota wisata.

Penulis: Sylvianita Widyawati | Editor: Zainuddin
ISTIMEWA
Pengamat sosial dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr Rinekso Kartono MSi. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Kota Malang merupakan kota yang lengkap. Selain dikenal sebagai pusat pendidikan, Kota Malang juga dikenal sebagai kota perdagangan dan kota wisata.

Ditunjang dengan cuaca yang bagus, Kota Malang semakin menarik minat orang luar Malang untuk investasi, baik sebagai tempat peristirahatan, perdagangan, maupun investasi. Bahkan orang kaya dari luar Jawa pun sudah membeli banyak properti di Kota Malang.

Tapi, luasan Kota Malang sangat kecil. Sesuai Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW), sekitar 65 persen wilayah Kota Malang termasuk kawasan perumahan yang tidak hanya dikhususkan pada rumah, tapi juga hotel, dan sebagainya.

Dari lima kecamatan di Kota Malang, tiga kecamatan untuk perumahan, yaitu Sukun, Blimbing, dan Kedungkadang. Sedangkan Klojen, dan Lowokwaru khusus pendidikan.

"Kalau tertib, sebenarnya kawasan untuk perumahan sangat kecil karena tersebar di tiga zonasi. Ketika supply kecil, otomatis harga rumah akan mahal. Harga mahal ini terjadi bukan karena sempitnya lahan, tapi juga dipengaruhi menariknya Kota Malang sebagai lokasi investasi," kata Rinekso Kartono, pengamat sosial dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (29/9).

Semakin banyaknya orang luar Malang yang membeli rumah membuat orang lokal sulit mendapat rumah di Malang. Dengan penghasilan yang cukup hanya untuk kebutuhan sehari-hari, orang lokal tidak bisa mendapat rumah di Malang.

"Mungkin orang lokal bisa membeli rumah di pinggiran Kota Malang," tambahnya.

Dampaknya, orang lokal pun mencari perumahan di Kabupaten Malang yang berbatasan dengan Kota Malang, seperti Kecamatan Pakis, Karangploso, Wagir, dan Dau.

Kawasan di perbatasan Kabupaten Malang dan Kota Malang juga menjadi incaran warga Kota Batu. Sebba, harga rumah di Kota Batu sudah mahal. Kemudahan transportasi juga membuat orang luar Malang mencari perumahan di Malang Raya. Rata-rata orang luar Malang membeli rumah sebagai investasi. Akhirnya banyak perumahan yang kosong dan tak berpenghuni.

"Seperti orang Jakarta yang sudah tidak kerasan di Jakarta, mereka pergi ke Puncak pada Jumat malam. Itu mirip di Malang," terangnya.

Dulu lahan bisa dikerjakan bersama oleh orang tua, dan anak-anaknya untuk menanam jagung, singkong, dan sebagainya. Sekarang lahan hanya cukup untuk membangun rumah, dan lowongan pekerjaan sangat minim.

Ketika banyak rumah milik orang kaya yang kosong dan warga lokal tidak punya pekerjaan, timbul kejahatan di sejumlah lokasi. Munculnya kejahatan di perumahan itu karena anak muda tidak memiliki kegiatan positif.

"Itu risiko sosialnya. Selain itu, sekarang Kota Malang juga tidak bisa diharapkan menjadi kota dengan brand dingin. Begitu juga dengan Kota Batu," urainya.

Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved