Sabtu, 2 Mei 2026

Hikmah Ramadan

Berpuasa, Media Sosial dan Bertapa

Dalam beberapa Hadits, Allah menegaskan bahwa Puasa adalah untukNYA, dan pahalanya langsung dari Allah.

Tayang:
Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/ISTIMEWA
H.M.Sururi, Ketua Komisi Infokom MUI Jatim 

Ada yang bermuatan positif, misalnya mengajak orang lain berbuat baik.

Ada juga yang negatif mengumbar aib diri sendiri atau orang lain.

Media sosial adalah alat, tergantung manusia apakah akan dibuat kebaikan atau keburukan.

Nilai media sosial tergantung pemanfaatannya bagi manusia.

Kembali pada berpuasa. Selama menjalankan puasa Ramadhan manusia tetap berpeluang berbuat maksiat dan kebaikan. Apakah melalui media sosial atau tidak.

Mereka yang waktunya hampir dihabiskan di media sosial juga memiliki peluang yang sama.

Oleh karena itu bijak dalam memanfaatkan media sosial sangat penting. Terlebih selama Puasa Ramadhan.

Banyak aplikasi, sumber berita dan tayangan di media sosial yang menawarkan kebaikan. Misalnya aplikasi Al Qur'an, orang bisa memasangnya di HPnya. Sewaktu-waktu dan dimanapun dapat dimanfaatkan membaca Al Qur'an.

Dalam beberapa Hadits, Allah menegaskan bahwa Puasa adalah untukNYA, dan pahalanya langsung dari Allah.

Jika shalat misalnya ketika jama'ah akan mendapat pahala 27 kali lipat/derajat, maka berpuasa payalanya bisa berlipat-lipat menurut Allah sendiri yang membalasnya.

Kita tidak bisa memamerkan puasa kita. Apakah misalnya kita menunjukkan gerakan loyo itu sebagai bentuk pamer puasa kita. Orang lain tidak tahu betul.

Orang yang kelihatan semangat menunjukkan tidak puasa, kita tidak tahu betul.

Maka berpuasa adalah rahasia manusia dengan Allah, ibadah khusus, ibadah keintiman.

Urusannya hanya antara pelaku puasa dengan Allah, tak ada urusan dengan manusia lain.

Dalam masyarakat ada ungkapan populer, yakni "tapa ing rame", bertapa dalam situasi rame.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 2/3
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved