Minggu, 3 Mei 2026

Koperasi Merah Putih

KKMP Cemorokandang Bangkitkan Semangat Koperasi dari Sawah

Perjalanan KKMP Cemorokandang awalnya hanya mendapat subsidi untuk biaya akta notaris. Setelah itu, semuanya dilakukan secara mandiri

Tayang:
Penulis: Benni Indo | Editor: Dyan Rekohadi
SURYAMALANG.COM/Benni Indo
KKMP - Kiagus Firdaus, Wakil Pengawas KKMP Cemorokandang, menunjukan pupuk yang dijual di koperasi, Kamis (6/11/2025). Ia bersama anggota yang lain sepakat dalam rapat, bahwa koperasi tak melulu bergerak di sektor simpan pinjam. Harus ada cara lain yang berdekatan dengan kebutuhan masyarakat sekitar, berjualan pupuk. 
Ringkasan Berita:
  • Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Cemorokandang berangkat dari suntikan modal subsidi, kini secara perlahan perputaran uang meningkat
  • KKMP Cemorokandang menjadikan pupuk organik dan subsidi sebagai produk unggulan koperasi.
  • Berharap pemerintah benar-benar memberi dukungan seperti membantu kolaborasi dengan BUMD dan program sosial lain
 

 

SURYAMALANG.COM, MALANG – Di tengah geliat pertanian di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedungkandang, sebuah koperasi lokal tumbuh pelan tapi pasti menjadi penggerak ekonomi warga.

Namanya Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Cemorokandang, yang kini tak sekadar menjadi tempat usaha, tetapi juga wadah inovasi ekonomi berbasis kebutuhan warga desa.

Kiagus Firdaus, Wakil Pengawas KKMP Cemorokandang, yang menjadi salah satu motor penggerak di balik perubahan itu.

Pria 40 tahun ini menegaskan bahwa koperasi tidak boleh terjebak dalam pola lama yang monoton. 

“Kami tidak mau kalau koperasi hanya jadi tempat simpan pinjam tanpa ada kreasi. Harus ada usaha nyata yang dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujarnya, Kamis (6/11/2025).

Ia bersama anggota yang lain sepakat dalam rapat, bahwa koperasi tak melulu bergerak di sektor simpan pinjam.

Harus ada cara lain yang berdekatan dengan kebutuhan masyarakat sekitar.

Pupuk pun menjadi solusinya. Cemorokandang dikenal sebagai wilayah pertanian dan perkebunan.

Dari 3.500 kepala keluarga, sekitar 40 persen warganya adalah petani.

Potensi inilah yang dilihat Kiagus dan rekan-rekannya.

Baca juga: KDMP Randugading Tajinan Kabupaten Malang Berhasil Kelola Koperasi dengan Aset Rp 4,8 Miliar

Mereka memutuskan untuk menjadikan pupuk organik dan subsidi sebagai produk unggulan koperasi.

“Kami bekerja sama dengan distributor resmi dari Kementerian Pertanian. Mereka menitipkan produk ke kami untuk dijual,” tuturnya. 

Tak jarang, tambahnya, para petani datang langsung dari sawah untuk membeli pupuk di koperasi. 

“Kadang masih pakai celana pendek datang ke sini beli pupuk. Ya, karena lokasinya memang di depan sawah,” katanya sambil tersenyum.

Pupuk sangat dibutuhkan masyarakat sekitar karena banyak petani.

Dari pupuk itu, usaha bergerak dan bisa mendorong keuntungan untuk menjadi modal lagi.

Pertanian di kawasan Cemorokandang didominasi oleh perkebunan.

Ada sayur mayur, termasuk juga padi. Dengan adanya akses pupuk yang lebih dekat, petani pun menjadi lebih mudah untuk mendapatkannya.

"Itu memang kebutuhan petani di sini. Kami dapat memenuhi kebutuhan mereka soal pupuk ini," imbuhnya.

Selain pupuk, koperasi juga menyediakan layanan pembayaran HIPAM (Himpunan Pengelola Air Minum) yang sebelumnya hanya dilakukan di kantor kelurahan. Hal ini sangat mendorong perputaran usaha di koperasi itu.

"Sekarang warga bisa bayar air di koperasi. Dari situ berkembang ke pembayaran listrik, pulsa, dan akhirnya beberapa bank seperti BRI dan BNI melirik kami jadi agen,” jelasnya.

Berbekal keuntungan dari jasa pembayaran dan kerja sama perbankan, KKMP kemudian mengembangkan usaha sembako, menjual beras hingga LPG untuk kebutuhan rumah tangga warga.

 

Bertahan dari Kendala dengan Kemandirian

Perjalanan KKMP Cemorokandang tak selalu mulus. Awalnya, koperasi hanya mendapat subsidi untuk biaya akta notaris. Setelah itu, semuanya dilakukan secara mandiri. 

“Kami sempat kesulitan mencari anggota karena iuran Rp100 ribu dirasa berat bagi sebagian warga. Akhirnya, yang bergabung mayoritas petani dan pekebun,” ujar Kiagus.

Kendala itu perlahan teratasi setelah ada pengusaha lokal yang menyuntikkan modal sebagai investor.

Koperasi pun mulai tumbuh. Setelah resmi berdiri pada 9 September 2025, KKMP mencatat peningkatan pendapatan secara signifikan dalam tiga bulan pertama.

Perputaran uangnya bisa mencapai Rp 15 juta per bulan.

Hal lain yang kini menjadi tantangan adalah mendekatkan anak muda dengan koperasi.

Meski tumbuh positif, Kiagus mengakui tantangan terbesar koperasi saat ini adalah minimnya partisipasi anak muda. 

“Hampir 90 persen pengurus kami sudah berumur. Anak muda menganggap koperasi itu konvensional, mereka lebih tertarik pada pinjaman online,” katanya.

Untuk mengubah pandangan itu, KKMP mencoba pendekatan kreatif. Meski cukup sulit, tapi usaha tetap dijalankan. Pengurus biasa mendekat dengan anak muda melalui acara perlombaan.

“Kami masuk lewat Karang Taruna dan pernah menyelenggarakan lomba e-sport agar anak muda mengenal koperasi,” tuturnya. 

Namun, minat mereka masih terbentur pada iuran simpanan wajib yang dianggap memberatkan.


Langkah Digital Masih Terbatas

Transformasi digital juga menjadi tantangan tersendiri. Pengurus yang mayoritas sudah tua, jadi agak sulit beradaptasi. Sementara ini layanan bisa diakses pakai WhatsApp Business dan QRIS untuk transaksi.

Meski begitu, ia menyadari bahwa pemanfaatan teknologi menjadi kunci agar koperasi bisa bersaing. 

“Sebenarnya bisa sekali promosi lewat media sosial, tapi kami butuh pelatihan dan pendampingan. Kalau KKMP digarap serius, bisa kok bersaing dengan ritel modern,” tegasnya.

Ke depan, Kiagus berharap pemerintah benar-benar mendukung koperasi rakyat seperti KKMP.

Ia mencontohkan peluang kolaborasi dengan BUMD atau program sosial seperti rantang kasih yang dikelola melalui katering warga. 

"Kami sudah menawarkan kerja sama, tapi sampai sekarang belum terealisasi. Padahal katanya, janji pemerintah pusat ingin kolaborasi sampai ke bawah,” ujarnya menutup perbincangan.

KKMP Cemorokandang kini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi warga masih hidup. Dari pupuk, air, hingga layanan digital, koperasi kecil ini menanamkan harapan baru. Ekonomi rakyat bisa tumbuh jika diberi kesempatan dan dukungan nyata. (Benni Indo)

Sumber: SuryaMalang
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved