Selasa, 19 Mei 2026

Nasib Guru Honorer Malang Raya

Jam Mengajar Guru Honorer Lebih Banyak dari Guru ASN, Seminggu Ngajar 33 Jam

Waktu sampai 31 Desember 2026 akan menjadi masa paling mendebarkan bagi guru honorer.

Tayang:
SURYAMALANG.COM/Purwanto
MENGAJAR BIMBEL - Guru honorer, Chori Elisa mengajar bimbingan belajar (Bimbel) di rumahnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jumat (15/5). Chori Elisa merupakan guru honorer di SDN 1 Tlogosari yang terdampak isu penghapusan tenaga honorer oleh pemerintah pusat. 

Ringkasan Berita:
  • Pemerintah belum memberi kepastian nasib guru honorer setelah 31 Desember.
  • Guru honorer mengajar antara 27 jam sampai 33 jam pelajaran per pekan.
  • Penghapusan guru honorer untuk menata sistem penerimaan guru.

 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Waktu sampai 31 Desember 2026 akan menjadi masa paling mendebarkan bagi guru honorer.

Para guru honorer harus menunggu kepastian nasibnya setelah keluarnya Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) nomor 7/2026.

SE tertanggal 13 Maret 2026 ini menegaskan guru honorer masih boleh mengajar di sekolah negeri sampai 31 Desember 2026.

Namun sampai sekarang pemerintah belum memberi kepastian nasib guru honorer setelah 31 Desember.

Meskipun pemerintah menegaskan tidak akan melakukan pemutusah hubungan kerja (PHK) secara massal, para guru honorer masih mengkhawatirkan nasibnya.

"Saya belum tahu nanti guru honorer benar-benar dihapus, diberhentikan, atau ada kebijakan baru seperti Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)," kata Muftikhatul Bidri Samsiyah, guru honorer di SMAN 1 Tumpang, Kabupaten Malang kepada SURYAMALANG.COM, Sabtu (16/5).

Bidri sempat mengikuti uji kompetensi guru tidak tetap (GTT) yang digelar Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Timur (Jatim) pada awal Mei lalu. Sampai sekarang Bidri belum mengetahui tujuan dari uji kompetensi tersebut.

Bidri mengungkapkan uji kompetensi tersebut terdiri dari Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) layaknya seleksi CPNS.

"Tapi pemberitahuannya mendadak. Saya dapat pemberitahuan pada Minggu (3/5), sedangkan tes digelar via Zoom pada Selasa (5/5)," terangnya.

Meskipun status pekerjaan tidak pasti, Bidri tetap menjalani profesinya dengan mengikuti aturan yang berlaku. Bidri tidak ingin terlalu larut dalam kecemasan.

"Mengalir saja. Kalau nanti ada perubahan kebijakan, ya diikuti. Kita kan memang harus mengikuti aturan. Selain mengajar, saya juga jualan hijab online dan memberi les privat," ujarnya.

Menurut Bidri, ada 10 guru honorer di SMAN 1 Tumpang yang belum diangkat menjadi PKWT maupun PPPK. Sebenarnya sebagian guru honorer sudah mengikuti seleksi PPPK.

"Tapi ada yang masa Data Pokok Pendidikan (Dapodik)-nya kurang beberapa bulan," jelasnya.

Saat ini lulusan Jurusan Biologi murni UIN Maulana Malik Ibrahim ini mengajar Biologi dengan total 18 jam pelajaran per pekan. Karena keterbatasan tenaga pengajar, kemungkinan Bidri akan mendapat jam mengajar sampai 24 jam pada semester berikutnya.

Sumber: SuryaMalang
Halaman 1/2
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved