Berita Malang Hari Ini
Kisah Relawan MPA, Sempat Bermalam di Hutan untuk Memadamkan Karhutla Bromo
Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tengger Bromo Semeru (TNBTS) kini sudah padam.
Penulis: Luluul Isnainiyah | Editor: rahadian bagus priambodo
SURYAMALANG.COM, MALANG - Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Tengger Bromo Semeru (TN BTS) kini sudah padam. Padamnya api di kawasan Bromo ini tak lepas dari tangan pera petugas gabungan serta relawan.
Mereka berjibaku dengan api selama berhari-hari, sejak Bromo dikabarkan terbakar tanggal 6 September 2023.
Beberapa warga dan relawan di kawasan TN BTS juga turut andil untuk memadamkan api yang semakin hari semakin meluas dan membakar sebagian padang savana.
Bahkan, selama proses pemadaman, TN BTS harus ditutup selama delapan hari. Kini, wisata alam tersebut telah dibuka kembali.
Hari pertama dibukanya TN BTS, Selasa (19/9/2023) masih terlihat sedikit pengunjung. Pengunjung kali ini tak banyak seperti sebelum kejadian kebakaran.
Meskipun belum banyak pengunjung, namun dengan dibuka kembalinya TN BTS menjadi kebanggaan tersendiri bagi Suhartono. Ia adalah anggota relawan dari Masyarakat Peduli Api (MPA).
Kala itu, Suhartono tengah duduk di sebuah kursi kayu tepat berada di depan Pos Jemplang. Ia duduk dengan melihat pengunjung berdatangan melintasi pos.
"Sekarang kondisi Bromo sudah benar-benar padam. Terakhir padam ya kira-kira dua hari yang lalu," ungkap pria yang biasa disapa Pak Brengos.
Brengos juga menjadi saksi atas terbakarnya ribuan hektar padang savana Bromo
Dia mengaku selama berhari-hari selalu terjun ke lokasi kebakaran. Dengan alat seadanya, ia tak pernah putus asa untuk memadamkan api.
"Saya dan teman relawan lain setiap hari di lokasi, terus lakukan pemadaman api. Ya meskipun cuma pakai alat seadanya," terang bapak tiga anak tersebut.
Brengos bercerita, untuk menuju ke titik api harus melalui medan yang cukup terjal. Belum lagi, lokasi yang ditempuh begitu jauh.
Bahkan untuk menuju ke puncak Bromo kurang lebih ia harus berjalan sejauh 10 kilometer.
"Jalan kaki jauhnya 10 kilometer. Kira-kira ya tiga jam perjalanan. Perginya pagi pulangnya bisa sampe malam," paparnya.
Tak jarang, ia juga harus menginap di hutan ketika hari sudah gelap. Di usia yang sudah tak muda lagu, ia harus tidur di hutan tanpa alas dan tenda dengan barang bawaan seadanya.
Polemik Beli LPG 3 Kg di Distributor, Pemilik Pangkalan di Kota Malang sampai Bingung |
![]() |
---|
UMKM Kota Malang Tak Peduli Harga Mahal, Yang Penting LPG 3 Kg Selalu Ada |
![]() |
---|
Polemik Beli LPG 3 Kg di Pangkalan, Warga Kota Malang: Kebijakan Jangan Bikin Repot |
![]() |
---|
Bisnis Akademi Wirausaha Mahasiswa Merdeka UB Malang, Maggot Jadi Pakan Kucing dan Busana Big Size |
![]() |
---|
Puluhan Napi di Lapas Malang Lolos Kompetensi, Diwisuda Jadi Guru Al-Quran |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.