Opini

Menyembunyikan Bola Salju, Bercermin Pada Kasus Sertifikasi K3

Dalam organisasi, kita sering mendengar istilah snowball effect: masalah kecil yang dibiarkan terus menggelinding, membesar, hingga menjadi bencana.

Editor: iksan fauzi
Tribunnews/Jeprima
JADI TERSANGKA - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer alias Noel bersama tahanan lainnya mengenakan rompi orange dan tangan terborgol berjalan menuju ruang konferensi pers di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta Selatan, Jumat (22/8/2025). KPK menetapkan Noel beserta 10 orang lainnya menjadi tersangka usai terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar pada 20-21 Agustus 2025. Noel ditangkap di Jakarta terkait dugaan pemerasan terhadap sejumlah perusahaan dalam pengurusan sertifikasi K3. Selain itu, KPK juga menyita 22 kendaraan dari operasi senyap yang dimaksud. 

Kepercayaan publik runtuh, sementara institusi pun tidak berfungsi optimal.

Refleksi bagi Organisasi

Kasus sertifikasi K3 di Kementerian Ketenagakerjaan memberi kita pelajaran mahal bahwa menyembunyikan bola salju sama saja dengan menyiapkan longsor di kemudian hari.

Oleh karena itu transparansi tidak boleh berhenti sebagai jargon, melainkan harus hadir sebagai mekanisme nyata agar bola salju tidak disembunyikan. 

Pengawasan tidak cukup ada di atas kertas, tetapi harus hidup dalam tindakan.

Kepemimpinan sejati bukan sekadar visi besar atau pencitraan publik, melainkan ketegasan dalam menjaga integritas internal.

Fenomena bola salju yang disembunyikan tidak hanya terjadi di kementerian.

Situasi serupa bisa muncul di organisasi masyarakat, lingkungan akademik, hingga perguruan tinggi.

Mekanismenya sama: pengawasan hanya menjadi formalitas, pemimpin berlindung dengan alasan tidak tahu, pengawas memilih menjaga stabilitas, dan lingkungan sekitar membiarkan.

Dari sini kita belajar bahwa organisasi sehat bukanlah organisasi tanpa masalah, melainkan organisasi yang berani jujur menghadapi masalah sejak dini.

Organisasi yang berani membuka luka kecil sejak awal sesungguhnya sedang menyiapkan dirinya untuk lebih sehat.

Keterbukaan dan kejujuran adalah nafas dari semua amanah, menjaga bangunan agar tidak retak di dalam.

Untuk keluar dari lingkaran ini, dibutuhkan keberanian.

Pemimpin dituntut berani menghadapi persoalan tanpa menundanya, pengawas berani menegakkan akuntabilitas tanpa ragu, dan setiap anggota organisasi berani menjaga integritas dengan tidak larut dalam budaya pembiaran.

Keberanian menegakkan kebenaran bukan hanya menyelamatkan struktur organisasi, tetapi juga menghadirkan keberkahan yang menguatkan langkah.

Pada akhirnya, ketulusan menjaga integritas adalah jalan agar sebuah organisasi tetap kokoh, bermanfaat, dan bermartabat.  

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved