Berita Pasuruan Hari Ini

Kisah Dugaan Mafia Hukum PN Bangil Pasuruan, Rela Jual Rumah demi Vonis Ringan Tapi Kecewa

Kr, warga Candiwates, Prigen diduga menjadi korban mafia keadilan setelah upayanya membantu meringankan ancaman hukuman keponakannya MGF gagal. 

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Dyan Rekohadi
TRIBUNBANYUMAS.COM
ILUSTRASI 

SURYAMALANG.COM , PASURUAN  - Kisah dugaan adanya mafia hukum di Pengadilan Negeri (PN) Bangil diungkap salah satu pihak keluarga terdakwa,

Kr, warga Candiwates, Prigen diduga menjadi korban mafia keadilan setelah upayanya membantu meringankan ancaman hukuman keponakannya MGF gagal. 

Keponakannya yang terjerat dalam kasus dugaan peredaran narkoba ternyata masih mendapatkan putusan pidana yang cukup tinggi jauh dari harapan keluarga.

MGF, keponakannya tetap dijatuhi hukuman oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bangil 10 tahun.

Vonis ini 4 tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa. 

Kepada Suryamalang.com, Kr mengaku sudah menyetorkan sejumlah uang ke salah satu advokat yang merupakan bagian dari Pos Bantuan Hukum (Posbakum) PN Bangil.

“Saya awalnya itu ketemu sama beliau (advokat) setelah diberitahu pak hakim bahwa keponakan saya ini ancaman hukumannya tinggi,” katanya, Selasa (4/6/2024).

Karena ancamannya tinggi, kata dia, hakim memerintahkan keponakannya didampingi advokat.

Oleh karenanya, hakim menunjuk salah satu advokat di Posbakum.

“Dan saya disarankan untuk menemui salah satu advokat. Saya ketemu setelah sidang pertama keponakan saya di kantor Posbakum itu,” jelasnya.

Dari pertemuan itu, Kr menyebut, advokat dari Posbakum menyatakan bahwa ancaman hukuman keponakannya ini cukup tinggi, bahkan bisa sampai dihukum mati.

“Saya kan tidak tahu tentang hukum ya , jadi saya pulang saya sampaikan ke orang tua saya atau mbahnya MGF tentang kondisi itu,” jelasnya.

Ia mengakui, semua keluarga besarnya pun panik mendengar penjelasan ancaman MGF ini tinggi karena barang bukti yang diamankan juga besar.

"Keponakan saya ini kan yatim piatu. Sejak kecil, dia ditinggal ayahnya menikah lagi, dan sebelum masuk SMA, adik saya atau ibunya meninggal karena sakit," terangnya.

Praktis, kata dia, MGF ini hidup sebatang kara hanya dengan saudaranya, tanpa orang tua. Makanya, ia kurang mendapatkan perhatian.

Halaman
1234
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved